Mohon tunggu...
Cahyaningsih Humendru
Cahyaningsih Humendru Mohon Tunggu... Mahasiswa - Saya masih mahasiswa

Hallo

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Filsafat di Era Yunani

23 Mei 2024   07:59 Diperbarui: 23 Mei 2024   08:06 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g189398-i418633401-Greece.html

Di awali dengan gambar "burung hantu" yang merupakan minerfa (bahasa latin) atau lambang kebijaksanaan. Maka berbicara di awal filsafat yunani kita akan mendengar kaum "Phusikoi"(Fusis= alam, kodrat, natural/ natural filosofi). Yunani menjadi tempat awal dimana munculnya filsafat secara kronologis dan untuk pertama sekali orang mulai berspekulasi mengenai alam, Tuhan, adat kebiasaan, politik secara rasional.

Filsafat Yunani secara kronologis dimulai pada abad ke-7 Sebelum Masehi sampai abad ke-6 setelah masehi (529).Kapan sebenarnya filsafat Yunani itu muncul, ada banyak perdebatan. Dari sumber teks banyak yang berkesimpulan bahwa filsafat yunani dimulai di Miletos dan orang yang memulainya adalah Thales. Dialah orang yang pertama sekali berspekulasi bahwa kodrat/inti segala sesuatu adalah air.

Miletos sendiri merupakan daerah yang berada di Asia Minor. Kota ini menjadi penting saat ini karena kemajuan ekonomi karena pada waktu itu daerah ini berada di bawah pengaruh Persia, tetapi miletos merupakan sebuah polis yang otonom. Di samping itu kedekatannya dengan ilmu-ilmu (Geometri, matematika dan astronomi), sudah berkembang di daerah Persiadan Babilonia. 

Bukti yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dan lahir di Yunani, pertama-tama mesti dilihat pada saat munculnya demokrasi sekitar abad 6 MS dan stabilisasi polis-polis yunani. Di dalam kultur politik itulah lalu kita tahu bahwa orang semakin mengerti tentang pentingnya logos (pikiran), pentingnya berbicara, pentingnya argumentasi di majelis-majelis dan pentingnya konservasi teks/argumen sehingga perputaran tulisan dan ide itu sudah dimulai.

Kalau berbicara tentang inti warisan dari filsafat yunani, tentu saja yang dimulai dari Thales, kita diajak untuk berpikir menggunakan ratio/logos (tentu tanpa meninggalkan mitos karena mitos akan selalu hadir di dalam teks-teks filsafat yunani hingga di zaman Plotinus). Filsafat dimulai dengan rasa heran dan kagum. Kagum artinya kita membiarkan diri di interplasi oleh sesuatu di luar diri kita. Maka pada saat kita disergap oleh rasa kagum (melihat bintang-bintang dan alam yang luar biasa), biasanya orang akan merasa bingung/bodoh. Maka filsafat adalah cara orang untuk menghindarkan diri dari ignorantia (dari kebodohan). Maka ketika kita bingung, kita akan mulai berpikir, bertanya dan menjawab.

Aristoteles berkata, hanya orang-orang yang bebas yang bisa memiliki waktu luang untuk bisa merasa kagum, merasa dia bodoh lalu memiliki waktu luang untuk mencari dan mencoba menjawab. Artinya apa, artinya bahwa semua kebutuhannya sudah terpenuhi. Dengan kata lain bahwa secara ekonomi ia mapan, makan minum sudah terpenuhi oleh budak dan kaum wanita. dengan kata lain, hanya orang-orang merdeka yang mampu berfilsafat dan menikmati sebuah ilmu yang bebas kepentingan. Sebuah ilmu yang tidak ditundukkan pada praktis apapun, yang tidak untuk cari makan, tetapi ilmu demi kenikmatan ilmu itu sendiri.

Ia juga berkata bahwa filsafat itu adalah rekreasi untuk melewati waktu saja. Maka kata "Scole" yang kemudian berubah menjadi kata sekolah, ecol, scholl dalam arti yang sesungguhnya adalah waktu luang. Jadi orang yang bersekolah adalah orang yang memiliki waktu luang.

Kaum pra-sokratik pada dasarnya membiarkan diri dirasuki oleh rasa kagum itu. Namun rasa kagum dan heran mereka ialah tentang "Kemenjadian" (semuanya kok berubah). Contohnya ada anjing yang dulu kecil kemudian menjadi tua lalu mati. Maka kaum pra-Sokratik lewat perubahan-perubahan ini kemudian bertanya tentang apa unsur yang tidak berubah. Mereka yakin bahwa ada sesuatu yang tetap dan tidak berubah di dasar proses kemenjadian yang terus-menerus teramati. Maka mereka yakin bahwa perubahan itu justru akan bisa terjadi kalau ada sesuatu yang memungkinkan perubahan itu (ada yang tetap). Dan yang tetap itu mereka sebut sebagai fusis.

 Fusis dalam bahasa inggris diartikan sebagai "naturale", dalama bahasa latin "natura",yang tentu bagi kita akan diartikan sebagai kodrat segala sesuatu. Jadi fusis alam semesta berarti inti alam semesta. Namun istilah kodrat, fusis dan natura adalah sebuah prinsip yang dinamis yang merujuk pada prinsip awal yang menemani proses perkembangan sampai terakhirnya. Seperti yang akan kita lihat dalam pandangan thales, dimana dia berpendapat bahwa awal segala sesuatu adalah air. Artinya Air yang menjadi dasar dan awal dan selama hidup ini kita ditopang oleh air dan setelah kita mati, kita akan menjadi air.

 Fusis dimengerti sebagai apa yang berkembang dari dirinya sendiri (tanpa ada bantuan dari orang lain/ bukan buatan tangan). contohnya ialah biji mangga, sesudah mati ia akan menjadi pohon mangga. Kalaupun kita mulai mencampuradukkan biji mangga itu dengan berbagai hal, ia pasti tidak akan berkembang sebagai mana prosesnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun