Mohon tunggu...
Candrika Adhiyasa
Candrika Adhiyasa Mohon Tunggu... Orang biasa

pelamun, perokok, kurus, agak kepala batu, penikmat sastra terjemahan dan filsafat. Instagram dan Twitter @candrimen

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Larilah, Annemarie!

4 Mei 2020   21:01 Diperbarui: 5 Mei 2020   23:19 375 17 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Larilah, Annemarie!
Ilustrasi. | Audrey Hepburn (weheartit.com)

Anne harus terus berlari. Bila ia berhenti berlari, maka ia akan bernasib sama seperti kedua orang tuanya. Ia sama sekali tak tahu menahu alasan kenapa kedua orang tuanya harus diperlakukan sedemikian rupa. 

Meskipun ia tahu alasannya, ia tetap tak akan bisa menerima kenyataan itu. Kenyataan bahwa kedua orang tuanya ditembak mati oleh serdadu-serdadu tanpa wajah yang tak dikenalnya.

Sudah beberapa jam Anne berlari dan terus berlari. Ia tak memiliki tujuan ke mana hendak berlari, dan tampaknya ia memang tak memerlukan tujuan. 

Satu-satunya yang ia ingat adalah pesan dari kedua orang tuanya—yang disampaikan dengan berlinang air mata—bahwa Anne harus terus berlari. Menjauh dari tempat itu, menjauh dari tempat di mana kedua orang tuanya meregang nyawa oleh peluru-peluru yang keluar dari senapan laras panjang itu.

“Larilah, Anne! Larilah sejauh mungkin!” teriak ibunya dengan suara melengking.

“Larilah, Annemarie! Tidak ada tersisa di sini selain iblis-iblis tak berperasaan. Larilah, Annemarie!” teriak ayahnya dengan suara parau.

Anne gundah. Anne gelisah. Anne menggigil ketakutan, seluruh tubuhnya gemetaran. Ia tak ingin meninggalkan tempat itu, atau tepatnya tak ingin meninggalkan kedua orang tuanya. Namun, kenyataan memburunya dengan ketakutan tak terperikan. 

Anne harus berlari dan terus berlari. Sebisa mungkin tanpa menoleh, apalagi berhenti. Ia harus terus berlari meski rasa lelah melumuri seluruh sendi-sendi di tubuhnya. Ia harus terus berlari meski rasa takut merongrong kesadarannya. Ia harus terus berlari, tak peduli apa pun alasan yang menahannya untuk berlari.

Setelah berlari cukup jauh, Anne tiba-tiba teringat pada liontinnya. Ia segera meraba lehernya. Liontin itu tidak ada di sana. Anne ingat pesan ibunya dahulu kala ketika memberikan liontin itu di ulang tahunnya yang keenam.

“Berjanjilah untuk menjaga liontin ini dengan jiwa ragamu,” ucap ibunya dengan suara yang hangat.

“Anne berjanji, Bu.”

Namun kini, liontin itu tidak ada di lehernya. Hilang. Perasaan Anne yang semula gelisah kini semakin semerawut. Seperti benang kusut yang seolah mustahil bisa diurai. Anne lemas, ia merunduk. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Keringat membasahi keningnya, mengalir dari pelipis hingga leher. Tengkuknya basah, matanya basah.

Liontin itu, konon menurut dongengan ibunya yang disampaikan nyaris setiap menjelang tidur, merupakan peninggalan berserajah keluarga mereka. 

Liontin itu terbuat dari batu onyx yang berwarna gelap keungu-unguan yang meskipun gelap tetap mampu memancarkan cahaya yang berkilau. Liontin itu sudah bertahan selama beberapa generasi, diturunkan dari garis ibu, hingga akhirnya kini diberikan kepada Anne. 

Saat mengingat dongengan ibunya mengenai liontin itu dan penekanan mengenai betapa berharganya liontin itu bagi keluarganya, Anne semakin merasa bersalah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x