Mohon tunggu...
Candrika Adhiyasa
Candrika Adhiyasa Mohon Tunggu... Guru - Orang biasa

pelamun, perokok, kurus, agak kepala batu, penikmat sastra terjemahan dan filsafat. Instagram dan Twitter @candrimen

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Percakapan tentang Taman Eden

18 Januari 2020   21:04 Diperbarui: 22 Januari 2020   18:45 359 6 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi (pxhere.com/Boris Thaser)

Malam Pertama | Semesta Bawah Tanah Dostoyevsky
Di bawah atap kafe, aku menyeruput sendirian Vietnam Drip yang rasanya begitu standar. Tak bisa kuuraikan bagaimana rasa yang di atas standar atau di bawah standar kopi ini. Setiap orang punya standar terhadap sesuatu.

Kajian tentang rasa terlampau abstrak, dan aku tak mau terjebak dalam dialog ambigu tak berujung. Mengalun Eyolf Dale, Taplow. Aku tenggelam pada gubahan partitur musik serta teks-teks dalam buku yang tengah kubaca.

Cahaya lampu kuning yang remang, asap rokok yang berkelebat, riuh suara-suara manusia dari ujung ke ujung jalan raya. Kutengok arloji, malam masih begitu panjang.

Aku tak begitu khawatir pada hari esok, sebagian temanku (kalau aku memang punya teman) akan berkata dengan penuh alegori yang intinya adalah aku hanya seorang pengangguran, pemalas tak berguna. Aku tak terlalu peduli.

Satu-satunya hal yang kupedulikan adalah kebahagiaanku sendiri. Apakah aku egois? Tentu saja tidak. Mereka yang seolah berusaha keras membahagiakan orang lain sebenarnya hanya sedang melakukan tindakan politis. Suatu kedok kearifan yang kelak dijadikan batu lompatan apabila telah tiba waktunya.

Lalu kutimbang-timbang kembali, ke manakah kita akan pergi di hari esok yang seringkali kita khawatirkan itu? Tak seorang pun bisa memberi jawaban yang pasti. Aku tahu betul, tak seorang pun memiliki kebenaran, tak seorang pun.

Seorang lelaki yang kelak kuketahui namanya adalah Fyodor duduk di dekatku. Sebenarnya aku selalu tak nyaman apabila ada orang lain yang dekat-dekat denganku, apalagi bila sebenarnya masih banyak kursi kosong yang tersedia.

Dari sekian banyak tempat, kenapa ia harus memilih tempat yang menyita keleluasaan jiwa seseorang sepertiku? Setelah kegelisahan ringan itu perlahan reda, Fyodor memesan Americano, kemudian tiba-tiba berbicara.

"Apakah di surga ada Americano?"

Aku tak langsung menjawab. Kupikir ia mabuk, meski sorot matanya tak terlihat seperti orang mabuk. Kalau begitu, dia pasti orang gila---orang yang pikirannya melayang jauh ke semesta antah berantah.

"Mungkin di sana tak ada Americano, tapi yang ada adalah Luwak," jawabku sembari tetap membaca buku kumal yang kubaca sejak tadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan