Mohon tunggu...
Analgin Ginting
Analgin Ginting Mohon Tunggu... Human Resources - Saya seorang pencinta kemanusiaan, suka berbagi untuk kebaikan bersama

Regenerasi dari akun Kompasiana sebelumnya.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Film "Ngeri Ngeri Sedap" Tidak Sekedar Hiburan, tapi Sebuah Subjek Pembelajaran

4 Agustus 2022   15:21 Diperbarui: 4 Agustus 2022   18:33 1072
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Suatu saat saya diundang oleh persekutuan kaum ibu di gereja kami.  Thema pertemuan pada saat itu, bagaimana meningkatkan peranan orang tua dalam membangun karakter anak, dengan perbandingan Film Ngeri Ngeri Sedap.   Saya merasa sangat tertantang sekali mempersiapkan acara ini, karena topiknya sangat menarik apalagi jika menjadikan  film Ngeri Ngeri  Sedap yang "meledak" itu diangkat sebagai perbandingan. 

Saya katakan meledak, karena sudah lebih dua bulan Film Ngeri Ngeri Sedap ini tayang di bioskop di seluruh Indonesia, dan jumlah penonton sudah melewati 2.800.000 orang.  Wooow suatu pencapaian yang sangat luar biasa, dari satu film yang mengangkat thema kehidupan satu suku bangsa di Indonesia.

Dan ketika saya melakukan persiapan sambil mengingat ingat adegan film Ngeri Ngeri Sedap, saya menemukan beberapa hal yang cukup mengejutkan dan juga menjadi sumber pembelajaran.  Beberapa diantara nya adalah : 

Pemilihan Judul "Ngeri Ngeri Sedap" . Mengapa ini judulnya dan dimana letak ngeri ngeri namun sedapnya?   Rupanya penerapan strategi "pura pura bercerai" itu lah yang membuat film ini akhirnya menetapkan judulnya.  Karena bagi orang Batak, termasuk Batak Karo sangat jarang ada perceraian.   

Sekalipun sudah memuncak pertikaian atau konflik antara suami dan istri maka tidak pernah sampai kepada perceraian.  Karena banyak sekali perangkat dalam adat, atau dalam agama yang akhirnya mendamaikan suami dan istri yang sedang bertengkar.   Saya pribadi punya pengalaman mendamaikan kembali tiga pasang yang mengalami konflik diawal perkawinannya dan sudah siap bercerai.  Pendekatan yang saya lakukan kala itu adalah pendetakan adat dicampur dengan nilai nilai agama.  Saat ini ketiga pasang itu hidup rukun sekali.  

Jadi memilih strategi pura pura bercerai, cukup riskan.  Barangkali Sutradara Bene Dion Rajagukguk sendiri pun pada awalnya merasakan ngeri ngeri juga tentang thema perceraian ini.  Sebab bisa saja tidak diterima oleh komunitas Batak (seperti Film Naga Bonar, yang sukses dimana mana kecuali di Sumatra Utara).   Namun akhirnya, Sedap.  Seluruh Crew Film ini, Pemain, Sutradara, Produser  merasakan sedapnya sekarang.  Sebab 2.812.606 orang penonton sampai diberitakan tanggal 12 Juli, sungguh angka yang fantastis.

Saat saya di depan persekutuan kaum ibu di gereja kami GBKP Graha Harapan Bekasi, saya tanya kepada sekitar 50 orang peserta siapa yang sudah menonton film  Ngeri Ngeri Sedap?  Hampir semuanya mengangkat tangan.  Hanya sekitar 2 atau 3 orang yang tidak angkat tangan tanda belum menonton.  Saya tanya lagi siapa yang sudah lebih sekali menonton?  Ada dua orang ibu yang mengangkat tangan.  Woow.  Lalu saya tanya lagi, siapa yang acting nya paling berkesan ?  Hampir semua ibu ibu mengatakan dengan lantangnya, "Tika Panggabean".

Sumber photo : https://travel.okezone.com/

Ketika saya lebih dalam bertanya, apa yang bisa dipelajari dari tokoh ibu, yaitu Tika Panggabean,  Maka secara silih berganti ibu ibu menjawab.

  • Setia
  • Tegas
  • Penuh Kasih Sayang kepada anak anaknya. 
  • Tidak memarahi suami (saat mencari suaminya ke lapo, dia hanya menatap suaminya tidak berkata kata)  
  • Mau menuruti arahan suami untuk berpura pura cerai dan berpura pura mesra sepulang dari lapo, dan di tengah jalan berpapasan dengan pendeta. 
  • Tidak sekedar mengalah ketika merasa tidak cocok dengan suaminya, dia pulang ke rumah orang tuanya. Dan dari sana dia memberi instruksi kepada suaminya, sebagai syarat dia mau rujuk lagi. 


HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun