Wisata Pilihan

Inilah "Sunrise" Terbaik!

14 Februari 2018   02:05 Diperbarui: 14 Februari 2018   08:35 539 0 0
Inilah "Sunrise" Terbaik!
Inilah Sunrise Terbaik! (Dokumentasi Pribadi)

Naik gunung atau trekking merupakan aktivitas traveling yang berat. Statement yang paling sering terdengar adalah "Ngapain sih capek-capek naik gunung? Udah naik, mesti turun lagi."

Saya selalu tertawa mendengar kalimat itu yang sayangnya tidak membuat saya kapok. Karena capek itu sudah pasti. Selain jalur yang panjang dan terjal, barang yang dibawa tas carrier pun sangat banyak. Dan kali ini saya akan menceritakan barang-barang yang dibawa ketika mendaki ke Gunung Cikuray. Hal yang menurut saya termasuk dalam kategori primer untuk dibawa secara personal adalah sebagai berikut:

  1. Kamera, karena saya senang landscapes photography.
  2. Headlamp, selain berguna untuk trekking malam hari, bisa juga untuk penambahan cahaya saat memotret milky way.
  3. Raincoat, ini penting sekali karena cuaca di gunung tidak pernah bisa diprediksi.
  4. Dan yang terakhir P3K, ini paling utama saat naik gunung. Apalagi sepanjang jalur pendakian sangat curam dan menanjak. Biasanya yang paling penting itu seperti obat demam, obat maag, plester dan alkohol, serta obat pegal atau balsem. Karena biasanya aktivitas mendaki dapat menyebabkan otot tegang di bagian leher, pundak, lengan dan kaki.

Kali ini saya akan membahas Gunung Cikuray yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Kecamatan Cikajang, Dayeuh Manggung dan Bayongbong.

Ada tiga jalur pendakian Gunung Cikuray yang bisa dilalui, yaitu via Cikajang, Bayongbong, dan Pemancar  di Cilawu.

Pemancar sendiri merupakan jalur yang paling sering dilalui oleh para pendaki. Selain jalurnya yang terkenal ramah, juga paling mudah dalam urusan transportasi.

Namun meski demikian, ini adalah jalur terpanjang. Sehingga waktu yang dibutuhkan relatif lebih lama. Rata-rata pendaki mencapai puncak Cikuray membutuhkan waktu kurang lebih 8 jam. Tergantung lamanya beristirahat, serta kecepatan perjalanannya.

Lepas dari Pemancar, petualangan baru dimulai. Setapak demi setapak trek perlahan menanjak. Perjalanan melewati kebun teh di Pemancar sekitar 30 menit. Setelah itu baru memasuki hutan yang teduh. Diluar musim hujan, kondisi tanah masih terlihat gersang bila ditapaki.

Dari mulai pos 1-8 jalur yang dilalui selalu membuat dagu dan lutut saya beradu karena saking menanjaknya.

Napas saya sudah tak bisa dipacu dengan teratur lagi, ditambah kaki ini yang semakin keram dan lelah. Tepat pukul enam sore saya dan kawan-kawan sampai di pos terakhir untuk mendirikan tenda. Biasanya di malam hari para pendaki saling bertukar cerita sambil menyeruput kopi hangat sebelum beristirahat di dalam tenda masing-masing.

Esok paginya kami menanjak kurang lebih hanya lima menit untuk ke atas puncak gunung. Dinginnya udara tak menghalangi harapan kami untuk sampai puncak di atas. Mengawali hari dengan pagi yang tenang. Damainya suasana pagi di ketinggian 2821 mdpl membuat saya semakin merasa diberkahi oleh sang pencipta. 

Saya pikir sudah tak ada lagi yang diinginkan, selain mensyukuri apa yang telah saya miliki di dunia ini. Tuhan selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Hanya saja untuk mendapatkannya butuh perjuangan, usaha, dan doa. Maka jiwa pun akan mendapatkan kebahagian yang hakiki.  Itu yang saya tahu tentang kehidupan.

Terimakasih untuk perjalanan sederhana ini. Terimakasih Tuhan, tunggu saya diperjalanan selanjutnya.

Salam Lestari, Puncak Cikuray 18 April 2015