Mohon tunggu...
Bambang Wahyudi
Bambang Wahyudi Mohon Tunggu... Koki - Mahasiswa Universitas Siber Asia

Menulis apasaja dimanasaja

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Salam Pertama untuk Semua

18 September 2012   15:09 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:16 46 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

haha, dimulai denga sedikit tertawa kecil. ini mewakili perasaan hati, karena jika teringan saat dulu pernah melamar untuk moderator Kompasiana, dan banyak pertanyaan saat interview mengenai pengalaman menulis dan dunia jurnalis. Tapi sayangnya masih kurang beruntung, memang menulis adalah  salah satu hobby gw, tapi entah kenapa beberapa tahun ini sudah agak jarang menulis lagi. Mungkin jika sekalinya menulis bisa beberapa halaman terisi oleh jajaran kata-kata yang tak tau berapa jumlahnya.

Oke,langsung dimulai aja sebuah sapaan singkat dari gw. Kali ini berupa sebuah cerita sangat pendek pengalam pribadi yang baru-baru ini dialami.

Hari ini kamis,malam jumat. Seperti biasa gw pulang kantor,dan jakarta menyambut dengan kemacetannya. Inilah rutinitas para pekerja disaat sore menjelang malam hari. Gw pun masih asik dengan kebiasaan berjalan kaki mulai turun dari angkot sampai rumah.
Kapan gw jalan kaki dengan tenang dan tanpa polusi ya. Mungkin itu khayalan andai gw tinggal didesa. Jika khayalan itu di bawa ke kota besar seperti jakarta,maka leburlah semua khayalan itu.
Waktu udah ba'da maghrib pas ge sampe kalibata, waktu gw menyisir pinggiran trotoar, gw liat ada dua orang renta yg sedang jalan didepan gw. Sang wanita berjalan beriringan didepan seorang pria renta yg memegang tongkat kayu usang ditangannya. Pemandangan kontras jika gw menengok kesamping, puluha ln bahkan ratusan org sedang duduk nyaman didalam mobil-mobil mewah. Kenapa gw bilang mewah, karena bagi sebagian orang, harga dari mobil yg lalu lalang di jalan,mungkin bisa kenghidupi dirinya dan keturunannya kelak.

Langkah kaki gw mulai dipelankan,melihat dua orang renta didepan gw pun sedang berjalan dengan langkah yang berat. Mungkin hidupnya pun sudah berat, sekali lg gw dikasih tamparan untuk selalu bersyukur.

Agak lucu memang, kebetulan di tepi jalan juga terpampang spanduk dari salah satu petinggi yang membahas fasilitas rakyat. Ketawa dalam hati gw melihat dua hal kontras ini secara bersamaan.

Gw pun sadar,ini yang dinamakan "NO BODIES PERFECT".

Sepasang tubuh renta itupun terus berjalan, dan gw baru tau kalau sang pria renta itu tidak bisa melihat. Tapi didalam hati gw senyum ngeliatnya, kenapa gw senyum. Karena gw yakin cinta mereka adalah cinta tertulus yg gw liat langsung dengan kata gw.

Kali ini gw dapet pelajaran lagi tentang kesetiaan,dan saling menerima. Betapa beruntungnya gw,masih bisa dikasih banyak pelajaran hidup. Kali ini hanya dari sepasang orang tua renta yg gak sengaja gw temui di jalan.

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan