Mohon tunggu...
Zulkifli SPdI
Zulkifli SPdI Mohon Tunggu... Guru Bahasa Arab MAN 3 Solok

Hidup akan benilai dengan amal, manusia akan berharga dengan kemanfaatannya bagi orang lain

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Hafal Tanpa Paham

19 Februari 2020   15:12 Diperbarui: 19 Februari 2020   15:10 29 1 0 Mohon Tunggu...

*disclaimer, cerpen ini sudah lebih dulu dimuat di laman gurusiana penulis

Malam itu, hujan terus menerus turun tergopoh-gopoh seakan tak hendak kami meneruskan perjalanan dari rumah ke rumah untuk memanjatkan segenap do'a dan mengumandangkan takbir di sekeliling desa. Maklumlah, malam itu adalah malam takbiran Idul Fitri. Sementara itu, payung yang ada pun tampak kepayahan demi mencegah kami agar tidak kebasahan. Sesekali terlihat kaki salah seorang kami secara tak sengaja menerjang genangan air yang cukup dalam. Karena terkejut, dia pun melompat dan membuat baju koko putih Angku Imam sedikit basah.

"Maaf, Angku! Saya tadi tak melihat ada genangan air, sehingga saya reflek melompatinya." Sahut Udin. Seorang pemuda kampung yang terkenal alim. Berperawakan sedang dengan baju koko dan kopiah hitam di kepalanya. Tak lupa pula dia melingkarkan kain sarung di pundaknya. Celana panjang yang dipakainya pun sudah digulung setinggi betis.

"TT Dj ya, Udin!" Teriak Mak Sutan dari belakang. Pria paruh baya itu ternyata mahir juga menggunakan bahasa gaul khas anak mudah seperti Udin. Walaupun kepalanya sudah memutih, tapi jiwa mudanya masih merah menyala-nyala.

Kami berlima pun sampai di depan pintu sebuah rumah kayu sudah mulai menua dimakan usia. Satu persatu anak tangga kayu itu berderik-berderik menahan berat kami semua. Tak lama berselang, terdengar bunyi khas pintu kayu ditarik dari dalam oleh yang punya rumah. Mak Sulai namanya. Nama panjangnya sebenarnya adalah Sulaiman. Namun orang-orang di kampung itu biasa memanggilnya dengan Sulai saja.

"Silahkan masuk semuanya! , Wah... ternyata ada Angku Imam, Mak Sutan, Udin, Mak Itam dan Amir juga."  Mak Sulai menyambut para tamunya dan mempersilahkan masuk.

Setelah duduk dan berbincang-bincang sejenak, acara berdo'a bersama itupun dimulai. Kali ini Angku Imam membukanya dengan memimpin pembacaan Tahlil dan juga takhtim yang diikuti oleh segenap orang yang ada di dalam rumah tersebut. Sedangkan Mak Sutan dapat giliran untuk memimpin  pembacaan do'a.

Bibir Mak Sutan terlihat komat-kamit membacakan untaian do'a. Terlihat jenggot hitam putih di dagunya juga ikut berayun mengikuti gerakan bibirnya. Sesekali terdengar juga suara aamiinnya para hadirin.

Namun, pada suatu kali hanya ada beberapa orang yang mengucapkan aamiin setelah Mak Sutan membacakan do'anya. Terlihat Angku Imam, Udin, Amir dan juga Mak Itam yang duduk di sebelahnya diam saja saling pandang satu sama lain. Mak Sutan tampaknya tak menyadari hal itu, terus saja bibirnya melantunkan do'a-do'a yang telah dihafalnya.

Selesai berdo'a, Mak Sulai pun menghidangkan beberapa makanan khas kampung itu. Seperti rendang daging, gulai ikan, telur dadar sampai telur mata sapi. Tak terkecuali sambalado jengkol dan petainya. Semuanya pun makan dengan lahap. Mungkin karena sudah kedinginan karena kehujanan tadi. Jam di dinging pun ikut berdentang dengan agak keras. Salah satu ujung jarumnya yang berwarna hitam menunjukkan angka sebelas. Sedangkan jarumnya yang lebih panjang dan berwarna merah menunjukkan angka dua belas. 

Selesai makan, Udin pun mendapatkan giliran untuk mengumandangkan takbiran diikuti oleh yang lainnya. Suaranya terdengar merdu dan sangat menyentuh qalbu. Sesekali terdengar suara desahan Amir yang sepertinya sudah mulai terasa mengantuk karena kekenyangan. Maklum dia makan dengan sangat lahap sehingga nyaris saja makanan itu menyesakkan dadanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x