Mohon tunggu...
Bustamin Tato
Bustamin Tato Mohon Tunggu... -

Nama Lengkap Bustamin B, lahir di polewali mandar provinsi sulawesi barat anak ke tiga dari tiga bersaudara, pendidikan terakhir S1 teknik elektro/listrik di Universitas Muhammdiyah Makassar 2011, dan sekarang melanjutkan study 2013 di pascasarjana Universitas Negeri Makassar program studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. selain kuliah S2, aktif juga di salah satu organisasi yaitu Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP)Komite Kota Makassar

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Mahasiswa Dilarang Berambut Gondrong

15 Mei 2014   09:27 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:30 929 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oleh : Bustamin Tato

Sebenarnya artikel curhat ini pernah aku posting di blog saya pribadi tapi gak papa dan mengenai persolan rambut aku akan sedikit bercerita pengalaman, okay langsung saja. Mengenai dengan Rambut yang panjang sangat di identikkan dengan seorang perempuan dan rambut pendek sangat di identikkan dengan seorang laki-laki, pemikiran seperti ini, aku fikir, adalah sebuah pemikiran dimana adanya pemisahan dari dua kosa kata yang tak bisa dipisahkan satu sama lain, bayak sekarang yang kita dapat dan bahkan pada jaman sebelumnya kita bisa dapat menemukan seorang laki-laki yang rambutnya panjang (gonrong) melebihi rambut seorang perempuan danrambut yang pendek sangat bayak kita lihat di bayak perempuan yang di identikkan dengan rambut yang panjang.

Nah, mengidentikkan rambut yang gonrong/panjang kepada perempuan dan, mengidentikkan rambut yang pendek kepada laki-laki adalah sebuah pemikiran yang menurutku kurang tepat, karena hanya melihat dari sisisalahsatu kaum saja, tanpa melihat kaum yang lain (kaum perempuan dan laki). Pengelompokkan semacam ini sama halnya dengan pengelompokkan kaum kaya dan kaum yang miskin, dimana kaum kaya tadi, tidak akan kaya jikalau kaum miskin tidak ada, yang di eksploitasi oleh orang yang kaya.

Kembali kepada persoalan rambut panjang/gonrong denganrambut yang pendek, amat menarik memang kita mengkaji pemikiran seperti ini, meskipun banyak orang menilai ini hanyalah sebuah kata yang tak perlu kita kaji sampai keakar-akarnya. dalam sebuah ilmu filsafat, dansebagai landasan pemikiran manusia, kita, dapat mengkaji hal yang sangat simple ini. Tetapi, kita terhegemoni oleh pemikiran-pemkiran egoistic (hanya meliahat dari satu sisi objektivenya), preses hegemonisasi yang terjadi dalam sejarapemikiran manusia adalah sebuah landasan pemikiran yang sifatnya turun temurun pada keluarga dan dalam lingkungan masyarakat.

Dalam proses hegemonisasi yang banyak dilakukan dalam system pendidikan, dimana sekolah-sekolah atau perguruan tinggi (swasta maupun negeri) adalah sebuah legitimasi dalam melancarkan hegemoni yang sangat berpengaruh dalam pengkajian social, ekonomi, politik dan lain-lainnya. Nah kita sudah sampai pada pembahasan system pendidikan.

Didalam sebuah system pendidikan ada beberapa landasan pemikiran dan hal ini sudah menjadi sebuah peraturan untuk seorang siswa dan mahasiswa yaitu siswa dan mahasiswa laki-laki dilarang memelihara rambut sampai panjang dan perempuan dilarang memendekkan rambutnya, ada beberapa alasan kenapa pihak sekolah atau kampus membuat peraturan seperti itu, salah satu alasan meraka adalah karena rambut yang panjang bagi siswa atau mahasiswa dinilai tidak beretika, bermoral dan lain-lain dalam sebuah pendidikan yang diidentikkan amat sangat moralis meskipun menurut aku, itu hanyalah sebuah sifat yang tidak sesuawai dengan praktek moralis mereka.

Tujuan dalam sebuah pendidikan adalah untuk mencerdaskan siswa dan mahasiswa, moral, etika, itu tidak bisa berubah tanpa adanya hubungan antara lingkungan dan masyarakat dalam system pendidikan itu, bukan karena siswa dan mahasiswa itu berambut panjang dan perempuannya berambut pendek.

Mahasiswa yang panjang rambutnya atau gonrong tidak mempengaruhi kecerdasan seorang mahasiswa, untuk membuktikan hal seperti ini, kita bisa melihat dan membaca sebuah landasan teori yang banyak menjadi sebuah kurikulum dalam pendidikan hari ini. Dan melihat pengarang atau penemu-penemu teori tersebut, tidak ada salah satu kata yang aku dapat, melarang siswa dan mahasiswa dan peminat teoritik mereka itu tidak boleh berambut panjang dan perempuan dilarang memendekkan rambutnya.

Seorang mahasiswa dalam mencerdaskan diri mereka harus melalui praktek social mereka, bukan harus mengikuti apa yang disampaikan oleh dosen atau guru yang melihat siswanya atau mahasiswa berambut gonrong tidak akan dapat mengakses materi yang disampaikannya. Aku pikir bahwa proses mencerdaskan murid seorang pengajar itu melalui dan sesuai dengan potensionalime dari murid tersebut, nah, ketika kita dapat melihat dalam dan memajukan potensi/bakat dari murid tersebut itu baru dinamakan sebuah proses mencerdaskan mahaiswa atau siswa, bukan karena mereka berambut panjang sehingga menghalangi proses kecerdasana.

Nah, kesimpulan dari pemikiran aku yang belum tentu juga itu adalah sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa berubah, pemikiran yang dialektis tak ada yang atak berubah, baik perubahan secara positive maupun negative. Satu hal yang harus kita ketahui bahwa dalam sebuah porses mencerdaskan masyarakat jangan melihat dair penampilan mereka yang tidak sesuai dengan keinginan kita, tetapi tang harus dilihat adalah potensi dari yang kita ajari sebuah pendidikan baik pengajaran tentang ilmu sains, ilmu social, ilmu politik, ilmu ekonomik, dan ilmu-ilmu lain yang ada pada diri pribadi seseorang.

Rambut yang gonrong banyak orang menilai itu adalah sebuah penampilan seni, dan mangangap bahwa rambut yang gonrong sebagai penampilan yang menarik bagi diri pribadi seseorang.

Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan