Burhan Turnip
Burhan Turnip

Pemerhati isu-isu sosial

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Jurus Pengelola Mal di Hong Kong Bertahan Hidup

14 November 2017   10:50 Diperbarui: 14 November 2017   14:39 401 3 2
Jurus Pengelola Mal di Hong Kong Bertahan Hidup
Sumber: Harbour City/PR Newswire

Mal atau pusat perbelanjaan di sebagian kawasan Asia mendapat pukulan paling keras dari gelombang e-commerce. Salah satunya, Tiongkok. Di negeri Tirai Bambu itu, ruang belanja ritel di berbagai mal sekarang hanya mencapai 50%. Padahal, angka sebelumnya bisa berkisar 70-80%. Hal itu tertuang dalam riset DBS Vickers.  Tapi, bagaimana dengan kondisi di Hong Kong, salah satu surga belanja di Tiongkok, dan Asia secara umum? 

Ternyata, beberapa mal di Hong Kong sanggup memutar otak. Mereka berupaya mendatangkan kerumunan pengunjung. Harbour City, salah satunya. Baru-baru ini, mal terbesar di Hong Kong itu melansir sebuah fasilitas baru, yakni Ocean Terminal Deck. Fitur itu merupakan anjungan wisata yang digadang-gadang sebagai ikon baru Hong Kong. 

Tampilan kreatif dari objek ini berasal dari sentuhan firma arsitektur kelas dunia, Foster + Partners. Tak tanggung-tanggung, Harbour City membuka fasilitas ini secara gratis untuk umum. Meski gratis, pemandangan yang disuguhkan sungguh menakjubkan. Terbenamnya matahari menjadi daya tarik utamanya. Anjungan ini juga menghadap Victoria Harbour, salah satu bagian terpenting dari wilayah eks-koloni Inggris tersebut. 

Desain Canggih

Sumber: Harbour City/PR Newswire
Sumber: Harbour City/PR Newswire
"Ocean Terminal Deck" bukan hanya objek wisata yang menampilkan pemandangan 270 derajat, namun juga menjadi tempat bagi acara-acara yang menjadi tren. Fasilitas itu terdiri atas 2 tempat acara di luar ruangan (outdoor), seluas hampir 6.500 kaki persegi. Salah satu di antaranya merupakan halaman rumput alami sehingga para pengunjung bebas bertamasya. Selain itu, ada Grandstand, dengan kapasitas maksimum 200 orang, menghadap lokasi acara pertunjukan di luar ruangan yang akan menambah tempat bagi beberapa pertunjukan mendatang di Harbour City.

Kerja Sama dengan Instansi Pariwisata

Sebagai pemain lama pada industri properti Hong Kong, Harbour City, sang pengelola fasilitas ini, bekerja sama secara langsung dengan Hong Kong Tourism Board. Kedua pihak menghelat sejumlah rangkaian acara yang menyemarakkan objek wista terbaru ini. Ambil contoh, "Wine & Dine Festival", yang menghadirkan serangkaian kegiatan wine tasting.Ada pula acara tentang kecantikan, bertajuk "Sparkle & Shine". Lebih lagi, Harbour City akan bermitra dengan Foster + Partners dalam penyelenggaraan pameran arsitektur untuk gedung terbaru itu pada November 2017. 

Seluruh ide-ide kreatif tersebut menjadikan Harbour City sebagai mal yang betul-betul hidup dan melibatkan berbagai komunitasnya. 

Kuliner Dunia

Jika gerai ritel sepi dan harus bersaing ketat dengan layanan e-commerce, harapan untuk meramaikan suasan jatuh pada gerai makanan. Ya, wisata kuliner memang menyuguhkan keasyikan sendiri. Apalagi, restoran yang menghadirkan suasana baru. Di Harbour City, anjungan wisata terbaru ini dilengkapi dengan area bersantap di luar ruangan. Tak hanya itu, suguhan makanan yang ditawarkan juga berasal dari berbagai negara, misal Jepang, Italia, dan lain-lain. 


Sumber: Harbour City/PR Newswire
Sumber: Harbour City/PR Newswire

Pelajaran bagi Jakarta

Tentunya, pengalaman Harbour City ini menarik untuk dijadikan studi kasus bagi beberapa mal di Jakarta. Mal memang penuh sesak di ibukota Indonesia ini. Tapi, seberapa banyak yang benar-benar menyuguhkan sensasi dan suasana yang tidak generik? Jawabannya mungkin hanya terbilang dengan jari tangan saja. Pengelola mal di sini perlu belajar banyak dalam hal menyajikan berbagai fasilitas yang dekat dengan para pengunjung sehingga mereka tak jemu dengan suasana yang "itu-itu saja". Sebagai pemain properti, mal-mal di Jakarta perlu berpikir visioner dan menjadikan gedung serta fasilitasnya sebagai ikon kota yang baru.