Mohon tunggu...
Nanang Diyanto
Nanang Diyanto Mohon Tunggu... Perawat - Travelling

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri meski sering mengaku santri wakakakakaka

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Aman Menikmati Kuliner Kalimantan, Ketika Perjalanan (4)

19 Januari 2016   14:04 Diperbarui: 19 Januari 2016   14:28 201
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya penyuka kuliner, saya seneng makan, dan saya makannya banyak. Tapi untuk perjalanan jauh perlu berpikir dua kali untuk melakukan kesenagan tersebut. Perut saya sensitif, gampang mulas dan gampang diare. Tidak mudah dalam memilih makanan untuk saya telan. Sering kali nyaman di mata dan mulut namun perut tidak kompromi, seringkali 5-10 menit setelah makan harus celingak-celinguk mencari toilet. Mungkin ini kebiasaan jelek sedari kecil. Sering pilih-pilih makanan, salah yang jualan saja langsung cari toilet apalagi salah yang ditelan.

Sebagai contoh ketika makan di warung yang melayani ibunya yang ramah dan sudah terbiasa, suatu ketika ibunya berhalangan lalu digantikan anaknya yang kurang ramah meskipun lebih muda. Baru masuk warung saja sudah mual. Teman saya bilang ini masalah psikologis, ada lagi yang bilang ini bowl syindrom, ada pula yang bilang silit sumeh (pantat ramah).

Untuk hal itu saya lebih berhati-hati ketika melakukan perjalanan atau ikut ivent petualangan. Salah makan pasti akan dikeroyok oleh rekan-rekan sesama dalam perjalan karena mengganggu jadual yang telah ditetapkan.

Ketika pagi akan memulai perjalanan saya lebih memilih makanan yang ringan, nasi goreng bila terpaksa saja. Saya lebih menyukai sayuran atau lodeh, sop dengan bumbu yang minimalis. Meski saya penyuka makanan pedas dan berbumbu kental tapi saya tak mau ambil resiko memakannya dari pada berkali-kali harus mencari toilet.

Sebagai menu tambahan saya lebih meilih bubur putih (jenang sunsum) kacang hijau dan beras ketan seperti gambar diatas yang disedikan hotel Cantika Swara sebagai menu sarapan. Jenang ini mudah dicerna dan di perut terasa adem. Bisa untuk meredam nasi goreng yang saya lauk-i cah jamur kuping seperti gambar diatas.

Minum-pun saya lebih memilih teh hangat manis dibanding kopi, saya takut perut saya protes. Kalau ndak ada teh manis saya memilih es syirup melon dan makanan penutup seperti yang disediakan restoran hotel.

Alhamdulillah sepanjang perjalanan perut saya bisa menerima dan aman tanpa gelisah memandang toilet di sepanjang perjalanan.

Makan malam adalah ajang balas dendam, apapun yang disediakan pihak restoran hotel saya cicipi semua, tanpa terkecuali. Urusan ke belakang urusan belakangan paling tidak masih ada waktu semalaman bila terpaksa harus berkali-kali ke belakang.

Gulai Kakap Belu-belu begitu pihak restoran , ikanya lunak masih segar, rasa manis daging putihnya masih terasa, dibumbu minimalis seperti sop dan potongan buah-buahan segar sehungga sedikit terasa masam. Rasa sedikin masam ini menguntungkan karena bau amisnya hilang. Daun kemangi menambah kesegarannya.

Perlu berhari-hati makan ikan ini karena durinya tanjam dan mudah rontok, sekali salah membalik atau mengorek sisi daging akan terbuarai duri-duri ikan kakap tersebut.

Daun Kelor-Ketela dibumbu Padang, sekilas lucu karena ditempat saya daun kelor biasanya dipakai untuk prosesi memandikan jenasah. Daun ini direbus bersamaan dengan daun ketela selanjutnya diberi kuah seperti masakan padang, bumbu santal kental dan rempah-rempah yang melimpah. Luar biasa rasanya, terasa pala, cengkeh, dan khas masakan padang. Dan untuk lebih lengkap diberi tempe dan teri dimasak kering, ditumis sampai kering dengan bumbu manis pedas. Terinya terasa begitupula tempenya. Menambah komplit rasa ketika dipadu dengan Lodeh daun kelor-ketela dibumbu padang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun