Mohon tunggu...
Nanang Diyanto
Nanang Diyanto Mohon Tunggu... Travelling

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri meski sering mengaku santri wakakakakaka

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Cara Mengatasi Diare saat Berburu Blood Moon di Puncak Cumbri

29 Agustus 2018   06:45 Diperbarui: 31 Agustus 2018   14:14 0 2 1 Mohon Tunggu...
Cara Mengatasi Diare saat Berburu Blood Moon di Puncak Cumbri
Mendirikan tenda di puncak Cumbri untuk berlindung dari dinginnya udara

Sesuatu yang telah direncanakan lama dan matang bisa kacau bila kondisi badan tiba-tiba menurun. Kondisi badan pun tak bisa serta merta sehat dan fit selalu meski pola hidup sehat sudah diterapkan. Seringkali kejadian luar biasa datang tanpa bisa diprediksi.

Seperti saat fenomena gerhana bulan total disertai blood moon kemarin (28 Juli 2018). Jauh hari sudah persiapan alat, mulai dari peralatan kamera, tenda, pakaian untuk daerah dingin. Karena bulan Juli-Agustus kali ini cuaca sangat ekstrim, angin dan disertai suhu dingin. Di dataran rendah saja suhu dibawah 10 derajat kalau malam, dan di puncak Cumbri sekitar 0-2 derajat.

Puncak Cumbri adalah tujuan kami, berada di perbatasan Propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur kami pilih cocok untuk mengabadikan fenomena alam ini. Dari puncak gunung ini bisa leluasa mengambil angel untuk memotret. Dari tempat ini pula bisa menyaksikan kota di Jawa Timur daerah Ponorogo, Magetan, dan sebagian Madiun dari ketinggian. Begitupun bisa menikmati kerlap-kerlip lampu di wilayah Wonogiri Jawa Tegah yang mirip gugusan bintang di malam hari.

Jadwal persiapan sudah disepakati jam 14:00 kami berjanji berkumpul, namun hari itu saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Ada operasi darurat yang kebetulan molor selesainya. Saya menelepon pada rombongan supaya berangkat duluan, karena tak mungkin saya meninggalkan tugas utama.

Operasi pun tak bisa diprediksi hingga molor sampai menjelang azan isya. Saya menyerah tidak bisa ikut mendaki Cumbri, badan pun serasa limbung, pusing, mual, diare, tenggorokan kering, badan meriang, dan demam. Efek belum sempat makan, kecapaian dan terkena hempasan AC yang mengenai punggung selama operasi berlangsung. Apapun keadaannya saya harus bertahan sampai operasi kelar, itulah prinsip kami di bekerja di kamar operasi.

Begitu selesai saya turun duluan (dari operasi) dan segera rebahan di sofa ruang istirahat kamar operasi. Melihat kondisi saya yang drop tersebut teman saya memberi herbal kemasan sachet untuk segera saya minum.

Tak sampai setengah jam badan sudah terasa hangat dan enakan. Saya lirik penasaran apa yang barusan saya minum tadi, terlihat bekas sachet herbal cair "Tolak Angin Sido Muncul", ini adalah produk sponsor yang menyuport kegiatan seminar keperawatan seminggu kemarin. 

Waktu itu setiap peserta diberikan bungkusan dalam tas kecil berisi materi, buku, alat tulis, dan 5 sachet Tolak Angin Sido Muncul dari sponsor. Luar biasa ternyata Tolak Angin Sido Muncul yang saya peroleh di seminar kit minggu lalu bisa sebagai salah satu Cara Mengatasi Diare.

Sesampai di rumah langsung mandi dan ganti baju. Namun sesaat kemudian ada telepon masuk, ada teman yang juga tertinggal tidak bisa berangkat bersama rombongan siang. Akhirnya kami sepakat berangkat ke puncak Cumbri menyusul rombongan pertama.

Tas kamera, tripod, baju hangat, serta alat sholat sudah siap. Segera kami berdua berboncengan menuju daerah desa Pager Ukir Kecamatan Sampung sebagai tempat menitipkan kendaraan. Udara dingin luar biasa meski sudah pakai jaket tebal, masih saya tambah sarung saya lilitkan pada leher.

Beruntung sampai penitipan masih jam 9-an malam. Setelah menitipkan kendaraan kami berdua segera menyelusuri jalan setapak berbatu disinari bulan yang sedang purnama. Hawa dingin sirna karena kalah dengan keringat yang bercucuran dan deru nafas karena beratnya medan pendakian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x