Mohon tunggu...
Nanang Diyanto
Nanang Diyanto Mohon Tunggu... Perawat - Travelling

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri meski sering mengaku santri wakakakakaka

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Jaranan Thik Ponorogo Dikembangkan oleh Pelarian Majapahit?

22 Mei 2016   23:20 Diperbarui: 23 Mei 2016   17:44 2311
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Riuh penonton terdiam terhipnotis alunan gamelan tanpa gending. Semua terdiam, perlahan merangsek. Degung saron mendominasi seakan suara langkah lembut memasuki lorong panjang. Tapak-tapak halus nyaris tanpa hentakan namun terasa pasti. Pikiran dan angan dibuatnya melayang.

Alunan gamelannya berbeda dengan seni 'thik' pada umumnya. Halus tidak begitu menghentak, mirip gending kebo giro mengiringi  prosesi mempelai naik pelaminan. Tapi bukan gending kebo giro, hanya mirip dan terasa sungguh sakral.

Nadanya halus serasa menapaki anak tangga yang agak datar dan panjang. Seakan terbawa menapaki anak-anak tangga dalam candi yang panjang. Bahkan mirip gending yang biasa digunakan dalam pisowanan dalam keraton, tapi bukan keraton Yogyakarta atau Surakarta.

penari celengan, dokpri
penari celengan, dokpri
sepasang penari celengan, dokpri
sepasang penari celengan, dokpri
Penari celengan keluar dari lorong sempit berbatas pagar di barat rumah, satu persatu penari celengan mereka menuju 'kalangan', lingkaran yang dikerumuni penonton. Polah tingkah nya seperti celeng, babi hutan pemangsa tanaman. Anyaman bambu mirip tepas (kipas) bercat hitam bergambar celeng dikempitnya. Suara klinthing (lonceng kecil) yang ditempel pada anyaman bambu tersebut bergemelinting mengikuti hentakan kaki penari. Makin lama tempo gamelan makin cepat, dan kembali memelan lagi ketika penari celengan kedua memasuki kalangan. Setelah selesai kedua penari celengan ini menepi.

Celeng, sebutan buat orang susah diatur. Mengadopsi babi hutan alias celeng, di mana segala sesuatunya seenaknya sendiri. Grusa-grusu tanpa dipikirkan lebih dulu. Asal maju tanpa perhitungan.

Celengan dalam seni thek ini adalah melambangkan keserakahan, ketamakan, dan kesewenang-wenangan. Dulu dalam satu team seni thek cuma ada satu celengan, berkostum hitam baik tata rias wajah maupun pakaian. Kini sudah berevolusi, mungkin seiring murahnya bahan sandang.

img-5263-5741d8814ef9fdfb0441c2c2.jpg
img-5263-5741d8814ef9fdfb0441c2c2.jpg
caplokan, topeng berbentuk naga. dokpri
caplokan, topeng berbentuk naga. dokpri
seperti naga, tariannya meliuk-liuk, dokpri
seperti naga, tariannya meliuk-liuk, dokpri
Letupan jederan (cemeti khas Ponorogo) menggelegar, seperti penggembala yang sedang menggembalakan ternaknya. Topeng besar berbentuk naga keluar dari lorong barat rumah. Mulutnya terbuka, lidahnya menjulur dan berkali-kali ditutup dengan cepat seakan menelan mangsanya yang lebih kecil. 

Suara prak... prakk... sambil meloncat dan bergerak kesana-kemari mengikuti tetabuhan. Setelah itu diam lesu di pinggir, namun penarinya masih terbungkus kain penutupnya.

Penari kedua, ketiga, sampai ke delapan melakukan hal yang sama. Hanya saja tempo dari penari pertama ke penari selanjutnya semakin cepat, terutama penari ke delapan. Ada yang beda caplokan (topeng naga yang bisa membuka mulut) sepasang di antaranya berbentuk perpaduan naga dengan harimau.

berharap hujan tidak jadi turun, dokpri
berharap hujan tidak jadi turun, dokpri
pawang atau gambuh, dokpri
pawang atau gambuh, dokpri
Tiba-tiba langit gelap dan gerimis datang, lelaki tua segera berdiri menuju lorong tempat keluar masuk penari. Tangan kanannya diarahkannya ke atas, seperti menolak sesuatu. Sedang tangan kirinya di bawah seperti menahan sesuatu. Aneh perlahan mendung hitam yang menggelayut perlahan-lahan bergerak menuju tenggara, dan gerimis pun berhenti. Sementara itu penari yang di kalangan terus menari, tak tahu apa yang terjadi.

Keberadaan pawang (gambuh) sangat vital. Ketika banak pemain maupun penonton kesurupan pawang atau gambuh ini bertugas menyadarkannnya. Pawang atau gambuh dipilih rata-rata pemain senior, atau para sesepuh desa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun