Mohon tunggu...
Iip Rifai
Iip Rifai Mohon Tunggu... ASN

Pegiat Omar Institute | Pernah Belajar @Jurusan Islamic Philosophy ICAS-Paramadina, 2007 dan SPK VI CRCS UGM Yogyakarta, 2015 |

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Terus, Kemudian!

17 Mei 2021   14:51 Diperbarui: 19 Mei 2021   13:26 72 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Terus, Kemudian!
dokumentasi pribadi

Menulis pengalaman liburan saat lebaran adalah tugas berat bagi saya (waktu SD) ketika sekolah mulai aktif kembali. Guru Bahasa Indonesia menugaskan demikian, mungkin, untuk mengasah ingatan (memori) murid-muridnya, juga melatih bagaimana menyusun kata menjadi kalimat yang enak dibaca. Mungkin juga ada tujuan lain yang  lebih spesifik.

Yang paling saya ingat adalah ketika tulisan (narasi) yang saya susun banyak ditemukan kata "kemudian", dan "terus". Dua kata tersebut selalu diulang (repetitif) untuk menceritakan rentetan satu kegiatan dengan kegiatan yang lain yang berbeda. Misalnya: ...."setelah selesai salat id, saya bersalaman dengan jemaah lain di lapangan, kemudian pulang, dan terus makan ketupat bersama keluarga, kemudian main, terus jajan, dan seterusnya.

Pelajaran menulis sejak dahulu, selain terasa sulit, ia juga menakutkan. Sulit karena harus memproduksi kalimat yang menarik juga sesuai dengan kaidah bahasa. Sedangkan menakutkan karena harus ditulis tangan di buku berlembar-lembar.

Problem lain, selain dua problem di atas, adalah kemampuan terbatas saya dalam  mengalihbahasakan  bahasa  daerah yang saya gunakan sehari-hari, Bahasa Sunda, ke dalam Bahasa Indonesia.

Apakah pelajaran menulis ini, untuk murid-murid SD di seluruh pelosok Indonesia, masih ada? Apakah mereka mendapatkan tugas yang sama seperti yang pernah saya dapatkan dengan masalah yang sama, atau justru problemnya bertambah kompleks? Saya tidak tahu.

Menulis,sebagaimana membaca, adalah keterampilan yang harus diajarkan guru di sekolah sejak dini. Selain sebagai refleksi bagi penulisnya juga bagian dari peningkatan literasi.

Satu hal penting yang harus diajarkan guru kepada murid-murid sekolah dasar di era sekarang adalah 'etika menulis" di media sosial. Bagaimana menulis yang menyejukkan tanpa menghujat, menyebar fitnah, dan sejenisnya. Minimal, kelak mereka akan menjadi manusia dewasa yang santun dalam bermedia sosial.

VIDEO PILIHAN