Mohon tunggu...
Eko Nurhuda
Eko Nurhuda Mohon Tunggu...

Seorang pemimpi. Menulis agar otak dan pikiran tetap bugar. Kunjungi blog pribadi saya di www.bungeko.com atau tonton video-video saya di www.youtube.com/EkoNurhuda. #YNWA

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Mari Rayakan Hari Musik dengan Memakmurkan Musisi

10 Maret 2019   03:33 Diperbarui: 10 Maret 2019   15:33 0 8 3 Mohon Tunggu...
Mari Rayakan Hari Musik dengan Memakmurkan Musisi
ilustrasi musisi jalanan. (sumber: pixabay.com/StockSnap)

SIAPA tak suka mendengarkan musik? Bukan cuma musisi, abang becak pun suka. Bagi penulis (termasuk Kompasianer dan bloger) yang setiap hari stand by di depan komputer atau laptop, mengetik terasa tak asyik tanpa iringan musik. Sepanjang monitor masih terbuka, selama itulah alunan musik terdengar dari Winamp atau jetAudio.

Ya, musik memang membuat hidup tambah asyik. Orang cemberut bisa tersenyum karena musik, orang marah bisa reda emosinya gara-gara musik, orang mengantuk jadi segar kembali setelah mendengarkan musik, sebaliknya orang juga bisa jadi tambah mengantuk begitu mendengar musik. Bahkan, menurut dr. Boyke Dian Nugraha, aktivitas bercinta pun bakal lebih nikmat dan bergairah bila diiringi alunan musik syahdu.

Mundur ke belasan tahun lalu, membeli album adalah satu-satunya langkah yang musti kita tempuh agar dapat mendengarkan musik dari penyanyi atau musisi idola. Dan ini jadi satu-satunya hal yang tidak asyik dari musik. Kok tidak asyik? Bagi saya setidaknya ada dua alasan kenapa membeli album musik jadi tak asyik.

Pertama, harga album baru tidak bisa dikatakan murah.

Zaman saya SMA di awal-awal tahun 2000-an, sebuah kaset berisi 10 judul lagu dijual seharga Rp15.000 sampai Rp20.000. Itu sama dengan 1/6 atau 1/5 uang bulanan saya sebagai anak kos. Kini, ketika teknologi kaset digantikan cakram padat, dari VCD ke DVD, harga sekeping album baru orisinil berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp100.000. Ada pula yang harganya di atas itu.

Itu album musisi lokal lho. Harga album musisi mancanegara lebih mahal lagi karena ada tambahan ini-itu sebagai cukai dan lain-lain. Album Girls Generation yang bertajuk Mr Taxi, sebagai contoh, dibanderol seharga Rp225.000. Sedangkan album Lady Gaga berjudul Born This Way yang berisi dua keping cakram padat dihargai Rp400.000.

Bagi penyuka musik dari golongan ekonomi menengah ke atas mungkin harga berapa pun tak jadi masalah. En toch, demi artis idola dan lagu kesukaan ini. Masalahnya, membeli album bukan cuma perkara harga. Ada satu poin lagi, poin kedua, yang membuat saya berpandangan bahwa membeli album itu tidak asyik. Apa itu?

Kedua, tak semua lagu dalam album tersebut disukai pembeli.

Contoh, berapa lagu yang kalian suka dari 10 judul dalam album perdana Siti Liza? Lima-enam, atau hanya dua-tiga judul saja? Bagaimana dengan lagu-lagu lainnya yang tidak disukai? Mau dibuang sayang, terus membuangnya juga kemana? Hehehehe. Tapi mau disimpan terus juga percuma orang tidak suka. Ya pasti jarang diputar, namanya juga tidak suka.

Bagi pembeli tentu saja ini pemborosan. Kita harus membeli seharga penuh (satu album), sedangkan kita mungkin hanya suka separuh dari isi album tersebut, atau malah seperempatnya. 

Tak bisa diingkari, sulit sekali menjumpai sebuah album yang lagunya enak semua. Legenda musik dunia seperti The Beatles, The Rolling Stone, atau legenda musik lokal macam Koes Plus sekali pun tak semua lagunya enak didengar kok.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x