Eko Nurhuda
Eko Nurhuda PNS (Pencari Nafkah Serabutan)

Seorang pemimpi. Menulis agar otak dan pikiran tetap bugar. Kunjungi blog pribadi saya di www.bungeko.com atau tonton video-video saya di www.youtube.com/EkoNurhuda. #YNWA

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Dicium Rapat-papat, di Paha Direnggangkan

9 Agustus 2018   02:12 Diperbarui: 10 Agustus 2018   08:47 1447 3 1
Dicium Rapat-papat, di Paha Direnggangkan
Jamie Carragher dan Steven Gerrard mencium trofi Liga Champions usai Liverpool FC mengalahkan AC Milan di partai final, Mei 2005. FOTO: liverpoolecho.co.uk

Eit, jangan berpikir "17+" dulu membaca judul tulisan ini. Sekilas memang kesannya seperti mengarah ke "suasana ranjang", tapi yakinlah bahwa apa yang akan saya sampaikan sangat jauh sekali dari "bayangan-bayangan menggairahkan" tersebut. Jadi, silakan dibaca sampai habis dulu ya.

Kalimat yang saya jadikan judul di atas adalah sebuah rumus rahasia berusia entah berapa puluh tahun. Saya mendapatkannya saat duduk di bangku kelas II SMP. Adalah Ibu N. Pohan, guru Bahasa Indonesia saya waktu itu, yang memberikannya saat mengajar di kelas. Entah apakah teman-teman lain mengingatnya, tapi rumus ini begitu lekat dalam ingatan saya.

Saya ketika itu merupakan siswa SLTP Negeri V Mestong. Setelah beberapa kali berganti nama seturut pemekaran kabupaten dan kecamatan, entah kini apa nama sekolah tersebut. Satu hal yang pasti, hingga kini SMP tersebut masih bertahan. 

Bangunannya berdiri kokoh di tapal batas desa Talang Bukit dan Talang Datar, dua desa yang dulunya merupakan satu Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) di Sungai Bahar, Muaro Jambi.

Ibu N. Pohan hingga saat ini masih menjadi guru favorit saya. Tentu saja tanpa bermaksud mengabaikan jasa-jasa para guru termasuk dosen yang pernah mengajar saya selama ini. Gaya mengajar beliau asyik, santai, dan tergolong nyeleneh

Satu contoh, di saat guru-guru lain senang merampas novel atau pun cerita silat yang kami bawa ke sekolah secara diam-diam, Ibu N. Pohan justru menjadikan cersil Wiro Sableng sebagai contoh dan bahan diskusi dalam mata pelajarannya. 

Ibu guru satu ini pula yang memberi motivasi pada saya untuk menyeriusi dunia kepenulisan. Beliau menceritakan kehidupan penulis-penulis ternama dan apa saja yang bisa saya raih dengan mengembangkan skill menulis. Tak pernah bosan beliau meminta saya mengirimkan tulisan ke majalah dinding sekolah. Ketika tulisan saya tayang, beliau terlihat begitu asyik membacanya di waktu istirahat.

Menanamkan impian sebagai penulis adalah sebuah saran out of the box, mengingat kami sebagai penghuni desa transmigrasi di mana mata pencaharian utama adalah berkebun. 

Cita-cita kebanyakan kami ketika itu adalah membantu orang tua bekerja di kebun kelapa sawit. Bagi yang tidak punya kebun, angan-angan itu bergeser menjadi buruh panen. Ada juga yang ingin menjadi sopir truk pengangkut sawit dari kebun ke pabrik.

Pendek kata, menjadi penulis merupakan cita-cita yang begitu jauh di awang-awang bagi kebanyakan kami yang hanya mengenal dodos, egrek, ganco, dan sorong untuk mencari nafkah. Bukan pena, mesin tik, apatah lagi komputer. Tapi, rupanya ke arah yang disarankan Ibu N. Pohan itulah jalan hidup membawa saya.

Mantan wasit Piala Dunia asal Tunisia, Ali Benacueur, dicium oleh legenda hidup Diego Maradona. FOTO: Facebook
Mantan wasit Piala Dunia asal Tunisia, Ali Benacueur, dicium oleh legenda hidup Diego Maradona. FOTO: Facebook

Rumus Saru

Baiklah, kembali ke rumus tadi saja supaya tidak semakin melebar. Rumus apa? Rumus tentang pemakaian kata "di" yang baik dan benar sesuai aturan EBI. Sebuah rumus yang membuat kami satu kelas tertawa gelak-gelak, beberapa sambil memerah pipinya, saat pertama kali mendengarnya.

Dicium rapat-rapat, di paha direnggangkan.

Kesannya kok nyeleneh bin saru, tapi justru ke-nyeleneh-an dan ke-saru-annya itulah yang membuat saya tetap mengingat lekat rumus sederhana tapi penting ini. Karena saya lulus SMP tahun 1997, maka rumus tersebut sudah lebih dari 20 tahun lamanya tetap lengket dalam kepala. Rumus inilah yang menjadi rambu-rambu saat saya kebingungan menggunakan "di" apakah ditempel atau dipisah.

Kalimat pendek ini asyik karena nyerempet-nyerempet ke arah "ehem-ehem". Hahaha. Lalu juga simpel tapi sekaligus jelas sekali membedakan kerancuan pemakaian "di" yang biasa kita jumpai.

Saat membaca-baca tulisan rekan-rekan blogger, baik di blog masing-masing ataupun platform seperti Kompasiana ini, seringkali saya menjumpai artikel yang secara kaidah tata bahasa alias EBI tidak tepat. Satu kesalahan umum yang biasa dijumpai adalah pemakaian "di" yang masih salah kaprah alias tak sesuai dengan fungsinya.

Nah, dengan rumus sederhana yang diberikan guru SMP saya ini, saya yakin rekan-rekan sekalian bakal dengan mudah mengingat bagaimana sih si "di" ini seharusnya digunakan.

Dua Jenis Penggunaan "Di"

Secara simpel dapat dibedakan bahwa "di" mempunyai dua fungsi: (1) sebagai kata depan alias preposisi, (2) sebagai imbuhan, awalan, alias prefiks.

Sebagai kata depan, "di" menunjukkan (atau digunakan bersama dengan penunjuk) waktu, tempat, atau kata benda. Contohnya, "Budi berdoa dengan khusyuk di makam ayahnya."Atau, "Budi menabur bunga di atas makam ayahnya."

Sedangkan "di" sebagai imbuhan menunjukkan (atau digunakan sebelum) kata kerja, biasanya untuk membentuk kata pasif. Contohnya, "Rambutan manis itu dimakan Budi dengan lahap." Atau, "Bunga-bunga aneka warna itu ditabur ke atas makam oleh Budi."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2