Mohon tunggu...
Bung Amas
Bung Amas Mohon Tunggu... Kolektor

Pernah kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsrat Manado

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Bukan Simulasi, Demokrasi Butuh Terapi

10 Oktober 2019   07:44 Diperbarui: 10 Oktober 2019   17:16 0 1 0 Mohon Tunggu...
Bukan Simulasi, Demokrasi Butuh Terapi
Sketsa buruk demokrasi | law-justice.co

BERULANG kali kita berdemokrasi, tapi hasilnya kadang tidak menjanjikan. Itu sebabnya, kita tak membutuhkan simulasi lagi. Yang kita butuhkan itu terapi atas ragam masalah yang menjangkiti demokrasi. Demokrasi ala Indonesia yang sedang menderita penyakit kambuh memerlukan pengobatan serius dan penanganan khusus.

Sudah dewasa masyarakat kita hidup di era demokrasi ini. Mereka telah 'bersetubuh' dengan demokrasi. Hal tersebut ditergambar melalui semangat gotong royong. Hingga kini kesadaran itu terus dilestarikan. Mulai dari hajatan pemilihan Kepala Desa, Pemilihan Kepala Daerah, Pemilihan Presiden sampai memilih wakil rakyat, demokrasi menjadi peta jalan.

Menjadikan demokrasi sebagai satu-satunya pilihan. Saking berdemokrasinya masyarakat, demokrasi 'diTuhankan', berbalik menindas masyarakat. Aktualisasi demokrasi kita memang perlu diperkuat lagi. Sudah keropos sekarang, itu tercemar dan terkikis dengan derasnya nalar politik global. Tegasnya, demokrasi kita membutuhkan terapi serius. Sebab penderitaan yang dialami demokrasi kita mulai masuk stadium akhir.

 Tentu dengan perubahan yang berkelanjutan, demokrasi disembuhkan. Dari prosedural diperbaiki, menuju substansi demokrasi. Membumikan demokrasi secara sosiologis targetnya adalah memperkuat nilai kolektifitas sebagai destinasi utama. Masyarakat diajarkan menghargai perbedaan pikiran. Mendorong kebangkitan pengetahuan, melenturkan persaingan yang berujung perebutan kekuasaan semata.

Demokrasi kita yang penuh dinamika, tak boleh dilepas tanpa dikontrol. Umumnya sesuatu yang baik sekali pun bila dilepas bebas, tanpa pantauan, akan menjadi liar. Seperti itu yang akan berlaku pada demokrasi kita, bila diliberalisasi. Pembiaran terhadap demokrasi berpotensi melahirkan kebebasan kebablasan. Demokrasi itu harus bertuhan, dikendalikan orang waras. Demokrasi perlu perawatan dan tuntunan kearah kemajuan.

Bila demokrasi sakit, kita jangan lantas berdiam diri. Tetap tenang, mencari solusi dan pertolongan agar ada malaikat penolong yang dapat menawarkan terapi. Dari usaha tersebut, maka penyakit ganas demokrasi dapat diobati. Macetnya demokrasi kita terjadi diskala elit, karena terjadi proses saling unjuk kekuatan dan tawar-menawar politik.

Kita Tidak Mencari Lagi Format Demokrasi

Rasanya tidak relevan lagi, kita yang mengukuhkan Pancasila sebagai dasar ideologi Negara lalu meragukan eksistensinya. Pancasila merupakan fundamen yang universal, ia mengatur segala urusan kita di Indonesia. 

Termasuk menyelimuti warga Indonesia dalam proses berdemokrasi. Konteks demokratisasi kita yang kadang diseret ke praktek yang keliru, perlu diselamatkan ke jalan yang benar. Format demokrasi kita sudah ada, namun sedang sakit dalam implementasinya. Itu sebabnya, perlu diterapi.

Tidak perlu lagi demokrasi disebut berada pada ruang transisi atau sedang mencari bentuk. Kalau Demokrasi Pancasila masih ditengah jalan menuju cita-cita mulia, hal itu masih dapat kita terima. Artinya, bahwa kita mengakui demokrasi kita berlandaskan Pancasila. Segala bentuk kekerasan, sentralisme, dan diskriminasi dalam menejemen pemerintahan butuh terapi khusus untuk diluruskan. Jangan kita diam menyaksikan roh demokrasi dihianati.

Demokrasi yang rohnya bersama rakyat harus betul-betul dijalankan secara benar. Pemerintah dengan lembaga formalnya perlu mengurangi intensitasi perlakukan 'kekerasan' kepada warganya. Contoh kecilnya, saat momentum unjuk rasa warga diberlakukan secara kasar oleh oknum aparat kepolisian. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x