Mohon tunggu...
Muhammad Suryadi
Muhammad Suryadi Mohon Tunggu... Koordinator GUSDURian Barru

Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita melanjutkan

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Selamat Hari Lahir Pancasila untuk Semua Generasi

1 Juni 2020   14:30 Diperbarui: 1 Juni 2020   15:33 55 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Selamat Hari Lahir Pancasila untuk Semua Generasi
Sumber : kompas.com

"Aku ini, Saudara-saudara, pernah diberi title doktor, oleh karena katanya, aku ini katanya pembuat Pancasila. Aku menjawab, aku bukan pembuat Pancasila. Pancasila terbenam di dalam jiwanya bangsa Indonesia. Apa yang kuperbuat hanyalah menggali lagi mutiara lima dari bumi Indonesia itu, dan mutiara lima ini aku persembahkan kepada bangsa Indonesia yang berupa lima dasar daripada Pancasila."

Pidato Ir. Sukarno dalam rapat Pancasila 16 Maret 1958 di Bandung. Dikutip dalam buku Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno.

Sudah 75 tahun bangsa Indonesia memperingati setiap 1 Juni sebagai hari bersejarah. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia patut bangga dan bersyukur karena dikaruniai ideologi pemersatu bernama Pancasila yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Tiap tahun masyarakat kita memperingatinya. Rasa suka cita selalu datang jika 1 Juni tiba. Hal ini sekaligus menandakan bahwa masyarakat kita sudah sangat fasih menyebut tanggal kelahiran Pancasila.

Euforia terhadap Pancasila tidak boleh berhenti pada batas selebrasi tanpa menghadirkan essensi. Kebanggaan kita terhadap Pancasila mesti termanifesto ke dalam sikap hidup dan penghayatan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah essensi Pancasila. Dan mengenalnya pun tidak boleh hanya berhenti pada 1 Juni. Tetapi lebih dari itu, Pancasila terus-menerus harus digali dan dipelajari sebagai cara pandang dan kepribadian bangsa yang otentik.

Sebagai generasi, perlu untuk mengkaji dan mempelajarinya dari sumber-sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini penting agar pemahaman terhadap Pancasila tetap utuh dan orisinil. Generasi yang hidup hari ini mesti mempelajari itu. Bahwa Pancasila tidak sebatas selebrasi melainkan harus dipelajari agar nilai-nilainya dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

1 Juni 1945 adalah kurun waktu yang sudah sangat lama untuk generasi yang hidup hari ini. 75 tahun tentu adalah jarak yang cukup jauh. Pancasila harus dihadirkan ke dalam wadah yang paling tren dan dipahamkan sesuai dengan gaya hidup mereka (baca : generasi). Menurut riset tirto.id mengatakan bahwa generasi hari ini adalah mereka yang mengakses informasi lewat internet. Durasi waktu yang digunakan rata-rata 3-5 jam per hari. Kebanyakan menggunakan platform media sosial.

Dalam setiap era, Pancasila mesti benar-benar hidup. Pancasila harus dihidupkan dalam setiap tindak-tanduk kehidupan berbangsa dan bertanah air. Ia (baca : Pancasila) harus diterjemahkan dalam bentuk yang paling kongkret. Substansinya harus diterjemahkan dalam konteks yang paling kekinian, tentu dalam maksud tidak untuk mereduksi hakikat dari Pancasila itu sendiri.

Jika konteksnya era milenial maka Pancasila itu mesti milenial. Pancasila mestilah dikontekstualisasi ke dalam bahasa dan cara pandang yang lebih milenial. Agar generasi lebih lengket dengan nasionalisme-patriotisme.

Kontekstualisasi Pancasila di era milenial ini bukanlah barang baru tapi telah acapkali dilakukan. Konten-konten terkait Pancasila sangat mudah ditemukan terutama di media sosial. Tetapi yang minim barangkali adalah penghadiran konten-konten Pancasila di tempat-tempat publik seperti di bangku pendidikan, sebab, sekolah hanya berisikan materi-materi sejarah yang membosankan dan belum tentu kebenarannya.

Kader-kader atau duta-duta Pancasila harus berkolaborasi dengan konten-konten kreator masuk ke lembaga pendidikan mengedukasi dan memahamkan kepada para generasi tentang urgensi Pancasila. Hal ini diupayakan sebagai strategi agar generasi semakin meneguhkan sikap nasionalisme dan patriotisme.

Jika konteksnya era digital maka Pancasila harus didigitalisasi. Platform-platform digital harus terprogram data dan software Pancasila yang lebih aplikatif. Agar generasi selamat dari wabah intoleransi dan radikalisme-ekstrimisme.

Era digital adalah peluang. Maka generasi harus memanfaatkannya. Digitalisasi Pancasila adalah proses kodifikasi pemahaman Pancasila ke dalam sistem algoritma. Sistem digital harus berbasis Pancasila. Aplikasi-aplikasi digital harus menjadi media yang menyediakan edukasi dan menghadirkan pemahaman akan Pancasila. Sehingga, output algoritma digital menghasilkan pemahaman mekanistik terkait Pancasila.

Dengan cara itu---digitalisasi, Pancasila akan diaplikasikan dengan orientasi penguatan rasa toleran dan sikap menolak cara pandang radikalisme dan ekstrimisme kepada para generasi. Pancasila yang didigitalisasi akan sangat mudah dipelajari dan dipahami oleh para generasi yang hidup di era kekinian atau di era serba digital sekalipun.

Pancasila telah lama hidup. Ia terbukti survive diberbagai lintas generasi. Tugas kita adalah mempertahankannya di tengah arus deras teknologi informasi yang bisa saja menjadi ancaman yang pada gilirannya dapat mengaburkan sejarah dan essensi, bahkan, mematikan nilai dari Pancasila itu sendiri. Pancasila harus terus menerus dinarasikan ke dalam konteks kekinian. Suara-suaranya harus selalu nyaring di setiap pendengaran generasi ke generasi. 

Selamat Hari Lahir Pancasila yang kesekian kalinya.

VIDEO PILIHAN