Mohon tunggu...
Buna Amir
Buna Amir Mohon Tunggu... Lainnya - Bukan siapa-siapa

Bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Travel

Pengalamanku: Dieng "Negeri di Atas Awan"

8 April 2021   08:25 Diperbarui: 8 April 2021   08:34 143 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pengalamanku: Dieng "Negeri di Atas Awan"
Travel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Jcomp

Senin, 1 Februari 2021. Aku dan tiga teman sepondokku pergi mencari suasana lain setelah tiap hari hanya dihadapkan layar laptop dan lembaran-lembaran buku.

Sekitar pukul 08:26 WIB, mereka bertiga dating ke rumahku yang berdada di desa Menoreh, kecamatan Salaman, kabupaten Magelang. Tapi sebelum itu mereka saling menghampiri dari Kabupaten Bantul, lalu ke Kecamatan Candimulyo, Kecamatan Bandongan dan berkumpul di rumahku.

Kami berkangkat sekitar pukul 10:10 WIB. Aku berpamitan dengan kedua orang tuaku lalu kami langsung menuju ‘Negeri di Atas Awan’ dengan dua motor.

Jalan berliku-liku dan kontur tanah yang naik turun menjadi tantangan tersendiri ketika menuju ke sana. Namun, di samping itu hawa dingin dan pemandangan pegunungan yang berawan menyejukkan kami.

Saat kami memasuki gerbang masuk, kami membayar Rp 40.000 untuk empat tiket masuk daerah wisara Dieng. Tiket tersebut sudah termasuk biaya masuk ke empat tempat, yaitu Telaga Warna, Gardu Pandang Tieng, Dieng Theathre dan pshdboaf.

Kami lalu melanjutkan perjalanan kami, kami menuju spot foto terkenal yang bertuliskan “Welcome to Dieng” yang besar. Di sana kami berfoto bersama. Kemudian kami menuju ke masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban kami sebagai seorang muslim, yaitu sholat dhuhur.

Setelah itu, kami berempat langsung menuju Batu Pandang Ratapan Angin. Wahana wisata ini dapat kami akses dengan membayar tiket Rp 15.000 per orang. Jalan stapak dan berbatu yang menanjak menjadi teman kami saat menaiki ke puncaknya. Namun, di puncak, kami disuguhkan pemandangan yang hijau, sedikit awan dan angin yang lumayan kencang dan dingin.

Setelah kami berlama-lama dan mengambil beberapa jepret foto, kami turun. Lalu karena kami merasa lapar, kami mencari sebuah warung makan terdekat. Awalnya kami ingin makan bakso atau mie ayam, tapi karena di daerah yang berbeda dari biasanya, jadi kami mencoba ke warung mie ongklok.

Saat makan, kami dihampiri teman kami yang tinggal di dekat tempat itu, namanya Maulana. Setelah makan kami mampir ke rumah Maulana.

Di rumah Maulana, kami berlima berbincang-bincang di temani suguhan teh hangat dan camilan. Selang waktu yang cukup lama, turunlah hujan. Hujan lebat sampai petang hari ditambah hawa dingin dataran tinggi Dieng,membuat kami memutuskan untuk bermalam di rumah Maulana.

Paginya, setelah subuh kami berempat -Maulana tidak ikut pergi karena ia harus pergi bekerja- bergegas pergi untuk menikmati indahnya sunrise Bukit Sikunir yang berada di dekat lokasi kami. Setibanya di sana, kami mendapati cuaca yang berkabut dan berangin. Kami tetap memutuskan untuk untuk naik ke puncak bukit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN