Mohon tunggu...
Kang Bugi
Kang Bugi Mohon Tunggu... author, blogger, vlogger & storyteller yang pns

Kang Bugi, demikian sebutan akrabnya di dunia per-blog-an dan dunia dongeng-mendongeng. Saat mendongeng, maka ia ditemani oleh sahabatnya yaitu Si Otan (informasi tentang kang Bugi dan si Otan dapat dilihat di sini: https://dongengsiotan.wordpress.com/). Memiliki kesenangan berbagi pengalaman dan belajar dari pengalaman orang lain. Senang berbagi cerita melalui vlog ataupun blog diluar kegiatannya sebagai pns. Tempat berbagi cerita melalui berbagai wahana diantaranya melalui Kompasiana dan atau website pribadinya di: https://bugisumirat.wordpress.com/. Bisa juga mampir di IGnya: @bugi_sumirat, terima kasih ;)

Selanjutnya

Tutup

Thrkompasiana

Waspadai Kejahatan Finansial Perbankan yang Mengintip Melalui Nafsu Belanja Kita

9 Mei 2019   00:11 Diperbarui: 9 Mei 2019   01:08 0 1 0 Mohon Tunggu...
Waspadai Kejahatan Finansial Perbankan yang Mengintip Melalui Nafsu Belanja Kita
waspada belanja online (sumber foto: computerworlddotcom)

Ramadan adalah bulan dimana kita - umat muslim diminta untuk menjaga atau lebih tepatnya mengontrol nafsunya. Terutama nafsu keduniawian. Perbanyak ibadah diutamakan. Walau Ramadan, walau kita berpuasa, pola hidup kita tidak dianjurkan terlalu banyak perubahannya, kecuali jam buka tutup mata (alias tidur) yang menyesuaikan dengan pola tarawih dan sahur.

Artinya, yang bekerja, tetap bekerja seperti biasa, yang melaksanakan kegiatan profesinya, ya melaksanakan seperti biasanya. Karena kalau dari segi pola makan, kita hanya kehilangan satu kali makan saja, yaitu makan siang. Makan pagi tetap dilakukan, hanya ditarik ke awal - waktu sahur. Makan malam, dimajukan, saat berbuka puasa. Bahkan kita biasanya menambah menu makanan seperti makanan ringan untuk berbuka puasa, camilan-camilan, dan lain sebagainya. Wah jadi malah tambah ya sebenarnya?

Tapi nafsu itu sepertinya belum bisa di'kurung' dengan baik, terutama  'nafsu belanja'. Di malam menjelang Ramadan, saya sempat liat-lihat supermarket dekat rumah - yang cukup besar, di bagian luarnya, ada caf, iseng-iseng ngopi setelah tarawih. Cuma karena melihat banyak sekali pengunjung yang masuk ke dalam supermarket, sambil nunggu kopi yang dibuat saya masuk ke dalamnya mau lihat-lihat, menuntaskan rasa penasaran saya. Ternyata memang luar biasa.

Saya lihat banyak yang sepertinya 'kalap' berbelanja. Saya perhatikan keranjang/troley belanja dan saya sambil keliling saya perhatikan rak-rak di supermarket. Pemantauan saya, beberapa rak telah kosong, seperti rak aneka mie instant - kosong melompong, rak  minyak goreng kosong, rak/tempat daging ayam potong segar kosong, dan rak sabun cucipun kosong.

Iseng saya bertanya ke petugas supermarket tersebut, "Rak-rak yang kosong ini karena banyak yang berbelanja?" Si petugaspun kemudian menjawab cepat," iya pak, banyak sekali yang berbelanja hari ini, beberapa rak itupun langsung ludes." warbiasah pikir saya. Seperti tidak ada hari lain lagi ya untuk berbelanja dan .... Kesannya kok seperti akan terjadi bencana besar yang membuat kita akan kesulitan bahan pangan.

Hal lain adalah, bila rak mie instan kosong, rak daging/daging ayam, minyak goreng kosong, mungkin masih dapat diterima ya, nah kalau rak sabun cucipun sampai kosong begitu, akankah terjadi kegiatan mencuci yang masif (meminjam istilah pemilu yang sedang tren)? Hehe tapi itulah fenomena 'nafsu belanja' yang terjadi di masyarakat kita.

Itu belanja yang langsung atau offline, bagaimana dengan yang online? Sama 'kalapkah' seperti belanja yang non online?

Ternyata hasil penelitian iPrice yang dimuat di sini memperlihatkan bahwa selama bulan Ramadan itu, belanja online mengalami kenaikan sebesar 24 persen, ini seratus persen lebih tinggi dibanding peningkatan di bulan dengan perayaan agama lain, seperti Natal misalnya yang hanya mengalami kenaikan sekitar 12 persen saja. Kenaikan belanja online di bulan Ramadan tersebut berpusat pada pembelian pakaian - peningkatan belanja online pertama dan keduanya adalah pembelian sepatu. Pengeluaran yang dikeluarkan pun meningkat berkisar satu hingga tiga juga rupiah.

Sementara secara umum pengguna internet di Indonesia, tingkat belanja onlinenya menduduki peringkat nomor satu di atas Republik Tiongkok yaitu sebesar 86 persen - di Tiongkok hanya 82 persen, melalui perangkat apapun yang mereka punyai (informasi tersebut dapat dilihat di sini).

Kondisi di atas mencerminkan bagaimana maraknya dunia belanja online di Indonesia. Pertanyaan pertama yang muncul adalah apakah selalu aman belanja online itu? Pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana dengan kualitas barangnya serta penanganan komplain atas kondisi yang tidak sesuai yang diterima?

Pengalaman pribadi saya dan beberapa rekan yang sempat saya tangkap adalah banyak yang semuanya aman-aman saja, artinya pengalaman berbelanja online menyenangkan, kita dapat apa yang kita pesan dan pesanan sesuai dengan kriteria. Tetapi ada pula yang pembelian online-nya itu bermasalah. Barang tidak sesuai dengan pesanan, pengiriman yang sangat lama, hingga uang hilang tiada rimba karena penjual memblokir si pembeli segera setelah uang diterima. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN