Mohon tunggu...
Budi Yanto
Budi Yanto Mohon Tunggu... karyawan swasta -

.... jernih, lebih jernih dan tetap jernih..... semoga.....

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Relegiusitas – Spiritualitas yang Egaliter

13 Agustus 2010   22:04 Diperbarui: 26 Juni 2015   14:03 98 0 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Relegiusitas – Spiritualitas yang Egaliter
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Relegiusitas - spiritualitas, sebuah kawasan pengertian yang peka, soft, berliku dan penuh jebakan. Lorongnya begitu panjang, gelap dan potensial disorientasi bagi yang tak solid. Lembaga-lembaga yang mengelolanya mengklaim sebagai pemegang kekuasaan tunggal. Sehingga, Relegiusitas – spiritualitas personal harus mendapatkan konvermasi / legalisasi resmi dari lembaga pengelola Relegiusitas – spiritualitas. Tanpa konfermasi - legalisasi resmi, itu berarti ilegal.

Lembaga – lembaga menjajakan mekanisasi Relegiusitas – spiritualitas yang seolah sempurna, megah, mewah, herioik, penuh daya pesona, padahal kosong. Seolah kejernihan cahaya pencerahan Relegiusitas – spiritualitas  yang tumbuh secara organik, masih membutuhkan campur tangan manusia. Mekanisme Relegiusitas – spiritualitas disusun sedemikian detail dan mendekte, hirartki struktural disusun secara ketat. Tidak ada berelegius - spiritual yang egaliter.

Jebakan dan godaan di kawasan Relegiusitas – spiritualitas. Ada keinginan menjadi sempurna, didengar, dituruti, diikuti, disanjung, dipuja, dilihat dan lain sebagainya. Jebakannya kadang sangat sentimentil, romantis bahkan kadang herois. Strata Relegiusitas- Spiritualitas (RS) distandarisasi menurut kebodohan nalar ke-Tuhan-an manusia. Strata RS dalam standar  lengkap dengan assesoris lahiriah yang melambungkan keangkuhan indisidu dan kelompok penelola RS. Tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh pengelola institusi RS, berarti menjadi individu yang tidak ber-Relegi dan atau tidak spiritualis.

Intinya, bagaimana bisa? Manusia sebagai mahkluk yang diciptakan sempurna oleh Sang Maha, bisa merendahkan kesempurnaan manusia lain. Setiap titik debu memiliki tugas hidup dari Sang Illahi yang sangat spesifik.

DIA tak tambah mulia ketika seorang manusia mepujaNYA, Dia juga tak tambah hina ketika seorang menghinanya.

Kembali pada urat alur hidup. Baiklah selamat menjalankan tugas masing-masing.  DIA tak memerlukan balatentara anda untukmenyokong kemewahan TahtaNYA - Sang Illahi.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan