Mohon tunggu...
Budi Setiyarso
Budi Setiyarso Mohon Tunggu...

Guru di SMP Negeri 2 Ponjong, Gunungkidul. Tinggal di Wonogiri. Tulisannya banyak dimuat di harian lokal, seperti Kedaulatan Rakyat, Solopos dan Joglosemar. Sering mengikuti lomba kepenulisan dan penelitian. Salah satunya pada Tahun 2011 menjadi juara 2 Penulisan Buku Pengayaan Tingkat Nasional

Selanjutnya

Tutup

Edukasi featured Pilihan

Sukses a la Einstein dan Deddy Corbuzier

7 Maret 2013   17:01 Diperbarui: 20 Juni 2019   16:32 0 2 2 Mohon Tunggu...
Sukses a la Einstein dan Deddy Corbuzier
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

BENARKAH PENGETAHUAN LEBIH PENTING DARI PENDIDIKAN?

Dalam acara yang bertajuk “Hitam Putih” edisi 27 Februari 2012, Deddy Corbuzier melontarkan sebuah kalimat mutiara yang menonjok dunia pendidikan yaitu “pengetahuan lebih penting daripada pendidikan”. Hal senada pernah juga diunggah di www.soundcloud.com berjudul “Pentingkah sekolah?” yang tentunya menimbulkan reaksi pro dan kontra.

Seakan-akan mengimbangi petuah bijak seorang Albert Einstein yaitu “Imagination is more important than knowledge”, Deddy justru melukai sebuah essensi kata “pendidikan”.

Penulis meyakini bahwa pesan yang disampaikan antara Einstein dan Deddy sebenarnya memiliki kesamaan maksud dan bertujuan baik. Inti petuah tersebut adalah setinggi apapun sekolah jika tidak diimbangi dengan pengetahuan yang luas dan kreativitas yang tinggi tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Menurut mereka, masa depan seseorang tidak ditentukan oleh proses pembelajaran di sekolah.

Kedua pendapat tersebut terlahir dari pengalaman pribadi Einstein dan Deddy yang dapat dikatakan gagal sekolah. Einstein semasa sekolah mengalami gangguan bersosialisasi, nilai mata pelajaran banyak yang jelek, sering membolos, sempat frustasi dan bahkan mempunyai keinginan untuk berhenti sekolah.

Sedangkan Deddy pernah mengalami kejadian pahit di sekolah seperti pernah tidak naik kelas dan divonis tidak akan sukses oleh Guru Akuntansinya. Namun pada akhirnya mereka membuktikan ketidakbenaran asumsi tersebut, karena menjadi orang nomer satu di bidangnya.

Yang menjadi permasalahan dari pengungkapan Deddy adalah penggunaan kata “pendidikan” sebagai pembanding kata “pengetahuan”. Perlu diketahui bahwa kata “education” (pendidikan) secara estimologis berasal dari kata “educo” yang berarti “to lead out; to take out with one to one’s province; to bring out a ship from the harbour; to put to sea; to assist at birth; to nourish and support” (Lewis & Short Latin Dictionary).

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Menurut UU No 20 Tahun 2003 pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia.

Penulis sebenarnya mengamini pendapat Deddy tersebut, namun karena dalam redaksinya Deddy menggunakan kata “pendidikan” bukan kata “sekolah”, maka penulis menjadi tidak sepaham.

Seperti uraian di atas bahwa pendidikan memiliki peran untuk memanusiakan seorang manusia dan berlangsung sepanjang hayat. Perkembangan manusia mulai dalam angan-angan, kemudian tercipta sebagai janin, kemudian lahir sebagai bayi, kemudian menjadi anak-anak, dewasa dan tua, berproses dalam wadah yang disebut sebagai pendidikan.

Sekolah hanyalah salah satu bagian untuk mengembangkan pendidikan yang terkonsep dan berlangsung mulai anak-anak hingga dewasa. Artinya sekolah bukanlah merupakan satu-satunya wahana pendidikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2