Mohon tunggu...
Dina Sulistyaningtias
Dina Sulistyaningtias Mohon Tunggu... karyawan swasta -

mom of two, Roker KRL Bogor-Jakarta, blogwalker, oknum @KoplakYoBand bergelar bu kepsek (tanpa nomor punggung 1)

Selanjutnya

Tutup

Humor

Kantin Murah

20 September 2011   05:29 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:48 372
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humor. Sumber ilustrasi: PEXELS/Gratisography

Dari postingan sebelumnya, beberapa teman memberi merk di jidat saya sebagai “pelit”. Sebelum saya tersungging senyuman, di otak saya berderet kata yang memiliki arti yang sama. Ada “hemat”, “irit”, “perhitungan”, “tidak boros” dan “pelit”. Entah kenapa kasta terendah disandang oleh kata “pelit”. Ingat, dalam kata tak ada kasta. Kasta hanya boleh dimiliki oleh gigi. KASTA GIGI *dagelan lawas, plesetan Dalam cerita itu, akhirnya sampai juga kami ke sebuah rumah makan sekaligus pancingan X. Karena kelaparan telah membabi buta, kami langsung menuju ke area pemesanan makanan. Pas lihat daftar harga…alamaaaak….harganya lumayan menguras kantong. Tak ada jalan lain, kami pun memesan daripada pingsan. Kasir : “Jadi total sekian ratus sekian puluh ribu sekian sekian rupiah” (kok kayak nomer hape di kuis tipi malem-malem) Dina : *nyodorin golok, eh uang* Kasir : “Eh, bentar bu…rombongan ibu ada di saung mana” Dina : “Saung ‘fjdfisdjfsdkfj’, mbak” Kasir : “Oooh, beda dengan yang lain, untuk saung ‘fjdfisdjfsdkfj’, kena charge tempat sekian puluh ribu karena tempatnya luas dan nyaman”

*Taring dan tanduk mulai keluar dari persembunyiannya…..*

“GRRRRRHHH….gak sekalian aja nyuci piring dan bersihin saung dipalak ke kita mbak???” kata saya dalam hati

Bapak saya yang menangkap gejala preman kambuhan menarik saya dari te ka pe dan membayar dengan damai….

@@@

Nah, kalau yang ini cerita waktu saya masih menjadi mahasiswi. Sebagai anak kost, mengeluarkan modal sekecil mungkin dan memperoleh laba sebesar mungkin telah merasuk ke dalam jiwa raga kami. Prinsip ekonomi itu begitu teguh kami pegang (tapi tidak dengan nilainya, hehe) sampai kelak menuju gerbang kedewasaan. Tak heran waktu itu warung makan sejenis “BAHARI, “BAROKAH”, “TEGAL JAYA” begitu melekat di hati. Selain karena persamaan selera lidah, persamaan bahasa memegang peran penting dalam proses meminta jatah lauk lebih *niat*, dan yang terutama…BISA NGUTANG (itu bukan saya). Dompet kami tak kenal dengan yang namanya “SALERO MINANG”, “ANDALAS”, “SIMPANG RAYA” dan semacamnya. Kalau nekat makan di situ melulu bisa-bisa gak ada jatah nonton sama pacar tiap malam mingguan (halah!).

[caption id="attachment_132323" align="aligncenter" width="285" caption="id.openrice.com"][/caption]

@@@

Nahh…kalo di kost-an putri tempat kami, info dibukanya warung makan yang baru pasti jadi cerita yang menarik. “hai sis (cieh gaya)……. ada kantin baru tuh…” kata seorang teman mengabarkan Dan pertanyaan berikut yang pertama muncul bisa dipastikan adalah….

MURAH GAK???”

Ehm…dibandingkan pertanyaan seperti “dimana?”, “enak gak?” dan lain-lain, kata itu menjadi keywords untuk melanjutkan pertanyaan selanjutnya… murah kok, nasinya gak dihitung…” kata teman tadi, menambahkan. Berbondonglah kami cewek-cewek cantik ini menuju tempat yang dimaksud. Setelah ritual makan selesai, kami menuju ke area paling tak mengenakkan, tempat kasir….satu persatu kami mengantri untuk membayar… Kebetulan saya ada di giliran pertama… “jadi : nasi, sayur asem, tempe, perkedel, telur bulet, kerupuk dan es teh manis (ebuset, ini makan apa kalap?) total sekian ribu sekian ratus rupiah” kata mbak kasir, mantap “loh mbak, katanya nasinya gak dihitung?” saya protes “lah, ya gak dihitung, coba mbak sekarang hitung nasinya satu persatu, bisa lebaran kucing mbak bayar ke saya…” jelas si mbak, guyon.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humor Selengkapnya
Lihat Humor Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun