Mohon tunggu...
Budi Hermana
Budi Hermana Mohon Tunggu...

Keluarga/Kampus/Ekonomi ... kadang sepakbola

Selanjutnya

Tutup

Manajemen

Seputar Perputaran Teman

28 Oktober 2012   16:00 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:17 294 6 0 Mohon Tunggu...

Mata berbinar saat mengucap kata pamit. Bulat sudah anak muda bergelar master luar negeri itu bersikap. Meninggalkan perusahaan sudah jadi keputusannya. Dia serius. Demi berburu karir. Baginya, masa depannya tidak di sini. Mungkin dia tidak sepaham dengan Hillary Clinton yang berkata: “Don’t confuse having a career with having a life”.

"Management is nothing more than motivating other people", ujar Lee Iacocca. Tantangannya, motif atau motivasi karyawan itu multidimensi. Hal sepele bisa membuat seseorang hengkang. Ada juga yang tak gentar walau badai menghadang perusahaan. Bisa juga, gara-gara intrik dengan teman, karyawan bisa pamitan. Atau, ada yang tak tahan karena tidak sejalan dengan atasan. Namun ada pula yang kerasan meski kerap dikerasi atasan. “Never mind your happiness; do your duty”, kata Peter F. Drucker.

Ya, tidak ada formula baku yang bisa menahan seseorang untuk tetap bertahan. Tidak semua orang bisa mengakhiri usia produktifnya cuma di satu perusahaan. Setiap karyawan punya cara pandang masing-masing dalam menjalani pekerjaan, termasuk keputusannya untuk bertahan atau hengkang. Sebuah pilihan yang mungkin tidak mudah, seperti diramalkan teori Job Embeddedness: “Factors that keep a person from leaving a job because of factors that do not easily transfer across jobs”. Pilihan pragmatis tatkala tak punya opsi lebih baik.

Keluar-masuknya karyawan jadi fenomena yang bisa diutak-atik sebab-musababnya dengan teori manajemen. Namun paham teori atau praktik manajemen belum menjamin seorang atasan bisa memaksa bawahan betah dan tunduk begitu saja kepadanya. “You can buy a person's hands but you can't buy his heart. His heart is where his enthusiasm, his loyalty is”, kata Stephen R. Covey.

Mengelola orang kadang tak segampang menata barang. Adakalanya lebih rumit dari mengatur duit. Barang dan uang tak pernah protes saat diutak-atik. Mungkin juga terjadi, orang diatur bak seonggok barang, tidak diberi uang pula. Eksploitasi manusia terhadap manusia. Namun di kondisi berbeda, tak gampang menaklukan karyawan. Meski tersedia banyak tips untuk mereduksinya, mengatasi turnover karyawan – dalam prakteknya – acap kali tak semudah teori.

“Gue cabut dari sini ya!”, ujarnya datar-datar saja.

Kita bisa saja kaget bak mendengar halilintar di siang bolong. Atau, semua menyikapinya dengan biasa saja. Gelagat pindah ke lain hati kadang terbaca dari sikap dan tutur katanya.  Baginya, bekerja di sini seolah hanya persinggahan sementara.  Acapkali terucap dia tidak kerasan di sini. Mulai dari soal kompensasi sampai berbagai kelemahan organisasi yang – menurut versinya – perlu banyak dibenahi. Bak pepatah tua:“I work for money and appreciation. If you want loyalty, hire a dog.” Mungkin saja ada orang yang berpikir seekstrim itu.

Selama ini sikap vokal dan kritisnya menyiratkan bahwa perusahaan tidak memberikan yang terbaik bagi dirinya. Sering terucap dari mulutnya, kinerjanya tidak berbuah apresiasi semestinya. Batas toleransinya tergolong sempit.  Ketidakpuasan sedikit saja membuatnya patah arang. Namun harus diakui baha dia tergolong tipe work-alholic, meski cenderung seperti ungkapan: “Every employee likes to do what he likes and not what should be done”.

Sebagian besar temannya mungkin merasakan hal yang sama saat ini. Entahlah, faktor apa yang menahan temannya tetap bertahan. Mungkin, harapan bahwa suatu saat perusahaan membaik karena jerih payah bersama saat ini, menjadi salah satu sebabnya. Meski tidak bisa dipungkiri pernyaatan Tim Roche: “But nine times out of 10 people are looking for enrichment”, bukan hal yang mustahil.

Sepuluh tahun kemudian ....

Dia bersua kembali dengan teman-temannya yang masih bertahan. Mereka tetap di sini. Bedanya, temannya sudah punya karir dengan jabatan lumayan. Memang tidak kaya secara materi, secukupnya saja. Menikmati dan bersyukur dengan pilihan profesi. Temannya seolah mengikuti petuah Robet L. Stevenson: "Don't judge each day by the harvest you reap, but by the seeds you plant". Padahal baginya, pendirian temannya seperti itu tidaklah menantang. Tidak menggairahkan. Tanpa sensasi. Mencintai pekerjaan kadang beda dengan mencari penghasilan. Seperti petuah Abraham Lincoln: “My father taught me to work; he did not teach me to love it”.

Memang kehilangannya tidak berdampak besar. Perusahaan tetap baik-baik saja, bahkan membaik. Itu bukan berarti dia pribadi yang biasa-biasa saja. “There’s the cost of interviewing, recruitment, lost productivity when someone goes and training and development when someone comes on”, ungkap Nicholas Barnett. Selalu ada biaya dari fenomena: “Easy Come Easy Go”, termasuk harga dari sebuah pertemanan. Jadi, kemunculannya secara tiba-tiba pun disambut gembira.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x