Mohon tunggu...
Budi Hartoyo Wahidin
Budi Hartoyo Wahidin Mohon Tunggu... Wiraswasta - Pembelajar Pendidikan dan Sosial

Saya adalah seorang pembelajar yang menyukai dunia pendidikan dan sosial. Salah satu ketertarikan saya adalah membuat perencanaan dan memberikan pandangan-pandangan tentang dunia pendidikan. Disamping dunia pendidikan, ketertarikan lain adalah kegiatan yang menghadirkan nilai- nilai kebersamaan.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Menjaga Eksistensi dan Mengedukasi Bahasa Daerah

21 September 2022   16:42 Diperbarui: 21 September 2022   16:49 331 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Birokrasi. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Salah satu kesyukuran sebagai bangsa Indonesia adalah diciptakannya bangsa ini dengan keragaman sosial dan budaya. Sebagai orang Indonesia, ini adalah anugrah yang Tuhan hadiahkan kepada negeri ini, dan harus disyukuri. 

Keragaman sosial dan budaya Indonesia terbentang mulai dari ujung Barat sampai ujung Timur. Keragaman ini tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Konteks keragaman sosial dan budaya ini, mulai dari perbedaan adat istiadat, suku bangsa, pakaian adat, rumah adat, tari tradisional, kesenian daerah, lagu daerah, sampai keragaman yang dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk berkomunikasi. Keragaman itu tidak lain adalah bahasa daerah.

Bahasa daerah adalah salah satu jenis keragaman sosial dan budaya di Indonesia yang tidak semua bangsa di dunia miliki. Sebuah keunikan dan kekayaan tersendiri yang tentu harus dijaga dan dilestarikan eksistensinya. 

Tentu saja, agar eksistensi dan keberlangsungan penggunaan bahasa daerah ini tidak akan menemui ancaman kepunahan. Karena bukan hal yang tidak mungkin, dalam berapa tahun yang akan datang, bahasa daerah ini, benar-benar akan menemui masa kepunahan. Dan ini menjadi pekerjaan setiap orang dan tentu pemerintah.

Menurut data di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan. Penelitian ini telah diidentifikasi dan divalidasi sejak tahun 1991 hingga 2019. Terdapat 718 bahasa dari 2.560 daerah pengamatan, yang tersebar dari seluruh wilayah Indonesia. 

Data bahasa daerah ini, tidak termasuk dialek dan subdialek. Jumlah yang cukup besar dan tentu memerlukan upaya-upaya yang besar pula untuk bisa menjaga eksistensi ini.

Lalu pertanyaannya adalah, bagaimana upaya dalam menjaga dan melestarikan bahasa daerah ini ? Setidaknya ada beberapa upaya untuk menjaga eksistensi bahasa daerah agar bisa terawat dan bisa membumi dari generasi ke generasi. 

Pertama, upaya ini harus hadir dihadirkan ditengah-tengah keluarga. Artinya sebagai orangtua, harus bisa mengedukasi anak-anak. Yang paling sederhana adalah, hal secara alamiah terjadi ditengah keluarga. Yakni, bahasa komunikasi yang digunakan oleh orangtuanya, adalah bahasa daerah dimana mereka berasal.

Kemudian untuk mengedukasi lebih lanjut, membuat kegiatan atau waktu khsusus untuk mengenalkan dan mengajarkan anak dengan bahasa daerah. Meskipun upaya pertama ini,  biasanya terkendala ketika kedua orangtuanya, bukan berasal dari bahasa daerah yang sama. Tetapi ini bukanlah kendala yang besar, justru malah bisa mengedukasi dengan dua bahasa daerah sekaligus.

Upaya yang kedua melalui jalur pendidikan, bahasa daerah selama ini sudah masuk struktur kurikulum di lembaga-lembaga pendidikan. Sebagai contoh di wilayah Jawa Barat, bahasa sunda sudah banyak diajarkan di sekolah-sekolah. 

Contoh lain, bahasa cirebon atau basa bebasan, sudah masuk pelajaran di sekolah-sekolah yang berada di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon, mungkin juga di wilayah Kabupaten Indramayu. Karena di tiga wilayah itu, memang secara umum, bahasa keseharian masyarakatnya adalah bahasa jawa Cerbonan dan Dermayuan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan