Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional highlight headline

Balada Cinderamata Berbahan Fiber

17 Juni 2017   01:39 Diperbarui: 17 Juni 2017   09:37 127 4 0
Balada Cinderamata Berbahan Fiber
Putu Subaga dan aneka barang kerajinan yang dibuat dengan menggunakan fiber. Bahan bakunya lebih murah, hasil lebih indah dan tidak terkena larangan eksport.(Dokumentasi Pribadi)

Semenjak adanya larangan membawa dan mengirim kerajinan berbahan kayu, banyak perajin yang terpuruk. Toko yang dulunya jadi penjual ukiran kayu berubah fungsi jadi tempat cukup, salon spa atau bakmi ayam. Ini terlihat di Tegallalang yang 10 tahun terakhir sentranya kerajinan kayu. Tapi bagi Putu Subaga 40 tahun, larangan itu menjadi tantangan tersendiri.

“Selama ini saya terbiasa membuat kerajinan berupa piring cangkir dari kayu trembesi, sengon dan albasia dengan menggunakan mesin bubut,” tutur perajin kelahiran Pejeng Gianyar Bali.

Larangan itu tentu saja membuatnya shock, bahkan hampir gila, karena pesanan yang tiba tiba dibatalkan padahal kayu yang disiapkan sudah dibayar lunas. Tapi Subaga tak mau berlama lama terpuruk dalam ketidak pastian, memang ada yang menyarankan untuk mengurus sertifikat, mencari ijin, dan banyak lagi solusi yang bagi Subaga tidak masuk diakal.

“Mengurus ijin bisa tahunan, sedangkan dapur saya, bedak istri dan buku anak tak bisa ditunda sehari,” ungkap ayah 3 putra ini. Berbekal nekad dia magang pada perajin mebel  yang membuat meja bambu tapi dilapisi fiber glass.

“Bahannya memang sintetis tapi keindahannya tetap memukau karena warna warni dan yang terpenting tidak terkena embargo,” tuturnya.

Setelah magang selama sebulan Subaga mulai hafal dengan rumus campuran resin dan katalis untuk mengentalkan fiber yang akan dijadikan kerajinan seperti piring dan juga cangkir.

“Saya mesti meninggalkan cara lama, membubut sengon mengamplas dan memahat, menjadi akrab dengan mangkok porselen dan timbangan kue,” selorohnya. Kedua alat itu untuk menakar resin dan menimbang bahan baku fiber agar campurannya tepat.

Subaga juga harus membuat cetak biru barang kerajinan yang akan dibuatnya, yang terbuat dari klay atau lempung sintetis.

Dia tak mau menggunakan cangkir atau piring yang telah jadi, karena sudah banyak yang membuat.

“Piring saya buat segi empat oval lengkung bahkan ada yang seperti kejepit bangku, karena tanah lempung bisa dibentuk sesuka hati sesuai imaji,” tuturnya. Setelah master tercipta dia mesti membuat negatifnya terlebih dahulu. Piring lempung itu diolesi mentega agar tidak lengket dengan silikon yang dibalurkan disekujurnya.

“Proses membuat negatif ini juga perlu perhitungan yang tepat, bagaimana membuat agar setelah kering tidak tejadi yang namanya terkunci dalam silikon,” ungkapnya. Bentuk yang rumit sengaja dihindarkan agar saat silikon sudah mengering negatifnya tidak cacat.

Barulah setelah cetakan silikon itu siap, campuran resin dan katalis dituangkan atau dibalurkan sesuai dengan kebutuhan. Saat menuang resin itulah aneka hias dalam piring bisa disertakan, bisa dalam bentuk rumput kering, atau campuran resin beda warna yang nantinya akan menghasilkan keindahan yang tak terduga.

Setelah resin kering, tugas berikutnya adalah menghaluskan piring dan kerajinan lain yang dicetak sesuai dengan kebutuhan. Bila mengamplas kayu menggunakan amplas kertas maka mengampas kerajinan berbahan fiber harus menggunakan mesin gerinda dengan kekasaran amplas yang bertingkat. Kasar saat diawal dan paling halus terakhir.

“Untuk membuatnya mengilat digunakan gerinda yang dilapisi kain handuk sehingga tahan gores dan kita bisa bercermin,” tuturnya. Karena dibuat masal maka harga kerajinan fiber jadi lebih murah. Piring kayu yang dibubut dengan sedikit vernis atau pilitur dijual dengan harga Rp 25.000.

Sedangkan yang berbahan fiber hanya Rp 12.000, karena tak perlu membeli mahal bahan baku, cukup sejerigen resin, sebotol katalis dan seember silikon maka jadilah ratusan piring dan cangkir yang indah dengan aneka bentuk dan warna.

“Dengan bahan baku buatan pabrik sekaligus juga saya seperti ikut melestarikan lingkungan karena tidak lagi mendorong pencurian kayu, dan mengganggu tetangga karena mesin bubut yang beroperasi siang malam,” tutur Subaga.