Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Nelayan Tangguh dari Muncar

15 Januari 2019   03:41 Diperbarui: 15 Januari 2019   03:47 256 7 1
Nelayan Tangguh dari Muncar
Suasana pagi di pantai Kelan, nelayan Muncar dengan armada slereknya membongkar tongkol dan tuna.(Dokumen Pribadi)

Pantai Kelan Bali, suatu pagi bergitu hiruk pikuk oleh teriakan para manol. Sebutan bagi buruh angkut yang menyiapkan aneka kebutuhan para nelayan. Mulai dari persediaan es sampai asupan gizi bagi pelaut ulung yang kebanyakan dari Muncar itu. Pantai yang berlokasi di sebelah selatan bandara Ngurah Rai ini hampir selama 30 tahun belakangan menjadi tempat mendaratkan lemuru, tongkol juga layur dan udang, hasil tangkapan nelayan Muncar.

"Dulu hanya ada 30 nelayan Kelan yang melaut sore hari untuk memancing gurita di sekitar bandara," kenang Made Jata, 61 tahun nelayan asli Kelan. Peralatan yang mereka miliki hanya pancing bertali nilon dan berpelampung sederhana.

Datanglah kemudian puluhan nelayan Muncar membongkar lemuru, nelayan Kelan tetap eksis dengan menjadi pengangkut nelayan dan buruh angkut menggunakan jukung bercadik tunggal.

Selagi nelayan Muncar datang dengan perahu sekoci ataupun slerek yang daya angkutnya mencapai 20 ton.

"Sejak awal nelayan Kelan dan nelayan Muncar memang melakukan kerja sama yang saling menguntungkan, kami menyediakan tempat sandar, mereka melajut sepanjang malam," tambah Jata lagi.

Sebelum melaut di sore hari, kesibukan terjadi ketika jukung bercadik mengangkut perlengkapan jaring ketengah laut. Juga mengangkut es balok dan umpan untuk keperluan semalaman berburu tongkol.

"Setiap kali angkut kami mendapatkan Rp 30.000 yang bayarannya keesokan harinya berupa beberapa kilo ikan," ungkap Jata. Setiap nelayan pemilik jukung di Kelan punya langganan sampai 15 juragan selerek. Mereka tidak pernah mencatat langsung secara tertulis, cukup dengan saling mengingat saja.

"Tidak pernah terjadi yang namanya lupa bayar atau bayarana telat atau dihutang," ungkap Jata. Ini karena nelayan Muncar memiliki kepercayaan bahwasanya, setiap orang yang membantu kelancaran mereka melaut akan dianggap sebagai saudara sendiri.

"Maka perselisihan antar nelayan lokal dan pendatang tidak pernah terjadi,"  ungkap Jata. Sepanjang sejarahnya selama 30 tahun menjadi tepat pendaratan lemuru tidak sekalipun terjadi huru hara masalah pembagian hasil.

"Yang sering terjadi justru, kami larut dalam suasana riang gembira minum arak merayakan hasil tangkapan yang membuat slerek kami nyaris tenggelam," ungkap Supeno, 48 tahun nelayan Muncar yang sedang membongkar lemuru di pantai Kelan. Kekerabatan antara nelayan beda suku ras dan agama itu terjalin karena satu kepentingan. Mendaratkan ikan sebanyak mungkin, melakukan pembagian dengan merata setelah itu mereka bisa menjalani hidup dengan penuh kegembiraan.

"Nelayan Muncar termasuk yang beruntung karena bisa mendaratkan ikan dimana saja mulai dari Jember, Pancer, Grajagan sampai ke Prancak dan Kelan," tutur Supeno lagi. Dia segagai generasi ke 7 keturunan nelayan Muncar ingat betul bagaimana  nelayan Muncar merintis usahanya sedari kecil tanpa modal.

"Ayah dan kakek saya mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat, kala itu jaman Soeharto berupa 5 kapal slerek  tiap kelompoknya," kenang Supeno. Slerek peninggalan presiden jaman orde baru itulah yang berevolusi menjadi slerek berdaya angkut 20 ton seperti sekarang ini.

Mereka tidak pernah menuggak kredit, bahkan melunasinya sebelum waktunya. Ini karena pada bulan pancaroba seperti sekarang ini perairan di teluk Jimbaran menjadi tempat bersembunyi ikan lemuru.

"Bisa ditebak bila ada lemuru ikan pemangsa yang lebih besar seperti tenggiri, tuna dan tongkol pasti ikut nimbrung," tutur Supeno. Tugas dia dan seluruh armada slerek untuk menangkapnya dengan peralatan semi permanen.

Jala dan pancing ditebar begitu matahari tenggelam dan diangkat keesokan harinya. Kadang mereka mendapatkan 2 kwintal tongkol dan lemuru sekali angkat.

"Teluk Jimbaran ini tidak kenal yang namannya musim paceklik seperti Muncar dan Pancer," imbuhnya. Maka tak heran, pantai Kelan pada saat seperti sekarang ini tetap hiruk pikuk sejak pagi buta, saat kegiatan nelayan menggeliat demi menyediakan asupan sarat omega 3 bagi para penggemar ikan.