Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Adu Baliho di Tahun Politik

13 Januari 2019   00:40 Diperbarui: 14 Januari 2019   09:33 490 10 2
Adu Baliho di Tahun Politik
Baliho berderet sepanjang 25 meter di tikungan jalan di Lukluk. Kesadaran yang tinggi dari semua pihak membuat baliho tidak dirobek dan dilempar orang.(Dokumen Pribadi)

Tengoklah sepanjang jalan dari arah Denpasar sampai Gilimanuk, pandangan akan kepentok pada baliho setinggi tiang listrik berisi gambar calon anggota dewan yang akan maju pada Pemilihan Legislatif, April mendatang.

Di salah satu tikungan bernama Lukluk sekitar 10 km arah barat Denpasar jalan sepanjang 25 meter ditutupi tak kurang dari 8 baliho raksasa. Yang maju bukan saja politikus dari kampung sekitar tapi dari tempat yang jauh. Ada yang maju untuk tingkat propinsi, kabupaten, sampai untuk tingkat pusat.

"Jelang pemilu legislatif yang mujur bukan saja penyablon kaos tapi juga penjual usuk bambu dan buruh tukang gali sumur," ungkap Ngurah Bayu, 45 tahun, pelaku pemasangan baliho asal desa Mengwi Bali. Dia setidaknya memiliki hubungan yang baik dengan 5 calon anggota legislatif yang maju dari tingkat kabupaten.

"Sejak pemilu 2004 tiap lima tahun sekali saya khusus mengambil borongan memasang baliho," tuturnya. Waktu pertama kali terjun, dia masih mencari format yang paling simpel. Yakni menggunakan bambu bercampur kayu usuk untuk rangka baliho.

"Agar alami dan menyatu dengan lingkungan saya gunakan tali bambu untuk mengikatnya bukan menggunakan paku," tutur Ngurah Bayu lagi. Dengan tali dari pelepah daun kelapa tua didapat kekuatan yang optimal.

Baliho akan kencang ditempatnya tak mempan diterjang angin atau dilibas hujan. Beda dengan menggunakan paku baliho biasanya ambruk bila diterpa angin kencang.

"Barangkali karena tali guntung lebih erat belitannya sehingga rangka baliho seperti menyatu dengan amat baik," tuturnya.

Setiap baliho menghabiskan sekitar 2 bambu yang dibelah menjadi 4 bagian. Baliho yang biasanya bergambarkan wajah separo badan diikatkan menggunakan guntung.

"Kesannnya seperti layar tancap yang muncul ditengah lapangan," ungkap Ngurah Bayu berpromosi. Tidak sekedar gambar kaku yang tiba tiba muncul meminta calon pemilih untuk memberikan dukungan.

Dengan penampilan yang dibuat modis artistik baliho memberi pesan bahwa sang calon anggota dewan ingin mengabdi dengan tulus.

"Setidaknya untuk biaya pemasangan dan pekerjaan njlimet lainnya mereka membayar dengan tulus," ungkap Bayu lagi.

Untuk seutas bambu dan tali guntung setidaknya setiap baliho menghabiskan Rp 25 ribu. Untuk menggali 2 lubang untuk menancapkan tiang dia menggunakan jasa tukang gali sumur.

"Mereka memiliki alat seperti sekop tapi kerjanya vertikal bukan horizontal," tambahnya. Setiap lubang dibayar tak kurang dari Rp 8 ribu. Sekali beroperasi Ngurah mengerahkan sekitar 8 tenaga mulai dari merangkai rangka baliho, menggali lubang, sampai memasang dan mengikatnya dengan kuat.

Untuk setiap baliho untuk saat ini tak  kurang dari Rp 75 ribu yang dihabiskan oleh setiap calon anggota  legislatif. Tapi jaminannya adalah baliho kokoh berdiri sampai saat hari pencoblosan.

"Kami memiliki tim yang memantau setiap hari keberadaan baliho itu, kalau ada yang doyong diluruskan, bila ada yang sobek ditambal dengan lakban," tambahnya.

Untuk urusan baliho selain melibatkan partai yang juga ikut turut andil adalah praktisi seperti Ngurah Bayu ini. Selain hasil kerja harus tampak prima sampai akhir, dia juga memastikan tidak ada gangguan dari lawan politik.

"Caranya dengan melakukan pendekatan pada sesama pemasang baliho, jadi semuanya tahu sama tahu," ungkapnya.

Dengan penghasilan yang lumayan dari usaha memasang baliho yakni sekitar Rp 7 juta sebulan bersih Ngurah berharap agar pesta demokrasi itu bisa berlangsung dengan aman dan lancar.

"Sekarang orang sudah tidak begitu fanatik seperti masa lampau yang kadang balihonya dilempar atau dicoreng dan disobek," tuturnya lagi. 

Dengan kesadaran yang tinggi seperti itu setidaknya sampai musim pencoblosan tiba dia tidak perlu menghabiskan tenaga dan dana untuk mengganti baliho yang rusak.