Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Pilihan

Busana Adat Anak Milenial

10 Januari 2019   05:11 Diperbarui: 10 Januari 2019   05:15 520 5 0
Busana Adat Anak Milenial
Kebaya terawang dikenakan dalam penyelenggaraan berbagai ritual terutama yang dilakukan di luar rumah.(Dokumen Pribadi)

Pada jaman dulu busana adat untuk aneka kebutuhan upacara di Bali sederhana saja. Kain songket dan kebaya dari katun atau rayon. Bentuknyapun simpel, lengan panjang dan tertutup sampai ke bagian leher. Namun generasi milenial yang berumur 21 sampai 38 tentu tak peduli dengan busana adat jadul, mereka menuntut busana adat kekinian. Muncullan aneka macam brokat yang selain bordirannya indah juga teksturnya memikat. Ada bagian yang tidak dibordir tapi setipis sutra.

"Ini termasuk brokat keluaran pabrik di China daratan, harganya semeter bisa Rp 3 juta dan ongkos jahitnya Rp 300,000," tutur Sri Wahyuni, 28 tahun perancang busana adat di Bali.

Bagi generasi milenial busana dengan bagian transparan di bagian punggung bukan sesuatu yang mesti dihebohkan apalagi dianggap merontokkan iman. Bagi mereka itu hanya sekedar mode.

Sebelumnya kebaya jadul yang cepak sempat digilas oleh mode yang disebut potongan jengki.

"Dipopulerkan oleh penyanyi pop Bali, busana berbahan brokat bordiran itu panjangnya menjuntai sampai semeter mode itu sempat trend selama 3 tahun." Tambah Sri.

Kehadiran brokat dengan banyak terawangan tembus pandang itu ngehit sejak setahun belakangan. Dikenakan dalam banyak kesempatan mulai dari ritual harian, maupun untuk kondangan. Warnanyapun meniru warna pelangi, mulai dari merah jinga kuning hijau biru nila dan ungu.

"Setiap orang kadang memiliki sampai 5 warna kebaya terawang macam itu," tutur Sri. Tidak ada yang kaget, pemiliknya juga tidak risih. Bordiran berterawang hanya ditempatkan di bagian yang sopan, di lengan dan di punggung. Tidak ada yang nyeleneh menempatkannya di bagian dada.

"Barangkali artis penyanyi dangdut berani melakukan itu,  perempuan di Bali masih mementingkan kesopanan tidak hanya sensasi belaka," tambah Wahyuni sang penjahit kebaya itu.

Penjualan bordir berterawang macam itu juga semakin marak. Adanya di sekitar jalan Sulawesi Denpasar. Tempat itu sejak jaman penjajahan memang dihuni oleh keturuan Tamil India. Mereka mendapatkan kain dari industri bordir di negeri yang penduduknya juga beragama Hindu.

Kain didatangkan tiap minggu dalam jumlah sampai 200 ton dengan menggunakan kapal laut. Di pelabuhan Benoa setiap minggunya ada kapal khusus pengangkut kain yang bongkar muatan. Bordiran terawang hanya satu jenis saja kain yang dibongkar disana. Ada sutra, rayon dan katun.

"Tapi yang berbelanja kebanyakan mengincar brokat India yang kondang di seluruh dunia," ungkap Samsir, 65 tahun pedagang brokat di kampung Tamil itu.

Secara turun temurun penduduk kampung Tamil memang berjualan kain, jumlahnya tak kurang dari 200 toko di barat dan timur jalan Sulawesi. Diantara penjual kain ada juga toko milik keturunan Tionghoa yang menjual dupa dan gadget. Tapi yang banyak diserbu adalah pedagang brokat.

"Brokat dengan terawang itu sudah ada sejak jaman dulu, tapi hanya dimanfaatkan untuk jadi selendang, generasi milenial yang kemudian berani menggunakannya sebagai busana adat milenial," ungkap Samsir. Dan itu wajar saja, karena mereka tak ingin membontot kebiasaan orang tua mereka.

"Maunya yang lain dari yang lain kekinian pokoknya," tutur Sri Wahyuni lagi. Dalam sebulan tak kurang dari 25 pelanggan datang dengan permintaan dibuatkan kebaya terawang. Biasanya dikenakan untuk mengikuti ritual adat, atau menghadiri upacara perkawinan. Tidak ada yang risih atau mencibir.

"Yang ada justru kagum karena penggunanya jadi tambah seksi dan pasti punya uang lebih," tutur Sri.

Bagaimana tidak untuk sepotong kebaya setidaknya diperlukan 2 meter kain. Bila kain termurah harganya Rp 1 juta bisa dipastikan anggaran untuk sepotong kebaya itu tak kurang dari Rp 3 juta. Rp 2 juta untuk kain, Rp 300.000 untuk ongkos jahit, dan sisanya untuk biaya transportasi dan biaya makan selama proses pembelian sampai pengambilan kebaya trawang itu sendiri. Busana adat kekinian memang sepintas tampak ribet tapi ujung ujungnya adalah pengeluaran yang tidak terduga duga.