Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Menjaga Bahasa Bali agar Tidak Punah

5 Januari 2019   10:36 Diperbarui: 5 Januari 2019   15:01 951 19 10
Menjaga Bahasa Bali agar Tidak Punah
Waitres di salah satu caf di Kedonganan mengenakan busana adat saat malam bulan purnama.(Dokumen Pribadi)

Pernah terjadi kekhawatiran tahun 2040 bahasa Bali bakal punah. Penggunanya segelintir saja atau malahan tidak ada, mirip bahasa Jawa Kuno yang saat ini hanya dipergunakan oleh para dalang. Alasannya, anak yang lahir dari orangtua asli Bali, sejak usia dini sudah menggunakan bahasa Indonesia, bukan bahasa ibunya yakni bahasa Bali.

Ibu-ibu yang melahirkan saat ini, sebagian besar memang sudah tidak menggunakan bahasa Bali lagi untuk berkomunikasi dengan putra putri mereka. Dulunya hanya diperkotaan saja yang gencar menggunakan bahasa Indonesia, tapi sekarang anak di kampung terpencil seperti di Puhu Bangli, atau di Bukit Bau Kintamani sudah sejak kecil menggunakan bahasa Indonesia.

Bahasa Bali yang ribet, mengenal 3 strata, menyebabkan dia seperti terpinggirkan. Misalnya untuk menanyakan apakah seseorang sudah makan, akan ada 3 pertanyaan yang muncul.

Subo medaran, artinya sudah makan, bahasa Bali ini ditujukan untuk mereka yang kita kenal, seumuran, serta sahabat dekat.

Dengan arti yang sama, sampun ngajeng, ditujukan untuk mereka yang kita tidak kenal, mereka yang merupakan atasan kita atau yang lebih tua. Sedangkan bila bertanya kepada bangsawan, sudah makan menjadi, cokor iratu sampun keni panugran dewi sri.

Untuk bertanya kepada kalangan berkasta, kaum ningrat, pejabat dan aparat, baik di desa keluharan dan tingkatan yang lebih tinggi lagi, disertai dengan mata terpejam dan kedua tangan dikepalkan di depan pusar.

Maka kaum muda yang saat ini lebih pragmatis dan skeptis menggampangkannya dengan tidak perlu pusing memikirkan apakah ini untuk teman untuk yang lebih tua ataupun pejabat. Bahasa Indonesialah yang mereka jadikan pilihan.

Namun terpilihnya Wayan Koster sebagai gubernur Bali periode 2018-2023 membawa angin segar. Bahasa Bali harus dipergunakan kembali sejak dari awal. Saat memeriksa bayi di posyandu, perawat dan doker diwajibkan menyapa ibu muda dengan bahasa Bali.

Bayi yang ditimbang dan belum bisa berkomunikasi sudah akrab dengan bahasa ibunya sejak kecil. Dari posyandu dengan perawat yang berbahasa halus sembari berbusana adat itu, semua kekhawatiran akan sirna seketika. Walau bahasa Balinya yang menengah bukan yang super ribet.

Penggunaan busana adat Bali di sekolah digencarkan yang pada awalnya pada hari purnama sekarang ditambah lagi menjadi setiap hari kamis, dan bukan hanya untuk murid, tapi juga karyawan swasta, supir, penjaga toko dan semua yang bersinggungan dengan turis.

Waitress caf di Jimbaran, Kedonganan, Kelan dan tempat lainnya di Bali diwajibkan mengenakan pakaian adat. Pada hari purnama mereka tampak berbeda. Suasana pantai yang temaram jelang mentari tenggelam tampak semakin semarak dengan kehadiran waitres berpakaian adat ini.

"Pelayanan mereka juga sangat bagus, barangkali disesuaikan dengan busana yang dikenakan," tutur Carmel, 26 tahun pengunjung caf di Kelan Bali.

Sedangkan bagi pelakunya yakni para waitress yang wajib berbusana adat Bali pada hari purnama menjadikan mereka lebih semangat. Penjualan pada hari wajib busana adat itu juga meningkat secara signifikan.

"Uang tips juga lebih banyak bila kita mengenakan busana adat," tutur Yuni 28 tahun, waitres di Blue Ocean Caf.

Begitu juga papan nama di berbagai tempat seperti sekolah perkantoran dan bahkan bandara dan pelabuhan diwajibkan menggunakan aksara Bali. Dengan membiasakan melihat dan membaca aksara Bali setiap orang merasa memiliki dan ikut menjaganya demi lestarinya bahasa dan budaya Bali sampai seterusnya.

Peranan pemimpin Bali yang baru yang begitu peduli pada kelestarian bahasa dan budaya Bali tentu sangat besar dalam hal ini. Setidaknya kepunahan Bahasa Bali tahun 2040 itu bisa ditunda untuk sementara.