Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Petani Makmur di Sanur

6 Desember 2018   17:45 Diperbarui: 6 Desember 2018   18:45 397 7 1
Petani Makmur di Sanur
Made Cetug, petani makmur dari Sanur. Setiap hektar sawah yang digarapnya bisa menghasilkan 11 ton gabah.(Dokumen Pribadi)

Kepemilikan lahan yang terbatas, biaya produksi yang naik tapi harga produk pertanian yang anjlog menjadikan petani menghadapi dilema. Diteruskan menjadi petani seperti tenggelam dalam gelas, berhenti jadi petani mereka tidak memiliki ketrampilan lain diluar bajak, cangkul sabit dan linggis.

Beberapa kawasan pertanian di Bali seperti di Canggu, Seminyak, Dalung sudah sejak 10 tahun yang lampau mengucapkan selamat tinggal kepada cangkul dan sabit. Ribuan hektar kawasan pertanian di kawasan tersebut berubah jadi villa atau resort dan sarana pendukung wisata.

Alih fungsi lahan yang sporadis karena petani yang sudah bosan dengan bajak dan pragmatis ingin hidup tenang, tidak terjadi di Sanur Bali

"Petani disini pantang menjual sawahnya, kalaupun ada bangunan pendukung pariwisata itu merupakan tanah tegalan yang memang tidak mendapatkan aliran air," tutur Made Cetug 72 tahun petani asli Sanur. Subak atau organisasi pertanian tradisional di Intaran itu melingkupi kawasan seluas 100 hektar. Seluruh petani penggarap dan pemiliknya asli sanur.

"Selain pantang menjual sawah, juga karena sawah disini termasuk kelas satu, mendapat aliran air langsung dari sungai Ayung," tutur kakek 3 cucu ini.

Saat mengikuti lomba pertanian tingkat nasional subak Intaran membukukan hasil yang mencengangkan. Perolehan gabah perhektar mencapai 11 ton jauh diatas rata rata nasional yang hanya 9 ton saja.

"Karena tidak percaya dewan jurinya langsung terjen melakukan penimbangan ulang dan mereka kagum karena itu hasil sebenarnya," tutur Cetug.

Persawahan di bagian barat Sanur ini memang mendapatkan aliran air yang melimpah, kemudian kontur tanahnya datar tidak berundak, sehingga pemerataan air menjadi sempurna.

Disamping itu petani juga menerapkan sistim berimbang dalam memberlakukan areal persawahan mereka. Sekali tanam palawija berupa jagung atau semangka setelah itu 2 kali ditanami padi.

"Ini demi menghindarkan hama sangit dan wereng berkembang dengan leluasa, karena siklus perkembangannya diputus dengan jeda selama 3 bulan," tutur Cetug lagi.

Dia sendiri menggarap lahan seluas 2 hektar, dengan hasil gabah sekitar 20 ton setiap kali panen. Dengan harga gabah perkilonya saat ini sekitar Rp 4000 dalam satu musim panen dia mendapatkan tak kurang dari Rp 80 juta.

"Dipotong ongkos traktor, bibit dan obat semprot hasil bersihnya tak kurang dari Rp 50 juta sekali musim tanam," tambahnya. Ini disebutnya sebagai pemberontakan terhadap kesan umum bahwa petani itu gurem terpinggirkan.

"Di Sanur petaninya sejak zaman Jepang, zaman revolusi sampai zaman reformasi tetap diatas angin, kami tidak pernah disebut sebagai petani miskin karena kami juga berhak untuk hidup makmur," ungkap Cetug. Dan itu terlihat jelas ketika dia memberikan solusi bagaimana saluran air mestinya dibuat. Dihadapan aparat desa, kepala subak yang disebut pekaseh dia mengusulkan agar senderan saluran air dibuat tidak terlampau menyudut.

"Sebagai petani kami lebih paham bagaimana tabiat air dan bagaimana daya tahan saluran air mesti di bangun," tuturnya dengan penuh semangat.

Areal persawahan di Sanur saat ini memang sedang direvitalisasi, tidak ada lagi pematang yang jebol kanan kiri. Semuanya di beton dengan lapisan paving warna merah diatasnya.

Petani seperti Cetug dan ratusan petani lainnya di Sanur tentu saja diuntungkan mereka tidak kewalahan mengangkut pupuk ataupun hasil panen mereka keluar areal persawahan.

"Dengan jalan yang bagus kami tidak rugi untuk menggarap sawah dengan cara optimal karena gabah bisa diangkut tanpa kendala juga pengangkut rabuk dan traktor bisa melintas dengan leluasa," tambahnya.

Petani di Sanur selain mendapatkan limpahan air sepanjang tahun dari sungai Ayung, secara turun temurun juga menerapkan cara tanam yang unik. Jarak tanam tidak boleh kurang dari 15 sentimeter. Hanya ditanami 3 bibit dalam satu rumpun sehingga anakannya akan maksimal sekitar 150 rumpun tiap kelompok. Dan pengawasan semacam itu diimbangi dengan pengetahuan yang mumpuni seputar pestisida pembasni hama sampai obat untuk merontokkan keong racun.

"Wereng dan sangit tak pernah muncul di Sanur hanya ada keong racun dan itupun cara basminya sudah kami temukan yakni dengan menyemprotkan furadan," ungkap Cetug.