Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Pesona Muara Petanu

9 Oktober 2018   04:58 Diperbarui: 11 Oktober 2018   02:54 2997 7 1
Pesona Muara Petanu
Suasana di muara Petanu yang menawan mengundang banyak wisatawan dan pemancing amatir.(Dokumen Pribadi)

Sungai terbesar di Bali ini membentang sejauh 50 km dari danau Batur di Kintamani sampai pantai Saba di selatan kota Gianyar. Berkelok melewati kawasan sejuk mulai dari Bayung, Taro, Tampaksiring, Goa Gajah, Kemenuh, Blahbatuh Sukawati berakhir di desa Saba. Kedalamannya di hulu sekitar 300 meter, sehingga tidak bisa dimanfaatkan sebagai arena untuk berarung jeram.

Ada legenda mengerikan seputar sungai ini yang beredar sejak ratusan tahun. Konon di bagian Petanu hulu jaman dulu, terdapat kerajaan yang rajanya bernama Mayadanawa. Dia memerintah dengan sekehendak hati. Suatu ketika sang raja melarang rakyatnya memberi persembahan kepada para dewata. 

Semua persembahan agar dihaturkan hanya kepada sang raja. Sampai kemudian rakyat menentang dan mengundang orang sakti untuk membunuhnya. Sang raja terbunuh, dan aliran darahnya jatuh ke sungai Petanu. Sebelum kematian menjemput, Mayadanawa mengunjar kutukan agar supaya aliran sungai Petanu tidak bisa mengairi persawahan. 

Entah benar entah tidak, sampai sekarangpun tidak ada persawahan di Kabupaten Gianyar yang mendapatkan aliran air dari Petanu.

Pesan moralnya adalah, sejahat apapun seorang raja janganlah dia dibunuh tanpa diadili. 

Tentang Petanu yang tidak mengairi persawahan, penyebabnya karena kedalamannya yang sekitar 300 meter, tidak mungkin membendung aliran Petanu untuk mengairi persawahan yang ada diatasnya. Namun penduduk yang bermukim di sekitar Petanu termasuk yang mendapatkan banyak manfaat. 

Ada banyak bambu, kayu liar, batu padas yang bertebaran sepanjang aliran Petanu yang bisa dimanfaatkan untuk aneka barang kerajinan. Mulai dari Tegallalang sampai Kemenuh, tebingnya dimanfaatkan sebagai tempat penggalian batu padas untuk ukiran.

Di Saba yang merupakan bagian hilir tempat Petanu bermuara, sejak jaman kerajaan sudah terkenal menjadi tempat lahirnya banyak seniman. Legong Saba yang merupakan bagian inti dari legong keraton lahir dari seniman yang bermukim di Saba.

"Tahun 40an, sudah mulai bermunculan turis ke Saba untuk mengetahui tempat lahirnya legong keraton, mereka juga mengagumi muara sungai Petanu," tutur Ngurah Bayu, 36 tahun penduduk asli Saba. Seniman penari dan penabuh pengiring legong Saba sejak jaman Indonesia merdeka sudah terbiasa mentas di Belanda, Belgia sampai Swedia.

Tahun 80an, Saba mulai dilirik wisatawan yang ingin membangun villa pribadi.

"Sawah saat itu hanya Rp 500.000 seare, saya menjual 6 ekor sapi sudah bisa mendapatkan 4 are sawah," ini penuturan Nyoman Santun 68 tahun. Ini dikarenakan kawasan ini terpencil jauh dari desa lainnya, jadi sepi dan sangat disenangi turis.

Alih fungsi lahan kemudian menggila di tahun 90an ketika jalan by pass membelah Saba menjadi dua. Bagian selatan langsung berhadapan dengan samudra Hindia yang menyajikan pemandangan aduhai, sedangkan di bagian utara berseberangan dengan desa Blangsinga yang memanfaatkan Petanu sebagai tujuan wisata ecotourism.

Jadilah Saba yang hingar bingar sepanjang hari, perumahan berdiri di bagian utara kampung. Rumah sakit dan klinik juga muncul meramaikan Saba. Penduduk yang sebagian petani seperti Nyoman Santun juga mendapatkan manfaat dari kemeriahan itu.

"Turis yang bermukim di sepanjang muara Saba sering berinteraksi dengan kami, mereka minta diajarkan cara membuat minyak kelapa, atau memasak betutu," tutur ayah 3 putra ini.

Setiap akhir pekan muara Petanu juga ramai dikunjungi para pemancing amatiran. Di muara Petanu mereka berharap bisa mendapatkan tongkol, tuna maupun kakap dan tengiri.

Yang tidak terlibat di bidang pariwisata dan pemancingan juga mendapatkan berkah dari mura Petanu. Mereka menggali batu sikas yang sebesar jempol ibu jari untuk dijadikan hiasan halaman atau hiasan dinding.

"Sekarung dikumpulkan selama seminggu bisa mendapatkan Rp 75.000," tutur Nyoman Santun. Selain dikunjungi turis, pemancing dan penambang batu sikar, muara Petanu juga digemari pelancong lokal. Mereka datang setiap waktu untuk menikmati pemandangan yang menyejukkan mata dan hati. Deburan ombak, angin semilir dan matahari yang tidak begitu terik menjadi menu utama di muara Petanu.

Kutukan Mayadanawa ribuan tahun yang lalu rupanya saat ini sudah tidak berlaku lagi, walau aliran Petanu tidak bisa menyuburkan persawahan, keelokannya sanggup menjadi pelipur lara bagi pengunjung yang datang setiap waktu.