Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Seniman yang Tetap Bertahan

5 Oktober 2018   14:27 Diperbarui: 8 Oktober 2018   05:06 2474 4 0
Seniman yang Tetap Bertahan
Pelukis abstrak beraksi menuangkan idenya diatas kanvas.(Dokumen Pribadi)


Masa keemasan seni lukis telah lama berlalu, masa ketika selembar lukisan ukuran 50cm dihargai sampai Rp 7 juta. Lukisan saat itu seperti barang mulia mirip berlian karena penggemar, kolektor, awam, galery, berlomba membeli lukisan.

"Dalam setahun saya pameran sampai 5 kali, setiap pameran ada 40 lukisan yang laku, uang seperti menggenang sampai ke toilet," tutur Edy 50 tahun seniman lukis asal Banyuwangi Jatim. Itu awal tahun 2000an, ketika seniman lukis di Ubud masih bisa dihitung dengan jari. Lukisan yang laku keras yang beraliran realis, mulai dari pemandangan alam sampai bawah laut dan bawah sungai.

Bom Bali mengubah segalanya, turis kala itu surut setahun tak muncul ke Bali. Saat bersamaan pelukis dan gelery malah bermunculan seperti jamur musim hujan.

"Saat ini tak kurang dari 300 pelukis numplek di Ubud, galery dan penjual lukisan juga bertebaran sepanjang jalan Lod Tunduh, Mas, Peliatan sampai Payangan," tambah Edy.

Bila dulu kebanyakan yang bersaing adalah pelukis yang nyeniman, mereka datang dari kalangan pelukis murni yang memang meliwati pendidikan seni rupa, saat ini yang bermunculan adalah pelukis dadakan.

"Tahun 2000an, lukisan harus benar benar cetar membahana baru digotong ke galery, sekarang lukisan setengah jadi sudah dipajang di art shop," tambah Edy. Tidak heran bila kemudian banyak lukisan yang mangkrak, persaingan menjadi begitu sengit di antara para pelukis.

"Lukisan saya ada yang setahun tak laku dan dibiarkan berdebu di galery," tutur jebolan SMSR ini. Padahal lukisan Edy sudah punya peminat serius, ada yang dari Hawaii, Jerman, Amerika.

Lukisan realis indah kemudian ditinggalkan karena trennya saat ini adalah abstrak. Cukup menghamparkan kanvas 80 cm di pelataran yang agak luas, kemudian sediakan acrilik yang agak cair. Kuas untuk mengecat tembok dicelupkan kemudian dikibaskan atau dipoleskan sesuka hati diatas kanvas. Tidak ada perenungan, pemilihan warna dengan perhitungan apalagi ide njlimet yang membuat dahi mengkerut.

Dengan gaya abstrak begituan nyatanya turis banyak yang mampir dan pura pura mengerti makna dibalik setiap lukisan.

"Tapi beda dengan jaman keemasan dulu, mereka datang hanya mampir tanya harga doang atau menawar murah," tambah Edy. Lukisan ukuran 1 meter dengan gaya abstrak hanya laku dijual Rp 800.000 saja. Barangkali karena bule melihat cara pembuatannya yang asal asalan, atau bisa jadi karena mutu kanvas, mutu warna dan mutu seniman yang anjlog.

"Di pasar seni Guwang, lukisan abstrak ukuran 2 meter bisa didapat dengan harga setengah juga saja sudah dengan bingkai," ungkap Edy nelongso. Maka menjadi pemandangan yang umum saat melihat seniman lukis di Ubud seharian hanya tepekur main catur, atau duduk duduk menanti tamu yang tak pasti.

"Tabungan dari masa lampau yang tak seberapa sudah tuntas tinggal ratusan ribu, kanvas habis warna habis lukisan menumpuk," tutur Edy dengan lesu. Harapannya masa kejayaan seni lukis Bali kembali berjaya seperti tahun 2000-an. Koi di tengah telaga pernah berjaya, atau kampung berkabut dan panen di sawah laku bagaikan kacang goreng.

Harapan tinggal harapan karena walau banyak pameran diadakan secara mandiri oleh komunitas peduli seniman, namun itu tak langsung mendongkrak harga karya mereka. Penggemar lukisan tetap tinggi, tapi hanya sekadar untuk menghias tembok di kediaman mereka bukan dinding perkantoran seperti di masa lampau.

"Lukisan untuk hiasan dinding rumah tak perlu mahal, yang penting cerah warnanya dan besar ukurannya serta murah harganya pasti laku," ini penuturan Made Surita, 56 tahun pemilik galeri di pasar seni Sukawati. Dia memiliki tak kurang dari 20 pelukis yang khusus menyediakan lukisan suveniran, istilah untuk karya yang dijual di pasar seni.

"Menyiasati pasar yang sepi semestinya seniman melakukan terobosan, dengan menemukan gaya dan bentuk baru tidak terpaku pada kejayaan masa lampau," Surita memberi saran.