Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Made Jani, Petani Andal dengan Segudang Pengalaman

12 Juli 2018   19:37 Diperbarui: 12 Juli 2018   19:59 440 1 1
Made Jani, Petani Andal dengan Segudang Pengalaman
Made Jani, petani serba bisa dari desa Kaba-Kaba Tabanan Bali. Dia menerapkan pertanian berselang seling.(Dokumen Pribadi)

Tahun ini dia genap berusia 83 tahun, tapi dari gurat wajah dan raut muka dia mirip seperti pria separo baya yang sedang puber kedua. Giginya masih utuh, pandangan terang bederang tanpa perlu kaca minus.

"Kalau tidak dihalangi cucu, saya masih mampu naik motor sampai ke Takmung," ungkap Made Jani mengawali kisah suksesnya. Lahir tahun 1935, dia mengalami penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang, jaman revolusi sampai reformasi. Saat penjajah Belanda bercokol di republik ini dia sudah bisa momong adik berkeliling kampung di desa Kaba-Kaba Tabanan. Suatu hari saat bermain di kali tak jauh dari kediamanya dia dan adiknya melihat ayam tercebur ke air.

"Tuan kompeni berbaik hati turun ke kali dan mengambil ayam yang basah kuyup," tutur ayah 3 putra ini. Dia mengaku tak bisa membedakan antara penjaah Belanda dengan bule yang sekarang kerap keluyuran dikampungnya.

"Sama sama tinggi dan hidungnya mancung," kenang kakek 8 cucu itu. Selain teringat kebaikan kompeni yang berpatroli menggunakan kuda dia juga terkenang kompeni yang selalu menggunakan topi laken warna krem.

"Saya pernah menemukannya teronggok ditengah sawah dan menyerahkannya ke tangsi," tambahnya. Setelah kompeni hengkang datanglah penjajah Jepang di tahun 42, dia teringat ayahnya yang ikut bekerja rodi membuat bandara Ngurah Rai. Orang sekampung di Kaba-kaba berangkat subuh dan pulang sore hari. Dia kerap melihat barisan buruh yang bekerja membuat bandara itu di jalan Kerobokan. Sampai kemudian Indonesia merdeka, Jani yang meningkat remaja menjadi hansip dan ikut menyambut Bung Karno di lapangan Puputan Badung.

"Kebiasaan beliau sebelum berpidato adalah menaiki motor besar berkeliling lapangan, saya ikut mengamankan penonton yang berjubel," tuturnya lagi. Setelah berkeliling lapangan barulah beliau berpidato yang menyemangati semua yang hadir dengan cara mengepalkan tangan dengan teriakan merdeka berulang kali.

Saat kemudian meletus gestapu dia sudah kawin dan menjadi buruh tani di Penebel, kampung yang merupakan lumbung padi yang jaraknya 30 km dari kampungnya. Dia menyaksikan sendiri bagaimana orang dihabisi secara brutal. Tapi dia tidak diusik sedikitpun karena tidak terlibat gerakan merah.

"Waktu itu saya mencangkul sawah selama 3 hari bisa mendapatkan sekwintal gabah, dan ketika jumlahnya 2 ton bisa ditukar dengan setengah  hektar sawah," tuturnya bangga. Dari hasil menjadi buruh tani, selama 5 tahun itulah dia bisa menukar gabah dengan 3 hektar sawah yang digarapnya sampai saat ini. Pemilik sawah adalah kalangan bangsawan yang bila melakukan upacara adat biasa menukar sawah dengan gabah.

Setelah traktor bermunculan, di awal orde baru, pekerjaan mencangkul menjadi ketinggalan jaman. Made Jani kemudian beralih profesi menjadi tukang gergaji kayu. Bermodal uang hasil penjualan gabah dia membeli mesin chain saw atau dikenal sebagai mesin sensor. Sasarannya adalah kayu di tebing dan tepian sungai yang ada di Tabanan, Badung dan Gianya.

"Saat itu saya yang menjadi pemasok semua villa berbahan kayu di Ubud, belum ada beton dan batako, semuanya alami," tuturnya. Dari hasil menebang kayu dia juga bisa mendapatkan sawah dalam jumlah lumayan. Ceritanya ada pengepul kayu yang berhutang sampai 70 ton kayu balok papan dan usuk serta seng.

"Saat saya tagih dia malah memberikan tanah kebon seluas 30 are yang sekarang jadi tempat tinggal saya sekeluarga," tuturnya. Selama 25 tahun menjadi tukang sensir, Jani menghabiskan tak kurang dari 4 mesin berbahan bakar solar itu. Saat itu harga mesin paling besar yang bisa digunakan untuk menebang jati dan kelapa harganya hanya Rp 400.000. Sekarang mesin sensor paling kecil harganya tak kurang dari 4 juta. Mesin terakhir yang dimilikinya sampai sekarang masih tersimpan di gudang yang ada di belakang rumahnya.

"Saya menyimpannya untuk dijadikan kenang kenangan untuk anak cucu," tambahnya. Dari hasil menjadi buruh tani, tukang sensor dan menggarap lahan dia bisa menyekolakan anaknya sampai perguruan tinggi. Ada yang jadi guru jadi pegawai hotel tapi tak satupun yang mau meneruskan jadi petani.

"Sampai umur lebih dari 80 tahun saya tetap menggarap sekitar 3 hektar sawah kepunyaan sendiri," ucapnya bangga. Dia menepis anggapan petani terpinggirkan karena saat puncak panen gabah turun dan ketika paceklik petani tercekek.

Cara menyiasatinya adalah dengan melakukan penganekaragaman tanaman. Sawahnya secara bergantian ditanami jagung, bawang, kacang panjang bahkan juga kubis dan kembang pacar cina.

"Tidak perlu arahan pemerintah atau ajakan petugas lapangan, saya berinisiatif sendiri melakukannya, karena bila terus terusan ditanami padi sawah akan kekurangan hara, tergerus habis oleh rakusnya pagi," tambahnya. Dengan menanam kedele daun dan batangnya bisa jadi serat tanah yang menyebabkan oksigen tersedia melimpah dalam tanah. Begitu juga dengan menanam semangka melon dan jagung, perhitungannya sama, menjaga agar oksigen tanah tetap optimal. Karena bila terus terusan ditanami padi lumpur agan menjadi encer karena kekurangan oksigen. Hortikultura mengembalikan tanah mejadi sehat.

"Saya tak pernah mengalami kerugian karena harga anjlog, karena saya menanami sawah dengan berselangseling menurut permintaan pasar," pungkasnya.