Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Budaya Artikel Utama

Mengenal Margi, Sang Pembuat Canang Sari

16 Mei 2018   16:23 Diperbarui: 17 Mei 2018   01:33 2213 8 2
Mengenal Margi, Sang Pembuat Canang Sari
Margi dan canang sari hasil karyanya yang dijadikan pelengkap sajen.(Dokumen Pribadi)

Canang sari menjadi kebutuhan paling penting untuk segala macam prosesi keagamaan di Bali, maka tak heran canang sari telah menjadi kebutuhan pokok bagi umat Hindu.

Mereka memerlukannya karena harus ada dalam perlengkapan sajen yang pada intinya harus terdiri dari buah, daging, bunga, pamor dan perlengakapan lain. Cananglah yang paling dominan dan warnanyapun harus lengkap mulai dari merah, hijau, kuning dan putih.

"Saya sudah 20 tahun menjual canang disini sejak canang satu tas kresek masih Rp 500 sampai sekarang menjadi Rp 5000 perkreseknya," ungkap Ketut Margi, 55 tahun penjual canang sari di pasar Kemenuh Gianyar.

Dia biasanya mendapatkan aneka bahan canang sari yang terdiri dari kembang gumitir, pacah, jepun, sandat sampai cempaka itu dari sekitar kampungnya di Kemenuh.

Dia mengumpulkannya dari para petani kembang yang banyak bertebaran di sekitar persawahan di Sibang, Angantaka sampai ke Peguyangan. Seharinya dia membeli tak kurang dari satu kaping gumitir, satu keranjang pacah atau pacar cina sedangkan kenanga dan cempaka hanya satu kapar.

"Yang paling banyak adalah gumitir dan pacah itu karena petani biasanya tak pernah berhenti berproduksi apalagi kalau dekat hari raya atau purnama," ungkapnya.

Semua bahan itu kemudian ditata dengan ketelitian yang super, menggunakan perhitungan yang rumit. Tatakan canang bernama ceper, bentuknya segi empat. Kemudian diberi tebu, tampelan barulah diberi kembang aneka warna mulai dari kuning merah dan hijau. Pekerjaan merakit ini dilakukannya semalam suntuk dibantu suami dan menantunya.

Dia kemudian menjual canang sari buatannya itu di pasar Kemenuh sedari pagi buta, sekitar jam 5 dengan diantar oleh suaminya yang pegawai swasta di kawasan Ubung. Kemudian jam 12 siang ketika pasar mulai sepi dan tutup dia dijemput anaknya yang baru pulang dari sekolahan.

"Seluruh canang sari itu harus habis hari itu juga karena kalau tidak dia harus dibuang karen pasti layu bunga dan perlengkapan lainnya," ungkapnya.

Modalnya tak sampai Rp 100.000 kalau habis uang yang terkumpul sekitar Rp 200.000, keuntungan yang Rp 100.000 itu digunakan untuk menambah uang dapur setiap hari, untuk biaya anaknya sekolah atau sekedar ditabung untuk kebutuhan upacara adat.

Di Bali itu adatnya makin ketat, kalau dulu orang kawin cukup diberi kado gelas atau kain batik, sekarang harus ditambah dengan gula kopi dan uang dalam amplop, belum lagi kalau ada odalan bawaan makin banyak, atau saudaya yang kawin, jadi pengeluarannya kebanyakan mendadak dan membuat ibu-ibu jadi pusing setengah keliling.

Dan itu dialami oleh semua ibu yang ada di pasar Kemenuh, mereka berkeluh kesah karena minyak menghilang dan beras mau naik, juga harga daging ayam juga makin menggila.

"Tapi harga canang tak pernah bisa naik, paling menjelang galungan naiknya tak seberapa, karena kebanyakan petani kembang kehabisan stok," ungkap Margi.

Seharian berjualan canang tak membuat semangatnya menyusut secuilpun karena pekerjaan itu dianggapnya membantu banyak orang. Ada pembuat canang pemilik restorant yang menjadikan canang untuk hiasan atau orang kawinan dan upacara lain yang memang memerlukan canang.

"Rejeki dan hidup saya memang di canang ini, sebelumnya sudah pernah jualan makanan, jaualan plastik juga pernah tapi semaunya merugi, baru ketika jualan canang agak stabil karena tiap hari ada saja rejeki," tambahnya.

 "Jadi bukan saya saja yang menikmati rejeki dari kembang ini, ada petani kembang, pedagang janur dan banyak lagi yang ikut mendapatkan rejeki dari canang itu," ungkapnya.

Harum dan keindahan canang sari memang memberikan tebaran rejeki bagi banyak orang juga buat mereka yang menghaturkan canang entah di pura atau di perempatan jalan. Semuanya mengharapkan agar rejekinya dimurahkan dan kesehatannya dilipat gandakan juga.