Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Menjala Ikan di Usia Senja

25 Maret 2018   07:34 Diperbarui: 25 Maret 2018   19:47 2238 2 0
Menjala Ikan di Usia Senja
Gusti Pencar memperagakan bagaimana cara memasang jala dengan baik sehingga saat dilempar jalanya mengembang dengan sempurna.(Dokumen Pribadi)

Sampai menjelang usianya 75 tahun Gusti Pencar hampir separo usianya dimanfaatkan untuk jelajah sungai. Maklum sejak 40 tahun lampau Gusti Pencar yang nama aslinya Gusti Ngurah ini sudah berkelana hampir di seluruh sungai di Tabanan.

Julukan Gusti Pencar didapat karena kesenangannya menjala atau memencar dalam bahasa Bali. Pria kelahiran desa Penarukan Kerambitan Tabanan ini sejak remaja memang doyan merambah sungai. Dari kampungnya yang berada di tepian sungai Yeho dia biasa menjala sampai sejauh 25 km arah pantai Kelating, atau ke hulu sampai ke danau Beratan.

"Menjala beda dengan memancing, perlu ketenangan dan ketrampilan yang mumpuni, antara kelebatan ikan arah aliran sungai dan arah angin menentukan hasil," tutur ayah 5 putra ini.

Gusti biasanya memilih sungai yang alirannya tidak begitu deras. Jaraknya bisa 10 km dari kampungnya. Dia berjalan kaki semenjak matahari baru terbit dan baru tiba di tempat menjala ikan tengah hari. Pertama yang ditelisiknya adalah, aliran yang tenang, kemudian tidak ada bambu, karang dan bangkai binatang disekitarnya.

"Bila ada bambu dan karang akan merusak jala, bila ada bangkai yang ada hanya kepiting liar ikan pasti menjauh," tuturnya berkelakar. Setelah sungai dengan prasyarat seperti itu ditemukan barulah dia mencoba dengan melempar jala di tepian terlebih dahulu. Jala disangkutkan di siku tangan kiri, kemudian tangan kanan memegang pemberat yang ada di ujung jala. Pandangannya fokus ke arah jala akan ditebar, dalam hitungan detik sambil menghela nafas dan mengerahkan seluruh tenaga jala dilempar sejauh mungkin.

"Makanya ujung jala diberi tali agar jala tak tenggelam ikut arus," tuturnya. Kemudian dengan telaten dia menarik jala yang baru ditebarnya. Lemparan pertama menentukan apakah dia akan melanjutkan perburuandi tempat itu. Bila yang terkena hanya udang dan kecebong dia akan naik kepermukaan, batal menjala. Bila yang terkena jrejet, ungang, betok maka dia akan turun ke sungai, karena arah ke hilir ikan lebih banyak dan lebih besar menanti.

"Ini saya dapat dari pengalaman, tebaran pertama menentukan akhir perjalanan saya sampai ke ujung sungai yang biasanya bermuara di pantai," tambahnya. Ikan yang terjaring akan dilepaskan dari belitan mata jala, kemudian tangannya cekatan memasukkan ke dungki, tempat ikan terbuat dari anyaman bambu.

Bila nasib mujur tiap 5 tebaran jala, pasti ada ikan yang tersangkut, mulai dari ungang sampai jangki atau karper dan mujair.

"Bila hari sedang berpihak pada saya tak sampai sore dungki sudah penuh," tutur kakek 8 cucu ini. Menjala bagi Gusti Pencar merupakan mata pencaharian tidak tetap. Dia melakukannya bila pekerjaan sebagai petani sudah agak sepi, misalnya ketika tanaman sudah mencapai usia 45 hari.

"Menjala hasilnya juga lumayan sambil menanti panen tiba," tambahnya. Sedungki penuh aneka macam ikan sungai yang berhasil didapat bisa laku sampai Rp 25.000 sekilonya. Dungkinya kadang sarat dengan 10 kg ikan.

"Lumayan untuk membeli pupuk atau obat semprot anti hama," ujar Gusti. Bila petani lain menanti masa panen dengan leha leha di kediamannya. Gusti Pencar mengisinya dengan menjala. Dan itu memberi penghasilan yang lumayan.

"Sebenarnya menjala juga ada kendalanya, yakni dimusuhi pemancing," tambahnya. Ini karena sungai yang diobok obok dengan jala biasanya membuat ikan ketakutan. Pemancing biasanya mengusir secara halus dengan melempar bongkahan lumpur ketempat dia menebar jala.

"Saya tak mau bertengkar, bila ada pemancing saya mengalah, karena pemancing biasanya membutuhkan ikan yang lapar agar umpannya termakan, sedangkan saya membutuhkan ikan yang hendak pulang ke sarangnya," ujar Gusti lagi. Dalam seminggu saat jeda urusan sawah dia setidaknya 3 kali menjala di sungai sekitar kampungya. Saat lain dia manfaatkan untuk memperbaiki jala yang rusak.

"Tak jarang ada bagian yang robek jadi harus di tambal atau di ayum," Gusti Pencar menjelaskan.

Caranya adalah menganyam ulang sobekan yang disebabkan oleh ranting yang ada di dasar sungai. Benang yang digunakan harus sama warna dan ukurannya. Menganyam jala termasuk pekerjaan yang rumit, karena harus merapikan sobekan yang terdiri dari mata jala yang saling mengait. Bila kurang telaten bentuk jala akan menor atau mencong.

"Jala yang salah ayumannya akan susah untuk ditebar karena menghambat laju saat ditebar," tambahnya. Maka selain piawai menebar jala Gusti Pencar juga termasuk yang dituakan dalam urusan menganyam jala. Penjala sekitar Tabanan menjadikannya sebagai panutan. Mereka datang untuk memperbaiki jala yang rusak atau memberi timah di ujung jala sebagai pemberat.

"Saya tak memungut ongkos, yang penting anyaman jala saya bisa membuat penjala lain bisa leluasa melakukan pekerjaannya saya sudah senang," pungkasnya.