Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Erupsi Gunung Agung Tak Menyurutkan Ritual Keagamaan

7 Desember 2017   13:34 Diperbarui: 7 Desember 2017   20:21 810 1 0
Erupsi Gunung Agung Tak Menyurutkan Ritual Keagamaan
Ritual mendak tirta di Guwang Sukawati Bali. Mereka juga mendoakan agar pengungsi erupsi gunung Agung semuanya dalam keadaan selamat, dan perekonomian Bali secepatnya pulih kembali.(Dokumentasi Pribadi)

Gerimis baru saja mereda ketika arak arakan 20 orang berpakaian adat melintas di tikungan Desa Guwang Sukawati, Bali. Mereka baru saja datang dari beji atau sumber mata air suci yang berada sekitar 500 meter di sebelah timur Pasar Seni Guwang. Sebagian peserta mendak tirta memang terdiri dari perempuan, mulai dari anak anak sampai dewasa. Hanya dua orang pria yang bertugas membawa payung kuning dan putih yang turut serta dalam prosesi ini.

Walau bersamaan dengan erupsi Gunung Agung semangat peserta prosesi tak surut secuil pun. Beberapa di antara peserta merupakan pedagang kaos rangda dan sarong Bali di pasar seni. Tak tampak wajah murung akibat macetnya roda perekonomian mereka. Semuanya bersemangat seakan semua kegundahan akibat menghilangnya bule dari pasar seni bukan masalah yang serius.

Mendak tirta biasanya dilakuan sehari sebelum puncak piodalan di pura atau sanggah keluarga. Air suci yang ditempatkan dalam toples kemudian melewati ritual bernama ngukup tirta. Di mana air suci yang diambil di beji diritus dengan asap dari bakaran kayu cendana dan kemenyan.

"Dengan ritual itu tirta beji menjadi steril karena semua unsurnya sudah ditingkatkan menjadi setara dengan sang pencipta kehidupan," tutur Jro Mangku Braban 64 tahun dari banjar Batan Asem Sempidi Bali. Selama proses berlangsung mulai dari berangkat ke beji sampai meritusnya dengan asap dan menyan tidak boleh ada yang bermuram durja.

"Mereka yang sedang dalam keadaan berduka atau ada kematian malahan dipantangkan mengikuti ritual mendak tirta ini," tambahnya. Semuanya harus dalam keadaan suci lahir bathin.

Pada puncak piodalan, tirta ini kemudian disiratkan ke kepala mereka yang ikut persembahyangan. Maksudnya agar segala kemalangan kesedihan dan kesialan bisa sirna secara spiritual.

"Biasanya setiap peserta upacara juga mendoakan bukan hanya diri pribadi dan lingkungannya saja yang bebas dari kesedihan dan kemalangan tapi juga alam sekitar bahkan dunia," ujar Mangku Braban.

Upacara serupa tak hanya berlangsung di Guwang Sukawati, saat bersamaan berlangsung juga upacara piodalan di Koripan Abian Tuwung, serta di Tegaljadi Tabanan. Semuanya berlangsung dalam suasana khidmat tak terganggu erupsi gunung Agung.

Seharian selama upacara bernama piodalan itu semuanya khusuk melakukan ritual mulai dari mendak tirta, ngunggah pejati, mecaru dan runutan ritual lain yang sangat panjang.

"Piodalan maknanya perjamuan suci, umat dengan penuh keyakinan mempersembahkan yang terbaik kepada sang pencipta demi tercapainya kedamaian, termasuk juga keselamatan pengungsi, keterpurukan ekonomi yang diakibatkannya," ungkap Mangku Braban lagi.

Maka di setiap pura yang menyelenggarakan piodalan yang nampak hanya kemeriahan dan kekhidmatan yang tiada bandingannya. Mereka melupakan sejenak nasib kerabat yang terkena PHK atau tetap kerja tapi dibayar separo gaji.

"Piodalan tak bisa diganggu dengan urusan berkurangnya penghasilan, perjamuan suci itu semestinya berlangsung dalam kemeriahan sejati," tambah Jro Mangku Braban.

Surutnya wisatawan, sepinya kunjungan turis akibat erupsi gunung Agung menurutnya juga tak mesti dijadikan alasan untuk mengurangi semangat berupakara.

Maka pemandangan ibu ibu dengan banten gebogan buah yang tersusun rapi bersiap berangkat ke pura di Koripan masih berlangsung seperti sedia kala. Juga hiasan pura menjelang piodalan dengan penjor setinggi 8 meter tetap semarak tanpa berkurang secuil pun.

"Urusan bule yang menghilang karena ketakutan tersiram abu panas biarlah menjadi masalah dinas pariwisata, bupati dan gubernur, urusan piodalan ini merupakan tanggung jawab umat yang tidak boleh diganggu dan digugat," ujar Jro Mangku Braban.

Erupsi Gunung Agung memang merontokkan sendi perekonomian Bali. Bule yang setiap harinya menebar dollar untuk cenderamata, penginapan, makan minum dan pelesiran menghilang karena ketakutan tak bisa pulang bila bandara tutup. Atau mengalihkan tujuan pelesirannya ke tempat wisata yang lain.

Namun itu tak membuat kegiatan keagamaan di Bali serta merta menyusut, dibeberapa tempat malahan tampak begitu meriah, karena dijadikan semacam sarana untuk mengembalikan semangat yang sempat menurun akibat status gunung Agung.

"Semua ritual itu bisa menjadi semacam pengobat trauma bagi mereka yang terimbas langsung karena bisnis yang tidak lancar," papar Jro Mangku Braban.