Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Dampak Erupsi Gunung Agung, Ubud Lengang Mirip Kuburan di Siang Bolong

6 Desember 2017   13:55 Diperbarui: 6 Desember 2017   19:53 1726 3 1
Dampak Erupsi Gunung Agung, Ubud Lengang Mirip Kuburan di Siang Bolong
Suasana siang hari di depan puri Ubud Bali. Biasanya kerumunan bule mengantre untuk masuk puri demi melihat aneka atraksi seni. Saat ini keadaanya lengang hingga pejalan kaki bisa melintas dengan leluasa.(Dokumen Pribadi)

Ubud pernah mengalami suasana mencekam akibat ditinggal bule. Pertama ketika bom ITC pada 11 Nopember 2001, ketika itu selama 2 bulan Ubud seperti mati suri aktivitas kepariwisataannya. Tahun 2002 ketika bom Bali 1, Ubud kembali mengalami hal serupa. Tapi tak sampai sebulan pariwisata menggeliat kembali. Saat itu idiom yang berkembang bom bisa meledak dimana saja, lawan terorisme, Ubud aman, maka bule segera berkeliaran dan Ubud kembali ramai. Apalagi berbagai festival digelar untuk mengundang turis berkunjung dan berkerumun lagi ke Ubud.

Usai peristiwa aneka bom itu Ubud mengalami masa kejayaan, sepanjang tahun bule seakan mengalir tanpa henti. Tahun 2010 adalah puncak keramaian Ubud, ini terjadi setahun setelah pembuatan film Julia Robert, "Eat Pray Love".

Kemacetan mulai pagi sampai malam menjadi pemandangan biasa bagi mereka yang melintas di Ubud. Puri Ubud menjadi pusatnya, bule tak hanya bentandang ke puri demi melihat tempat tidur raja, ruang gamelan atau lokasi para putri keraton menari. Pada malam harupun mereka bisa menonton aneka pertunjukan mulai dari Ramayana Ballet, Legong sampai kecak dan pementasan musik.

"Tapi sejak gunung Agung berstatus awas tanggal 22 September, keadaan mulai mengkhawatirkan," ungkap Ngakan Jana, 43 tahun supir transportasi asal Keliki.

Bus kapasitas 25 orang yang biasa membawa bule dari bandara, atau kawasan lain di Bali, menghilang begitu saja. Padahal pemerintah termasuk Gubernur Bali nyaring berteriak, kawasan di luar zona 12 Km dari Gunung Agung di Bali aman untuk dikunjungi, nyatanya bule malah seperti raib ditelan bumi.

"Biasanya dalam sehari ada saja yang melintas entah hanya melihat keadaan pasar, masuk galery, atau memesan mobil untuk tour ke Batur," ucap Jana yang telah 10 tahu jadi supir transportasi di depan puri Ubud. Satu atau dua orang bule menggunakan jasanya untuk pergi ke suatu tempat di sekitar Ubud.

Keadaan saat ini jauh lebih parah dari bom ITC, bom Bali 1 atau bom Bali 2.

"Sudah sebulan saya hanya nongkrong kepanasan dan kehujanan di depan puri, berharap ada yang menggendong ransel minta antar ke terminal Batubulan atau ke airport, tapi itu seperti fatamorgana," papar ayah 3 anak ini. Sesama supir transportasi yang jumlahnya sekitar selusin di seputaran puri Ubud mengeluhkan hal serupa.

Pendapatan sehari yang biasanya sekitar Rp 300.000 belum dipotong bensin dan setoran ke bos pemilik transportasi sangat mereka dambakan.

"Kembali ke pekerjaan semula sebagai pelukis juga sami mawon, tak ada bule di Ubud siapa yang membeli lukisan," ucap mantan pelukis kaca khas Keliki ini.

Dia meninggalkan dunia lukis karena tertarik pada hasil besar dari jasa angkut bule. Dan itu dilakukan oleh banyak seniman yang bermukim di sekitar Ubud.

Ubud menjadi tumpuan harapan selain supir angkutan turis seperti Jana, juga bagi banyak pembuat kerajinan di sekitarnya.

Mulai dari Brasela, Tegallalang yang lokasinya di sebelah utara Ubud, juga Pengosekan dan Lod Tunduh yang ada di bagian selatan. Radius 8 Km dari pusat puri Ubud menggantungkan nasib mereka pada kehadiran bule di kampung seniman itu.

Tapi harapan itu pupus dalam beberapa bulan ini. Jalan dari arah Taro ke Ubud yang biasanya dipadati mobil pengangkut bule yang mau arung jeram sudah lebih sebulan menghilang. Riuh rendah bule yang arung jeram di sungai Ayung juga ikut lenyap. Sekitar 8 usaha serupa yang biasanya memboyong bule berbasah ria meluncur sejauh 10 km dari Payangan ke Kedewatan ikut sempoyongan.

Begitu juga bule yang senang menikmati persawahan di kawasan bernama Ceking di Tegallalang.

"Jangankan ke Ceking yang jaraknya 8 km arah utara Ubud, di pusat Ubud saja bule yang lewat dalam 1 jam hanya 2 orang, itupun yang bergegas untuk pulang ke negaranya karena visa kunjungan sudah habis," tutur Jana dalam nada putus asa.

Harapan masih ada, yakni bila erupsi gunung Agung segera mereda, status awas diturunkan menjadi normal dan bandara tidak tutup.

"Karena bila statusnya awas, bule was was akan terjadi erupsi dahsyat yang artinya bandara akan tutup sementara, padahal tujuannya ke Bali untuk menikmati pemandagan, bila dalam suasana kegawatan dan genting walau dijamin aman mereka lebih baik menunda datang kemari," Jana menyimpulkan apa yang terjadi saat ini.

Bila suasana sepi saat bom di ITC dan di Sari Club bisa dinetralisir dengan aneka festival untuk menggairahkan kepariwisataan, erupsi gunung Agung agaknya belum menemukan alternatif jitu untuk bisa menggaet wisatawan untuk berkunjung kembali ke Ubud.

"Terpaksa tabungan selama ini yang mesti digunakan untuk kuliah anak harus saya bobol dulu untuk beli sayur urap, sambil menunggu erupsi gunung Agung itu reda dan Ubud kembali normal seperti sedia kala," pungkas Jana.