Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Kerugian Petani yang Terdampak Erupsi Gunung Agung

5 Desember 2017   14:26 Diperbarui: 5 Desember 2017   22:08 813 4 2
Kerugian Petani yang Terdampak Erupsi Gunung Agung
Petani di desa Taro Gianyar, menampi gabah yang mereka panen sendiri. Penebas dan pemborong gabah tak mau membeli gabah yang terkena abu erupsi gunung Agung. (Dokumentasi Pribadi)

Bila gunung Agung erupsi, wisatawan menghilang, dan pertanian bisa dijadikan andalan untuk mendongkrak pendapatan Bali ke depannya. Ternyata ini hanya sebatas wacana di seminar dan sarasehan para pakar. Di lapangan, kenyataannya jauh panggang dari api. 

Saat ini petani di Bukian Payangan yang luas lahannya 300 hektar, di Taro Gianyar yang lahannya seluas sekitar 400 hektar sedang menghadapi panen raya. Padi menguning sejauh mata memandang, namun erupsi gunung Agung turut meluruhkan mimpi mereka meraup untung besar.

"Sejak gunung Agung meletus, tak ada lagi pemborong gabah yang lewat di kampung kami, setiap orang kami tanya semua menggeleng tak mau memborong gabah," tutur Nyoman Jana, 54 tahun pemilik lahan seluas 30 are di desa Taro Gianyar, yang padinya siap panen. 

Dalam keadaan normal dia bisa menjual Rp 300.000 setiap arenya. Sebelum erupsi Gunung Agung dia mengantongi sekitar Rp 5 juta bersih setelah dipotong ongkos traktor bibit dan menyiangi.

"Panen bulan Desember ini semestinya saya bisa mendapatkan dalam jumlah yang sama, tapi padi menguning tak ada yang menggubris, penebas mengatakan gabah terkena abu, perlu perawatan lanjutan mencuci dan mengeringkan," tutur Jana.

Hal serupa juga dialami Made Rata, 48 tahun petani di Bukian Payangan. Dia menggarap lahan seluas 25 are milik leluhurnya semenjak ratusan tahun yang lampau. Tahun ini semestinya juga panen raya, karena tiap malai bernas dan berisi sekitar 100 gabah.

"Taksiran saya setiap arenya bisa laku Rp 350.000 berarti saya mendapatkan tak kurang dari Rp 7 juta," ungkapnya.

Tapi itu hanya hitungan di atas kertas, karena penebas, pengijon dan pemborong gabah ikut tiarap seperti pelaku bisnis lain yang sepertinya enggan melakukan traksasi akibat adanya erupsi gunung Agung.

"Pelanggan petani di sini kebanyakan pemborong dari Banyuwangi, gabah diproses dulu disana baru berasnya dijual lagi ke Bali, sekarang mereka tak ada yang muncul mungkin takut kena siraman abu vulkanik," ungkap Rata berkelakar.

Dia akhirnya dibantu menantu dan iparnya memanen sendiri padi yang sudah menguning itu. Pekerjaan yang tak mungkin dilakukannya bila gunung Agung tidak erupsi.

"Bila ada bule di Ubud saya biasanya mengantar tamu ke Batur atau Tanah Lot, sekarang tamu sepi jadi coba turun ke sawah, ternyata hasil pertanian juga ikut anjlog," tuturnya serius.

Di Taro yang dulunya saat turis masih ramai datang ke Bali penduduk seperti menomorduakan pertanian. Mereka lebih senang menjadi pembuat patung souvenir mulai yang terbuat dari bambu kayu sampai fiber. Atau menjadi sopir transportasi seperti Made Rata.

Setelah pariwisata tengkurap dan tak bisa diharapkan. Semuanya kembali ke pekerjaan semula merawat dan menggarap sawah.

"Namun beralih menekuni pekerjaan turun temurun leluhur kami di Taro tidak seperti membalik tapak tangan, panen raya yang mestinya mengantongi uang cukup malahan gabah tak laku," tambah Rata.

Tak hanya di Taro dan Payangan petani di Jumpai Klungkung juga selama erupsi gunung Agung tak akan bisa menggarap lahan sawah mereka yang luasnya sekitar 300 hektar.

"Sawah kami mendapat aliran air dari kali Unda yang hulunya di gunung Agung," ungkap Nyoman Dana, 64 tahun petani dari banjar Tangkas Gelgel Klungkung. Sejak adanya aliran lahar dingin sekitar seminggu lampau, bendungan yang mengalirkan air ke Klungkung ditutup.

"Bila tidak ditutup nasibnya akan sama dengan ketika letusan tahun 63, seluruh persawahan di Tangkas tertutup lumpur," tuturnya. Maka walau saat ini padi sedang membutuhkan banyak air terpaksa mereka merelakannya gagal panen. Air di seluruh selokan yang mengaliri persawahan di Klungkung mengering.

"Bila yang padinya sudah berbuah masih bisa diselamatkan, tapi yang baru tanam sebulan pasti akan layu dan tak mau berkembang," ungkap Dana lagi.

Padahal petani di Tangkas yang jumlahnya sekitar 200 orang berharap bisa panen raya sekitar bulan Maret mendatang.

Dalam keadaan normal, setiap are sawah garapan mereka bisa menghasilkan sekwintal gabah. Bila memiliki 25 are lahan persawahan dengan harga gabah Rp 4000 perkilonya, setiap petani bisa mendapatkan sekitar Rp 7 juta sekali panen.

"Mungkin untuk dua sampai tiga kali panen kedepan air dari kali Unda masih di tutup ke kampung kami, jadi impian untuk bisa panen raya mesti kami enyahkan dulu," ungkap Dana.

Bali seperti dikurung bencana dari mana mana. Berharap dari turis, abu letusan gunung Agung membuat turis mengurungkan niat ke Bali. Berharap dari pertanian, panen raya gagal total karena gabah terkontaminasi abu dan aliran air terkendala lahar dingin.