Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Keunikan Bayung Gede, Desa Tanpa Perbedaan Kasta

10 November 2017   12:51 Diperbarui: 10 November 2017   15:47 1627 4 2
Keunikan Bayung Gede, Desa Tanpa Perbedaan Kasta
Suasana sehari hari di Bayung Gede, pelajar menumpang pick up dengan latar belakang kampung yang rindang oleh pepohonan diperbukitan.(Dokumentasi Pribadi)

Berada di ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut, Bayung Gede termasuk desa Balimula, atau Balikuno. Telah ada sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu. Letaknya nyempil di bagian selatan Gunung Batur, dan di sebelah barat gunung Agung yang sekarang dalam keadaan setiap saat bergemuruh. Penduduk Bayung Gede mayoritas berkebun, mereka menanam jeruk, sayur mayur seperti kubis, wortel, juga jagung, ketela rambat serta aneka kembang seperti gumitir, ratna dan pecah seribu.

Di Bali terdapat banyak desa Balikuno. Ada Sembiran, Penglipuran dan Tenganan serta Trunyan. Sembiran terkenal dengan struktur bangunan yang berjajar rapi, begitu juga Penglipuran. Sedangkan Tenganan dengan pemeliharaan hutan serta pembuatan tenun yang unik.

"Bayung Gede unik karena struktur masyarakat dan adatnya, sekarang ada aturan tertulis yang telah bisa dibaca secara mendetil dan jelas zaman saya dia hanya disampaikan secara lisan dari orang tua ke anaknya," tutur Ketut Mertika 43 tahun.

Keunikan yang paling menonjol dibanding tempat lain di Bali adalah tiadanya istilah kasta maupun warna. Disana yang ada hanya masyarakat Bayung Gede tanpa brahmana yang mengatur bidang agama, ksatria bidang pemerintahan, wesya bidang perdagangan dan sudra yang merupakan masyarakat dari kelas petani.

"Barangkali yang ada hanya kelas sudra, karena kami semuanya pekebun dan peternak," papar ayah 3 putra ini. Hanya ada kubayan dan tiga nama dibawahnya yang berperan jadi pemimpin.

"Dan itu tidak termasuk keturunan, siapapun yang sudah senior akan langsung jadi pemimpin adat juga pemimpin keagamaan," tambah peternak sapi ini. Sayatnya dia tidak hanya warga banjar tapi juga warga desa. Warga desa adalah mereka yang secara turun temurun mengikuti struktur menggantikan orang tuanya. Jumlahnya di Bayung Gede sekitar 150 orang. Selain struktur masyarakat yang unik yang tak kalah menariknya adalah budaya masyarakat yang bersangkutan dengan kelahiran, perkawinan dan kematian.

"Setiap bayi yang lahir, ari-arinya, dimasukkan dalam kelapa yang dikeluarkan airnya, lalu diberi kapur dan kunyit serta dibungkus dengan anyaman bambu," ungkapnya. Ari-ari itu kemudian ditanam di kuburan khusus yang ada di bagian hilir perkampungan.

Sedangkan di tempat lain, ari-ari dimasukkan dalam periuk gerabah bertutup kemudian ditanam di halaman rumah si bayi.

Dalam hal pernikahan Bayung Gede juga memiliki perbedaan, yakni keluarga si gadis akan memberikan syarat berupa calon pengantin pria memberikan sapi jantan bertanduk untuk diserahkan kepada desa. "Nantinya sapi jantan itu bisa dilelang untuk dipelihara oleh mereka yang menang lelang, tapi bukan oleh keluarga pengantin," ungkap Mertika.

Busana pengantin juga sangat sederhana, pengantin wanita mengenakan kebaya dengan kain batik, sedangkan pengantin pria mengenakan destas berkain tenun.

Perkawinan diluar Bayung Gede lebih rumit, ada acara nyuang, yakni meminta perempuan kepada keluarganya. Ada acara nyuaka, yakni pembicaraan antar keluarga tentang kapan hari baik untuk melakukan pernikahan. Dan rentetan lain seperti mekerab kambe, ketipat bantal.

"Juga ada yang namanya mepati ayu, ketika pengantin pria kastanya lebih rendah dari pengantin perempuan, kastanya mesti dititip di bale agung, nanti bila bercerai kastanya bisa diambil kembali," ungkap Mertika yang punya banyak kerabat bukan Balimula.

Dalam hal pemakaman juga ada perbedaan yang mencolok. "Warga Bayung Gede yang meninggal tidak sepantasnya misalnya bunuh diri, tidak boleh dimandikan dirumah duka, dia ditanam apa adanya di kuburan khusus untuk itu, dan baru boleh dimandikan 3 tahun kemudian," ujar Mertika lagi.

Ngaben dengan membakar mayat tidak dilakukan di Bayung Gede. Pada hari ngaben keluarga hanya menyerahkan sapi sebagai bakti kepada desa. Kemudian sapi itu dibuat jadi sesajen persembahan yakni bagian kaki kiri dan tulang rusuknya.

"Sapi umur 6 bulan biasanya digunakan sebagai bakti, sisa daging selain untuk sesajen upacara bisa dimanfaatkan oleh keluarga yang diaben," tuturnya. Bila ditempat lain ngaben bisa menghabiskan waktu sebulan di Bayung Gede persiapan sampai puncak ngaben hanya beberapa hari.

"Biasanya ngaben dilakukan pada bulan jesta atau sada atau bulan 11 dan 12 akhir," tuturnya. Sedangkan nyekah, atau upacara menempatkan mereka yang diaben di sanggar keluarga dilakukan pada bulan kasa atau perhitungan pertama kalender Bali kuno.

Mereka masih menggunakan tika kalender kayu dengan aneka simbol untuk menentukan hari baik. "Mulai dari menanam, sampai memetik aneka tanaman dan sayur digunakan kalender kayu itu, juga mencari hari baik untuk kawin, ngaben dan kegiatan adat lain," tambahnya.

Yang juga unik adalah, bila di Penglipuran ada larangan untuk kawin dengan istri kedua dan pelanggarnya ditempatkan di karang memadu. Di Bayung Gede yang ada larangan kawin dengan misan.

"Mereka yang kawin dengan misan upacaranya dilakukan di depan perangkat desa, yang unik mereka harus menyantap hidangan yang diletakkan dalam palungan bambu dan menyeruput langsung tanpa menggunakan sendok," tambah Mertika. Seingatnya selama seabad belakangan tidak ada yang berani melanggar aturan ini. Selain menyantap hidangan dari palungan keturunan mereka juga dipantangkan ikut dalam kegiatan keagamaan.

Sedangkan yang kawin dengan istri lebih dari satu akan keluar dari struktur warga adat hanya menjadi warga banjar. Selain penempatan ari-ari, perkawinan yang unik dan aneka kegiatan adat yang berbeda dari tempat lain. Bayung Gede juga memiliki tradisi membuat jaja gong. Jaja itu kue, sedangkan gong adalah komponen dalam gamelan yang bentuknya bulat.

"Jaja gong hanya dibuat 5 tahun sekali yakni pada acara ngusaba bantal, bahannya dari pisang mentah yang dikupas kemudian diparut dicampur dengan tepung beras dan dibentuk bulat seperti gong," ungkap Mertika. Jaja gong kemudian digoreng dengan minyak yang banyak dikedua sisinya.

"Jaja gong ini tidak diberi gula rasanya gurih dan bikin kenyang selama 6 jam walau tidak sarapan, juga membuat bertenaga sepanjang hari," tutur Mertika. Selain hari ngusaba bantal jaja gong tidak boleh dibuat. Mereka menjadikan jaja gong itu sebagai suatu penganan yang unik dan tidak ada ditempat lain selain di Bayung Gede.