Wayan Budiartha
Wayan Budiartha profesional

Akrab dipanggil Mbah Tomat, karena doyan menyantap buah tomat yang juga lezat untuk disayur.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Tak Hanya Hotel, Kebutuhan Sandang "Bule" Juga Menyumbang Banyak untuk Pariwisata Bali

14 September 2017   00:10 Diperbarui: 14 September 2017   18:30 3409 9 2
Tak Hanya Hotel, Kebutuhan Sandang "Bule" Juga Menyumbang Banyak untuk Pariwisata Bali
Pengasong sarong di pantai Kuta bisa menjual selusin sarong dalam seharinya. Bule yang berjemur dan mandi di laut adalah sasaran mereka.(Dokumen Pribadi)

Turis mancanegara yang bertandang ke Bali, setiap harinya sekitar 20.000 orang, sebulan kurang lebih 600.000 orang. Setahun dari data resmi badan statistik menjadi sekitar 6 juta orang yang bertetirah ke Bali. Mereka per harinya menghabiskan $100 untuk penginapan, makan dan yang sering dilupakan adalah untuk membeli pakaian.

Bila satu orang untuk kebutuhan pakaiannya saja sekitar Rp 1,3 juta, maka bule yang datang ke Bali membelanjakan tak kurang dari Rp 7 triliun setahun untuk pakaian saja. Pakaian ini, bisa berupa bikini, daster, sarung, baju kaos, dan busana ringkas untuk santai di pantai atau belanja ke pasar senggol.

Pemasarannya juga menyebar dari butik ber-AC sampai pasar seni, pusat oleh oleh dan ada juga yang dipasarkan eceran di pantai. Harganya mulai dari kisaran Rp 10.000 selembar untuk sarong Bali, sampai ratusan ribu untuk batik tulis Pekalongan. Maka sentra untuk pembuatan bikini, sablon kain, menyebar di seluruh Bali. Semuanya sadar bahwa rejeki dari penjualan busana untuk bule ini sangat dahsyat adanya.

Maka kisah garmen yang menjulang sampai membuka cabang di setiap daerah menjadi wajar. Atau eksportir yang merajai pasar sarong sampai ke Norwegia, Melbourne, Taiwan juga berjejalan di seputaran Kota Denpasar.

Pekerjanya kebanyakan penjahit dari daerah Petang, Plaga, Jatiluwih, Kintamani, Negara dan Singaraja. "Ketimbang tersuruk belepotan lumpur, kerja di garmen lebih menjanjikan, tidak kepanasan, hasilnya tiap minggu, langsung bisa dinikmati," tutur Nyoman Darmi, 31 tahun pekerja garmen asal Petang, Bali.

Dia telah lebih dari 10 tahun bekerja di salah satu pabrik pembuat bikini di Jalan Yamuna Denpasar. Sejak masih remaja sampai sekarang punya 3 anak. Bertemu suaminya juga di pabrik pakaian jadi.

"Semua kebutuhan di kampung untuk upacara, perbaikan rumah ya dapetnya dari hasil kerja di garmen," tutur Darmi. Hidup dan matinya memang ada di garmen.

Wajar karena uang yang beredar dalam setahun mencapai Rp 7 triliun. Dan itu tidak hanya dinikmati oleh penjahit macam Darmi dan juragan garment yang lain. Pemilik artshop yang menjual baju barong, atau eksportir yang mengirim sekodi dua kodi busana siap pakai ke luar negeri juga ikut menikmatinya.

Jangan dilupakan pabrik tekstil di Bandung, yang tiap bulan mengirim setidaknya 10 truk kapasitas 8 ton kain gulungan untuk kebutuhan garmen di Bali.

Tapi ada juga yang menikmati rejeki dari garment ini ala kadarnya. Dia seperti Umi istri pemborong yang tak mau nongkrong nonton TV sembari menunggui suami pulang kerja. Ada sekitar 5 pabrik sarong Bali sablonan yang membutuhkan tenaganya untuk menyuwir tepian kain.

"Kerjanya gampang, melepaskan sekitar 40 benang di ujung kain lalu membuat simpul agar tenunan kain tak lepas," tutur Umi. Atas jasanya itu pemilik sablon sarong memberinya imbalan Rp 200 per kain. Sehari dia bisa menyuwir sekitar 200 kain, pendapatannya tak kurang dari Rp 1,2 juta dalam sebulan. Maka di sentra sarong seperti di Pemogan, Kepaon, Renon dan lusinan tempat di Denpasar, muncul tempat khusus yang dimanfaatkan untuk menyuwir sarong.

Selain tukang suwir, sarong juga memberi rejeki yang tidak kalah besarnya buat pengasong sarong yang menjajakannya di Pantai Kuta.

Ketut Lenju 38 tahun salah satu diantaranya, dia setiap hari menjual tak kurang selusin sarong kepada bule yang berjemur di pantai.

"Saya sudah menjajakan sarong sejak harga perlembarnya Rp 2000 sekitar sepuluh tahun yang lampau," tuturnya. Tak kurang dari 200 orang penjaja sarong di pantai itu berjejalan setiap hari menawarkan barang dagangan langsung kepada turis yang berjemur ataupun berenang. Busana siap pakai yang terbuat dari katun, dengan disain menawan, warna yang mencolok mata memang jadi incaran setiap turis yang datang ke Bali.

Mereka tak cerewet seputar kain yang gampang luntur, tipis ataupun mutunya buruk. Kain dan busana di tujuan wisata memang bukan jenis busana yang dipergunakan berulang kali, dia cuma busana untuk sekali pakai. Maka tak heran setiap pengunjung memborong sampai sekodi sarong untuk cendera mata atau dijual kembali di negaranya.

Tabiat wisatawan yang bosan dengan satu disain itulah yang menjadi rezeki nomplok buat mereka yang bergelut dengan busana jadi untuk bule ini. Ibaratnya, kain lawas rombeng yang disambung dengan pola tertentu bernama patchwork saja bisa laku, apalagi yang baru keluar dari pabrik.

Maka jangan hanya terpaku pada jumlah hotel vila dan restoran saja dalam hal menghitung pendapatan dari pariwisata. Pemasukan dari bikini sarong dan daster juga tak kalah besarnya.