Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Lainnya - Bukan Guru

Nulis yang ringan-ringan saja. Males mikir berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sungai Harapan

4 Juli 2022   07:57 Diperbarui: 4 Juli 2022   07:58 504
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto sungai harapan oleh Alexey Demidov dari Pexels 

Aku menulis di sepotong kertas bekas bungkus, pada bagian kosong, angka satu diikuti banyak nol. Melipat menjadi empat. Melemparkan ke air deras.

Naik turun, hanyut mengikuti aliran menggelegak akibat pertemuan dua sungai dari gunung berbeda.

Perpindahan air dari atas membawa butir-butir tanah yang tidak diikat oleh hijauan, apalagi akar pepohonan yang mana kayunya telah menjadi tiang, pintu, dan jendela rumah.

Mengalir deras tidak peduli batu-batu kecil menggelinding pasrah. Bila menabrak batu kokoh, akan memecahkan diri menjadi kepingan-kepingan yang kemudian pada ujungnya berkumpul kembali. Dua aliran meluap-luap bertumbukan. Bertemu. Tempuran.

Pertempuran berlaku sangat cepat, menggelombang-gelombang dengan buih-buih berlompatan. Bersuara lebih dahsyat daripada hujan yang paling lebat.

Kita tidak bakal mengetahui, air mana yang berasal dari gunung Salak atau yang berhulu di puncak Gunung Pangrango. Alam tidak sempat membahas perbedaan, pun warna dan asal muasal. 

Semua diperlakukan setara. Serupa anak-anak kandung bertengkar. Lalu damai menyelimuti.

Kemudian inspirasi ini dan, tentu saja, energi dari pertempuran tanpa pertumpahan darah menghadirkan ketenangan bagiku yang sedang mengalami pergolakan batin.

Kepada Sungai Harapan aku menyampaikan keluh kesah, menumpahkan amarah, dan menitipkan percikan asa agar bangkit dari kesulitan.

Tidak sedikit orang memercayainya. Pada malam-malam Jumat Kliwon, terutama malam Suro, berbondong-bondong orang dari berbagai kalangan mendatangi Sungai Harapan. Tidak terkecuali para wanita yang mengenakan pakaian tertutup dan berkerudung sesuai hukum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun