Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Tersingkir, tetapi Tidak Tersungkur

12 April 2021   07:31 Diperbarui: 14 April 2021   17:45 396 59 20 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tersingkir, tetapi Tidak Tersungkur
Ilustrasi gerobak soto (dokumen pribadi)

Seorang pedagang kopi dan jajanan mesti mengalah, keluar dari tempatnya berjualan dan merelakan kiosnya dipakai berdagang oleh pihak lain. Ia memang tersingkir, tetapi hal itu tidak lantas membuatnya tersungkur.

Demi membantu pendapatan keluarga, seorang istri marbot memanfaatkan kios yang terletak di dalam halaman sebuah tempat ibadah untuk berjualan. Penggunaan lahan tersebut atas pengetahuan Pengelola Masjid, tentunya dengan membayar sejumlah nilai disepakati.

Dengan pengalaman sebelumnya sebagai penjual nasi beserta lauk pauk, Bu Marbot berhasil mengelola kios sedemikian rupa, sehingga kian hari kian ramai. 

Barang dagangannya sederhana, namun mampu mengakomodasi selera pembeli di sekitar masjid, yang merupakan permukiman dan perkantoran.

Ia menyediakan gado-gado, lontong sayur, nasi uduk, aneka gorengan, dan kopi seduh melayani pegawai perkantoran dan warga sekitar. Kios buka nyaris setiap hari, dimulai sejak pagi setelah subuh sampai sore. Pada akhir pekan para pesepeda dan pelintas mampir menikmati jajanan.

Dengan sajian yang akrab di di lidah orang kebanyakan, selama setahun Bu Marbot telah berhasil menggaet pelanggan setia. Gerai tersebut juga menjadi tempat asyik bagi para salesmen.

Di dalam kompleks tempat ibadah tersebut juga terdapat sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK) yang dikelola oleh sebuah yayasan pendidikan. Setahun masa pandemi membuat sekolah itu sepi dari hingar-bingar anak-anak, diganti pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Apakah hal itu berpengaruh kepada pendapatan para tenaga pendidik dan yayasan pengelola? Belum ada penjelasan. Yang pasti, baru-baru ini pihak yayasan pendidikan berkepentingan untuk memperoleh penghasilan tambahan. Gagasan logisnya adalah berjualan

Satu-satunya tempat representatif untuk berdagang adalah kios yang saat itu ditempati Bu Marbot. Mendadak, dengan segala cara dan kekuasaan, yayasan pendidikan itu menyingkirkan dagangan Bu Marbot.

Lalu yayasan memanfaatkan kios sebagai tempat penjualan daring. Dalam perjalanannya, ia akhirnya melayani juga penjualan kopi seduh. Namun demikian, makanan populer sebagaimana biasanya tidak disediakan lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN