Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Generasi Sandwich dan Keluarga Besar Zaman Dahulu

3 Desember 2020   09:40 Diperbarui: 5 Desember 2020   03:17 1090 59 14 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Generasi Sandwich dan Keluarga Besar Zaman Dahulu
Ilustrasi gambar kakek nenek beserta anak-anak dan keponakan-keponakannya (dokumen pribadi)

Tidak diketahui persis kapan mulanya, tiba-tiba saja istilah generasi sandwich menjadi pembicaraan dan kemudian dijadikan topik pilihan oleh Kompasiana.

Masih menurut Kompasiana, generasi sandwich mengacu kepada angkatan yang terhimpit karena harus mengurus anak (keluarga inti) dan orang tuanya. Barangkali seperti keju dan daging tipis bersama sayuran yang dijepit dua potongan roti.

Seseorang yang sudah memiliki tanggung jawab keluarga sendiri, tiba-tiba terjepit dan merasa terbebani untuk merawat orang tua. Kemudian perasaan terbebani tersebut menjadi perkara yang layak dibahas, menyangkut ihwal keuangan hingga persoalan psikis.

Benarkah menjadi roti lapis merupakan beban?

Zaman dahulu sebetulnya sudah dikenal adanya extended family (keluarga besar).

Merriam Webster mendefinisikan keluarga besar sebagai: keluarga yang termasuk dalam satu rumah tangga kerabat dekat (seperti kakek-nenek, bibi, atau paman) selain keluarga inti (Definition of extended family (n): a family that includes in one household near relatives (such as grandparents, aunts, or uncles) in addition to a nuclear family).

Seingat saya keluarga orang tua merupakan keluarga besar, padahal anaknya cuman tiga orang. Untuk ukuran kelas menengah tahun 70-an, keluarga orang tua saya tergolong keluarga besar, ada sepuluh orang dalam satu rumah.

Padahal jumlah keluarga inti hanya lima orang, Ayah, Ibu, beserta 3 orang anak. Selebihnya adalah sepupu-sepupu yang ikut tinggal di rumah dalam rangka bersekolah.

Keluarga besar itu tentunya mesti diberi makan, selain ongkos sekolah. Di luar itu masih ada kakek nenek di lain kota yang harus diperhatikan.

Ayah saya harus survive mengongkosi semuanya dengan mengandalkan gaji pegawai negeri yang saat itu pas-pasan. Korupsi pun bukan jiwa Ayah saya. Ibu sempat menjadi ahli gizi di sebuah rumah sakit, tetapi kemudian berkonsentrasi mengurus tanggungan sehingga beliau berhenti bekerja.

Soal bagaimana bisa keluar dari "beban" yang harus dipikul, merupakan rahasia orang tua saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x