Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Memancing Kekayaan

10 Oktober 2019   08:46 Diperbarui: 10 Oktober 2019   08:50 0 9 2 Mohon Tunggu...
Memancing Kekayaan
sumber gambar: pixabay

"Bapak sedang keluar, tidak ada informasi apakah akan kembali." jawab sekretaris itu, Hendra keluar ruangan. Wajah-wajah seperti burung nasar memandang lekat melahap bayangan Hendra. Masuk pesan singkat di smartphone-nya: " Saya sedang bersama kontingen. Tolong kesini bawa nasi bungkus". Hendra bergegas meninggalkan gedung menuju parkir mobil.

Aku memegang kendali, "Kita menuju Cibubur, Bumi Perkemahan Pramuka....!"

Batinku: "Sekarang mestinya bukan masa jambore. Bisa jadi jambore Pramuka tingkat kabupaten" .

Hari ini Hendra memenuhi undangan pertemuan dengan Saeful, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan. Hendra yang kukenal sepuluh tahun lalu, kini berubah menjadi pengusaha sukses: mobil SUV berwarna avant garde bronze keluaran baru; menghuni sebuah rumah mentereng di kawasan Surga Estate. 

Dulu kami sesama pedagang di emperan pasar. Kedekatan kami dilandasi kecintaan yang sama kepada motor bebek C-70, yang terawat baik hingga kini. Sepeda-motor milik Hendra dicat kelir biru dan menjadi pajangan di ruang tamu. Punyaku berwarna merah cabe --sudah kusam karena sering berjemur-- dipakai hilir mudik untuk mengurus keperluan usaha.

Untuk itulah aku bertemu dengan Hendra, berharap akan ketularan kaya. Sebetulnya aku sudah bosan menjalani usaha yang begitu-begitu saja. Bagusnya, saat ini usahaku berpindah ke kios permanen, tidak di trotoar lagi. Saling bergantian dengan istri menunggu kios.

Tetapi aku ingin mengikuti jejak menuju ketenaran, yakni bagaimana menempatkan diri pada jajaran pengusaha besar di kota kecil ini? Sementara ini yang bisa aku lakukan adalah menyupiri Hendra. Sebentar ke kantor Pemda. Sebentar ke kantor Bank. Sebentar menemui rekanan dan banyak sekali yang dijumpai. Demikian sibuknya, sehingga sopir sebelumnya tidak sanggup bertahan lama.

Setelah keluar pintu tol, mobil memasuki area Bumi Perkemahan Cibubur. Suasana sangat lengang. Sedikitpun tidak tampak kegiatan kepramukaan. Kendaraan melaju ke tempat tersembunyi, di bawahnya banyak diparkir mobil keluaran terbaru. Hendra memasukkan sebundel uang seratus ribuan ke dalam amplop.

Jambore kontingen ikan! Ternyata ini tempat pemancingan yang luas. Terdapat tidak kurang dari 100 lapak, dengan sela diantara lapak hampir mencapai 3 meter. Kedi profesional mendampingi tiap pemancing: meracik umpan, memasang umpan pada kail, menyerok ikan kena pancing, melepas ikan dari mata kail, menempatkan ikan dalam keranjang kemudian segera membawanya ke tempat penimbangan. Pelayanan kedi nyaris mengambil alih semua pekerjaan. Pemancing hanya perlu duduk, melempar pancing kemudian menunggu umpan dimakan ikan sembari menyeruput kopi dan meniupkan asap rokok.

Hendra membawaku menuju lapak pemancingan nomor 3 di ujung kolam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x