Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Man on the street.

Warga negara biasa, yang rela membayar pajak meski tidak rela jika akumulasi pajak dicolong.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Pagar Pembatas

11 Oktober 2019   09:00 Diperbarui: 11 Oktober 2019   09:07 0 13 4 Mohon Tunggu...
Pagar Pembatas
Dokumen Pribadi

Suasana desa Mulyaharja seperti dilukiskan dalam imajinasi anak-anak: latar belakang langit cerah warna biru muda, hamparan sawah kehijauan,  segumpal awan seperti kapas, seperempat matahari muncul menyemburatkan garis-garis cahaya kuning dari balik dua gunung segitiga sebangun dan diseberang jalan yang meliuk terdapat sebuah --tidak dua buah rumah besar yang asri-- dengan pepohonan rimbun.

Rumah besar nan asri bercat sama masing-masing dimiliki oleh dua orang tuan tanah. Semenjak kecil mereka sepermainan, main bola bersama, bertengkar memperebutkan ikan wader di sungai,  makan dari dulang yang sama, tidur di ranjang yang sama kemudian setelah dewasa bertetangga hanya berbatas tanaman perdu. 

Dalam mengolah lahan yang luas mereka saling membantu dengan saling meminjamkan peralatan, bertukar sumberdaya manusia dan apapun yang sekiranya membuat pesat produksi pertanian kedua belah pihak.

Belakangan hubungan baik itu merenggang sebab masalah sepele: pemilihan Kepala Desa Mulyaharja. Adang mendukung calon kepala desa Encep sedangkan Ading menyokong calon kepala desa Atang. 

Perbedaan itu berkembang menjadi perselisihan besar, dan meledak menjadi silih adu argumen tanpa ujung pangkal diikuti dengan saling tidak tegur-sapa selama beberapa minggu.

Pagi belum terisi penuh ketika terdengar ketukan pada pintu rumah Adang. Ia membukanya dan melihat dua orang kekar membayang, satu berkemeja batik lusuh dan satunya mengenakan kaos partai yang sudah luntur sablonannya menggendong ransel hitam.

"Kami tukang, membutuhkan pekerjaan untuk beberapa hari. Mungkin bapak memerlukan perbaikan di sekitar sini. Bisakah bapak menolong kami?" kata lelaki gempal berkulit gosong sering terpanggang matahari. Temannya meletakkan tas ransel --tampak sebagian sambungannya ditisik-- di lantai.

"Baik" jawab Adang,  "Saya memang punya pekerjaan untuk kalian. Perhatikan parit di lahan sebelah sana. Itu tetangga saya, sebetulnya adik saya, minggu lalu ia menyuruh orang untuk menggali sepanjang halaman yang tadinya rerumputan dan rumpun tanaman menjadi tanggul panjang sehingga tercipta sungai kecil sebagai batas pemisah. Mungkin ia sudah tidak suka dengan saya, tetapi lihat saja, saya bisa berbuat lebih. Tengok setumpukan kayu disusun rapi itu? Saya mau Anda membangun pagar pembatas setinggi 2 meter, sehingga rumah itu lenyap dari pemandangan".

Tukang itu menjawab: "Saya mengerti. Kalau begitu tolong tunjukkan dimana titik saya mulai menggali agar saya bisa mengerjakannya sesuai permintaan bapak"

Sang Kakak segera pergi ke toko material membeli segala perlengkapan yang diperlukan, kemudian setelah membayar jasa pekerja ia segera pergi ke luar kota meliburkan diri.

Tukang dan kenek itu bekerja keras sepanjang hari mengukur, menggergaji dan memaku kayu. Menjelang petang petani itu datang ketika peluh para pekerja belum kering. Sang petani membelalakkan matanya, mulutnya menganga lebar........

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x