Mohon tunggu...
Buda Patrayasa
Buda Patrayasa Mohon Tunggu... -

Mahasiswa Program Studi S1 Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kajian Sosiologi Desain Meme Politik Jelang Pemilu 2019

5 Desember 2018   20:46 Diperbarui: 9 Desember 2018   13:10 1746
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hal ini pada akhirnya menjadi sebuah "blunder" yang menyebabkan munculnya kritik oleh beberapa pengamat serta lawan politiknya sebagai hal yang tak seharusnya keluar dari lisan seorang Presiden. 

Tak hanya sampai disitu, kata "sontoloyo" juga menjalar ke media meme sebagai bentuk respon dari masyarakat luas atas diksi kontroversial tersebut, bentuknya berupa gambar parodi yang berisi sindiran, satire, atau hal-hal lucu mudah dipahami oleh pengguna sosial. Meme sontoloyo ini muncul dari kedua kubu, baik dari pendukung Jokowi yang menujukan meme ini sebagai bentuk mengkritisi lawan politik Jokowi maupun kubu oposisi yang membalikan kata "sontoloyo" untuk mengkritisi Jokowi.

Kemunculan meme sendiri sering menimbulkan pro dan kontra tersendiri di kalangan masyarakat luas. Apalagi jika hal tersebut sudah menyangkut dengan Pemilu Presiden, yang notabenenya merupakan pemilu terbesar yang akan menentukan nasib bangsa Indonesia selama 5 tahun ke depan. 

Fenomena meme pada Pemilu Presiden menjadi contoh bahwa media sosial membawa dampak perubahan interaksi tidak hanya di level individu melainkan juga di level yang lebih besar. Visi misi hingga sejarah perjalanan karir masing-masing calon tidak lagi dipaparkan secara konvensional. Para pendukung masing-masing calon membangun kekuatan massanya melalui media sosial dan saling mempromosikan calonnya.

PEMBAHASAN

Akhir-akhir ini fenomena meme sudah marak tersebar di dunia maya dengan berbagai tujuan dalam penggunaannya. Pertama kali yang mempopulerkan kata meme adalah Richard Dawkins pada tahun 1976 dalam bukunya yang berjudul "The Selfish Gene" (1989: h. 368)  Kata meme berasal dari bahasa Yunani yaitu "mimeme" yang berarti satuan kecil dari sebuah budaya yang mirip seperti gen. Gen dapat berkembang biak dengan cara memperbanyak dirinya dari satu tubuh ke tubuh yang lain melalui sperma atau sel telur, sama seperti meme yang bisa berkembang biak dari satu pikiran ke pikiran yang lain melalui proses imitasi (peniruan). Meme dapat berkembang biak dari satu generasi ke generasi selanjutnya dan melalui satu populasi pada satu masa generasi. Inti dari meme sendiri mempunyai kegunaan untuk menyebarkan suatu gagasan tentang budaya  yang berkembang, dalam hal ini internet menjadi suatu budaya dalam sarana berkomunikasi. Internet sangat popular di semua kalangan usia bahkan sudah menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan manusia, terutama sarana hiburan, pendidikan, dan pekerjaan. Dalam hal ini, manusia terutama pengguna internet adalah orang yang menggandakan meme itu sendiri menjadi berkembang sampai saat ini.

Di Indonesia, meme sangat dekat dengan pengguna jejaring sosial dengan isi tentang keadaan atau kejadian di sekitar masyarakat dan dibuat menjadi sesuatu yang sifatnya hiburan. Jenis-jenis meme yang sedang popular yaitu : meme sindiran, meme percintaan, meme motivasi, meme, joke, dan meme politik. Meme dapat berisi kritik , ungkapan, dan sindiran terhadap sesuatu dan divisualkan melalui foto atau komik dengan tambahan teks di dalamnya sebagai penguat akan tujuan meme itu sendiri. Orang Indonesia lebih suka melakukan cara itu karena lebih menghibur dan lucu. Fenomena meme itu juga tak jarang menuai protes dari berbagai pihak yang dirugikan atau sekelompok orang yang peduli terhadap seseorang yang dijadikan bahan pembuatan meme.

Dampak dari penggunaan meme dalam media sosial sangat mempengaruhi perilaku seseorang dalam menyikapi keadaan sekitar. Semua orang dapat melihat meme dengan mengakses smartphone atau komputer yang terhubung dengan internet. Gambar yang dihasilkan dari meme dapat membuat seseorang tertawa karena lucu atau malah marah ketika melihat meme yang  berupa sindiran dan kritikan terhadap dirinya atau seseorang yang diidolakannya. Ketika seseorang tertarik melihat meme tersebut maka ia akan berupaya membagikan atau me-repost ulang ,sehingga akan mudah tersebar.

Untuk mengkaji meme politik sebagai bagian dari media massa, maka perlu diketahui juga adanya beberapa karakteristik penting dari komunikasi massa seperti yang disebutkan oleh John Thompson (1995: h. 26-28), diantaranya ; (1) "Terdiri dari metode teknis dan institusional produksi dan distribusi" - Ini terbukti sepanjang sejarah media massa, dari cetak hingga internet, yang mana masing-masing cocok untuk utilitas komersial. (2) Melibatkan "komodifikasi bentuk simbolik" - karena produksi bahan bergantung pada kemampuannya untuk memproduksi dan menjual sejumlah besar karya; karena stasiun radio bergantung pada waktu mereka dijual ke iklan, begitu juga surat kabar bergantung pada ruang mereka untuk alasan yang sama (3) "Konteks terpisah antara produksi dan penerimaan informasi". (4) Ini "mencapai mereka yang jauh 'dalam waktu dan ruang, dibandingkan dengan produsen". (5) "Distribusi informasi" - bentuk komunikasi "satu ke banyak", di mana produk diproduksi secara massal dan disebarkan ke sejumlah besar khalayak.

Lebih lanjut, Rosengren (1994) mengemukakan bahwa dampak dari media massa dapat dilihat dari dua faktor, yaitu skala target sasarannya (individu atau masyarakat luas) dan kecepatannya (cepat atau lambatnya, dalam hitungan jam atau melalui periode-periode sekian lamanya). Dikemukakan juga oleh Laswell (1948) sebuah model komunikasi sederhana yang lumrah digunakan dalam mengevaluasi suatu proses komunikasi, yang didalamnya terdapat lima elemen esensial sebagai berikut: (1) Who, merujuk pada komunikator atau sumber yang mengirimkan pesan. (2)  (Says) What, merujuk pada isi pesan. (3) (In Which) Channel, merujuk pada media atau saluran yang digunakan untuk mengirimkan pesan. (4) (To) Whom, merujuk pada penerima pesan. (5) (With What) Effects, merujuk pada efek media yang ditimbulkan.

Setelah itu, komponen visual dari sampel-sampel meme politik tersebut dapat dikaji makna konotatif dan denotatif yang terkandung di dalamnya. Piliang (1998: 17) menyebutkan bahwa makna konotatif meliputi aspek makna yang berkaitan dengan unsur psikis (emosi dan perasaan) serta nilai-nilai kebudayaan dan ideologi. lebih lanjut lagi disebutkan bahwa makna denotatif mengenai hubungan yang gamblang antara tanda dengan referensi atau realitas dalam pertandaan tahap denotatif.

  • Sampel meme pertama

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun