Encep Hanif Ahmad
Encep Hanif Ahmad wiraswasta

seorang manusia biasa yang malas menulis karena memang tak bisa menulis, saat ini berprofesi sebagai buruh

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Berbeda, Kok Maksa

23 Oktober 2011   02:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:37 254 0 2

“Pak, si Kimung gak ngikutin pesan Bapak, jadi ia gugur hak warisnya,” kata Komeng pada ayahnya.


“Siapa bilang aku gak ngikutin nasehat Bapak,” timpal Kimung gak terima.


“Sudah….. sudah….. sudah…… Ada apa sebenarnya ini, coba ceritakan,” kata Haji Imron ayah Komeng dan Kimung bijak.


“Begini pak, menurut bang Komeng, aku menjalankan usaha tidak sesuai dengan nasehat Bapak dua tahun lalu, padahal aku benar-benar melaksanakan nasehat itu, tidak ada yang ditambah ataupun dikurangi,” papar Kimung.


“Bohong dia pak! Dia sama sekali mengacuhkan nasehat Bapak,” timpal Komeng bersungut-sungut.


“Oh gitu tokh masalahnya…… kalian berdua masih ingat kan pesan Bapak?” tanya Haji Imron lembut.


”Masih dong pak,” jawab Kimung dan Komeng berbarengan.


“Bapak kan berpesan, dalam menjalankan usaha ada dua prinsip yang harus dipegang, yaitu pertama, kalau pergi atau pulang dalam aktivitas usaha tidak boleh kena sinar matahari, dan kedua, jangan pernah menagih utang kepada orang yang berutang kepadamu.” cerocos Komeng.


“Lalu….?” tanya Haji Imron.


“Saya menjalankan pesan Bapak itu, kalau saya pergi atau pulang ke tempat usaha, saya selalu berusaha untuk tidak kena sinar matahari dengan cara menggunakan kendaraan, walaupun biaya operasionalnya tinggi sehingga saya harus hutang ke sana sini, dan saya tidak pernah menagih pada siapa pun yang berutang sama saya, sehingga modal saya gak bisa berputar” lanjut Komeng.


“Oh…. lalu gimana hasilnya?” tanya Haji Imron.


”Ya, saya bangkrut pak, tapi si Kimung malah tambah maju, artinya dia gak ngikutin nasehat Bapak kan?” kata Komeng.


”Hmmm.... Kimung, bener kamu gak ngikutin nasehat Bapak?” tanya Haji Imron.


”Saya sepenuhnya mengikuti nasehat Bapak, makanya saya bisa maju,” jawab Kimung.


”Coba ceritakan gimana usahamu itu?” tanya Haji Imron sambil tersenyum.


”Bapak kan bilang, kalau pergi atau pulang dalam usaha gak boleh kena sinar matahari, maka saya selalu berangkat bada subuh, sebelum matahari memancarkan sinarnya, dan saya pulang lewat magrib, setelah matahari kembali bersembunyi di balik peraduannya,” jelas Kimung.


”Terus....?” tanya Haji Imron lagi.


”Bapak juga bilang bahwa saya tidak boleh menagih utang pada siapa pun yang berutang pada saya, maka saya tidak pernah meminjamkan pada siapa pun, sehingga saya tidak pernah menagih pada siapa pun,” lanjut Kimung.


Dengan tersenyum Haji Imron berkata, ”Nah kau dengar Komeng..... Kimung pun tetap melaksanakan pesanku, hanya saja, dia melihat dari perspektif yang berbeda dari perspektifmu, jadi kamu gak bisa menjustifikasi bahwa hanya kamulah yang telah menaatiku, hanya caramu yang benar, dan cara Kimung salah serta tidak patuh atau bahkan dianggap melecehkan dan mengabaikan nasehatku.”


Komeng pun terdiam.



* * *



Cerita Kimung adalah cerita kita yang hadir dalam keseharian. Kadangkala kita menjustifikasi pemahaman orang yang berbeda dengan kita sebagai suatu kesalahan, padahal belum tentu pemahaman atau keyakinan orang itu adalah salah. Bisa jadi justru pemahaman yang kita yakinilah yang salah.


Fenomena Ahmadiyah misalnya, sebagian kaum muslim menjustifikasi sebagai aliran sesat dan menyimpang dari ajaran Rasulullah Muhammad saw. Di sisi lain, Ahmadiyah pun sama sekali tidak merasa telah menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. Artinya, baik Ahmadiyah ataupun non Ahmadiyah sesungguhnya berpegang pada ajaran yang sama, yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw.


Alangkah naifnya kita, jika hanya karena perbedaan perspektif/penafsiran, kita menjadi kaum yang dzolim terhadap yang lain, padahal jelas-jelas dalam ajaran Islam, perbuatan dzolim itu merupakan perbuatan terlarang bahkan harus diperangi.