Mohon tunggu...
Bryan Eduardus
Bryan Eduardus Mohon Tunggu... Mahasiswa

Warga Negara yang Bersuara Lewat Kata-Kata! | https://telemisi.blogspot.co.id

Selanjutnya

Tutup

Politik

Fenomena Ahok Bak Proklamasi: Antara Golongan Tua (PDIP) & Muda (Teman Ahok)

16 Juli 2016   15:39 Diperbarui: 16 Juli 2016   18:58 1109 7 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fenomena Ahok Bak Proklamasi: Antara Golongan Tua (PDIP) & Muda (Teman Ahok)
Fenomena Ahok Ibarat Proklamasi: Diperebutkan Golongan Tua & Muda (megapolitan.kompas.com)

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 dengan dibacakan nya naskah Proklamasi oleh Ir. Sukarno dengan didampingi oleh Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56. Namun proses menuju pembacaan Proklamasi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia dimulai dengan dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di 2 kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 Agustus 1945 dan 9 Agustus 1945. Ini memulai tahapan baru bagi Indonesia menuju Proklamasi Kemerdekaan dan dimanfaatkan Indonesia untuk meraih kemerdekaan.

Anda semua sudah tidak asing kan dengan ilustrasi alur cerita diatas? Cerita diatas adalah sepenggal cerita yang menceritakan awal perjuangan bangsa Indonesia menuju tangga kemerdekaan. Mungkin anda sudah mempelajari pelajaran ini berkali-kali ketika anda masih bersekolah seperti saya juga. Tapi hal yang akan saya fokuskan hari ini bukanlah proses luasnya, namun saya akan kaitkan dengan kejadian politik saat ini yang sedang hangat-hangatnya yaitu mengenai kebimbangan Ahok untuk maju melalui partai politik yang saya ibaratkan golongan tua mengingat sudah lamanya mereka berada dalam percaturan politik serta golongan muda yang diwakili oleh Teman Ahok disini yang sudah bekerja keras dan berhasil meraih 1 juta KTP Jakarta walaupun dengan cibiran dari berbagai kalangan.

Saya mengkaitkan isu politik saat ini dengan salah satu proses penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia yaitu peristiwa Rengasdengklok. Ya, peristiwa ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari cerita proses Proklamasi Indonesia secara keseluruhan. Berikut ini adalah cuplikan peristiwa Rengasdengklok yang saya cuplik dari kolom Wikipedia.

Semangat para pejuang muda yang tergabung dalam gerakan bawah tanah antara lain Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana mulai terbakar dan kehilangan kesabaran sehingga mendorong mereka pada dini hari tanggal 16 Agustus 1945 untuk membawa Soekarno (bersama Fatmawati dan Guntur) serta Hatta, ke Rengasdengklok, yang kemudian terkenal sebagai peristiwa Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Di sini, mereka kembali meyakinkan Soekarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr. Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat hotel Des Indes tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia.

Dari cerita diatas kita tahu bahwa adanya perbedaan pendapat mengenai proklamasi Kemerdekaan Indonesia antara golongan tua dan golongan muda. Golongan muda terlihat lebih berapi-api, dan menginginkan proklamasi Kemerdekaan diproklamasikan secepatnya bahkan hingga melakukan tindakan yang cukup "ekstrim" hingga menculik Sukarno dan Hatta dan membawa mereka ke Rengasdengklok. Sedangkan Golongan Tua terlihat lebih santai, sabar, dan lebih mengandalkan forum yang dibuat oleh Jepang dan menunggu "janji-janji" Jepang yang akan memerdekakan Indonesia.

Lalu apa yang dilakukan oleh Golongan Tua? Apa mereka memaksakan kehendak mereka kepada Golongan Muda dan menolak mentah-mentah usulan dan pendapat dari Golongan Muda? Tidak. Mereka justru melakukan perundingan atau kompromi agar mencari jalan tengah mengenai proses Proklamasi sekaligus dengan tujuan membawa pulang Sukarno dan Hatta kembali ke Jakarta. Kemudian persetujuan pun ditemukan dan akhirnya Ahmad Soebarjo berangkat ke Rengasdengklok untuk menjemput Sukarno dan Hatta. Mereka pun berhasil meyakinkan Golongan Muda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sekaligus juga melakukan tindakan yaitu melangsungkan rapat mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Lalu apa kaitan Proklamasi yang sudah diceritakan dengan Ahok saat ini? Jika Proklamasi dulu diperebutkan oleh Golongan Tua dan Golongan Muda mengenai kapan Proklamasi harus diproklamirkan, maka Ahok saat ini juga "secara halus" sedang diperebutkan oleh PDIP yang diibaratkan sebagai Golongan Tua dengan Teman Ahok sebagai Golongan Muda. Buat saya sebagai masyarakat awam, hadirnya Golongan Muda ini merupakan sebuah fenomena yang luar biasa. Jika biasanya dalam pemilihan-pemilihan sebelumnya pemerintah justru yang lebih turun tangan untuk meningkatkan partisipasi pemilih muda yang belum terlalu paham politik, maka kali ini justru para pemuda yang memulai gerakan mendukung Ahok lewat jalur independen dan telah mengumpulkan hingga 1 juta KTP.

Namun apakah Ahok harus maju lewat jalur independen agar tidak mengecewakan para pendukungnya yang sudah mencapai 1 juta itu? Atau sebaiknya Ahok maju lewat jalur partai politik? Kita sebagai pemilih dan pendukung boleh berargumentasi memberikan pendapat kita tentang jalur yang sebaiknya digunakan Ahok namun tetap saja di akhir perjalanan nanti, kita harus menerima apakah Ahok akan maju melalui jalur independen atau partai politik. Masing-masing pilihan jalur tersebut sebenarnya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Jika Ahok memilih melalui lewat jalur independen dari dukungan 1 juta KTP Teman Ahok, pastinya para pendukung Ahok akan lebih senang karena mengganggap tidak akan ada "intervensi" dalam bentuk apapun. Namun harus diingat bahwa nanti setelah pemilu, Ahok pastinya juga membutuhkan dukungan parlemen dan dukungan dari Nasdem dan Hanura saja tidak cukup. Hal lain yang harus disadari juga adalah bahwa Teman Ahok ini sejatinya memiliki banyak sekali musuh yang tidak menyukai mereka bahkan dari kalangan partai politik sekalipun. Hal ini bisa dilihat dari "pengakuan" Mantan Teman Ahok yang sejatinya pernah atau masih menjadi anggota salah satu partai politik Indonesia.

Namun jika Ahok memilih untuk maju melalui jalur Partai Politik mungkin lewat PDIP atau koalisi partai pendukung lainnya, tentunya akan didukung dengan tim sukses yang lebih kuat dan berpengalaman yang tentunya bisa membantu kesuksesan dan kemenangan Ahok sebagai seorang calon gubernur. Namun di sisi lain, ada yang takut bahwa nantinya akan ada "intervensi-intervensi" dalam berbagai bentuk terhadap pemerintahan Ahok dari partai politik. Untuk saya, anda tidak perlu menakutkan hal tersebut. Anda harus percaya bahwa kredibilitas Ahok sangat kuat menghadapi segala bentuk "intervensi" tersebut. Presiden Jokowi yang dulu dikatakan "presiden boneka" saja sudah perlahan melepaskan "ikatan" dari berbagai pihak yang mendukungnya menjadi presiden dulu.

Peristiwa Rengasdengklok dan Proklamasi Indonesia telah memberikan contoh bahwa perbedaan itu bukan sesuatu yang dapat memisahkan kita tetapi sesuatu yang dapat semakin menguatkan kita. Jadilah seperti magnet, magnet itu kalau bertemu dengan kutub yang berbeda maka akan saling tarik-menarik sedangkan ketika bertemu kutub yang sama akan saling tolak-menolak. Dalam hubungan apapun pasti ada perbedaan, tapi perbedaan itu akan menguatkan kita jika kita bisa menggunakan perbedaan itu sebagai sesuatu yang melengkapi kehidupan kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x