Mohon tunggu...
Asep B
Asep B Mohon Tunggu... Asep Burhanudin mantan wartawan yang masih giat menulis

Ada bersahaja

Selanjutnya

Tutup

Wisata

(1) Menyusuri Dalamnya Papua, Papua Sungguh Eksotis

16 Mei 2016   18:19 Diperbarui: 16 Mei 2016   18:25 378 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
(1) Menyusuri Dalamnya Papua, Papua Sungguh Eksotis
Persiapan: Perjalanan jauh dan lama menjadikan saya harus membawa akomodasi untuk satu bulan di Papua (pribadi)

Papua Sungguh Eksotis

Jarum jam baru mengarah angka 7, pertanda watu masih pagi. Namun sorot mentari terasa menyengat dan memaksaku membuka jaket yang semalaman tak pernah lepas dari tubuh selama dalam pesawat.Waktu itu saya dan belasan rekan baru mendarat di Bandara Sentani, Jayapura, selepas penerbangan dari Jakarta. Letih, lelah seketika hilang manakala kaki mulai menapaki lapangan aspal menuju koridor tempat pengambilan bagasi.

Danau Sentani: Salah satu sudut Danau Sentani di Jayapura (Asep Burhanudin)
Danau Sentani: Salah satu sudut Danau Sentani di Jayapura (Asep Burhanudin)
Dalam jadwal, kami hanya memiliki 2 jam istirahat di Bandara ini untuk kembali melanjutkan penerbangan ke Wamena, sebuah Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya. Wamena, dalam catatan kami, merupakan satu dari beberapa kota penghubung  untuk menembus Pegunungan Tengah Papua di samping melalui Timika di Mimika. Di Pegunungan Tengah Papua, setidaknya terdapat 28 kota kabupaten, yang beberapa di antaranya belum bisa dilalui jalur darat. Satu satunya alat tarnsportasi andalan, ya jalur udara, dengan pesawat kecil berpenumpang 6-9 orang. Wamena sendiri mengandung arti Babi Enak (Wam=babi- Ea=enak).

Dalam kunjungan pertama kali ini, tujuan akkhir kami antara lain Kota Karubaga, Ibu Kota Tolikara.  Untuk bisa ke kota tujuan, sudah ada jalur darat, sekalipun belm seluruhnya mulus beraspal. Sementara dengan jalur udara, masih menggunaka pesawat berbadan kecil karena panjang  landasan masih dibawah 1000.m.

Banyak persiapan untuk  perjalanan ini, mulai sepekan sebelum berangkat kita diharuskan minum pil kina untuk mencegah malaria, juga pakaian/ jaket tebal, hingga makanan, termasuk obat-obatan pribadi. Kalau dihitung, mungkin perorangnya rata rata membawa dua atau tiga kerier berukuran rata- rata 30 L. Maklum, rencana satu bulan kita berada di Karuaga.Tak hanya itu, katanya, di sana untuk mendapatkan barang keperluan sangat sulit. Kalaupun ada harganya relatif mahal. Barang bawaan inilah yang kemudian kita harus berlama- lama di ruangan pengambilan bagasi Bandara Sentani.

Tak terasa, jadwaal penerbangan selanjutnya hanya tinggal hitungan belasan menit.  Bila dipotong waktu sarapan pagi pun tak ada waktu lagi untuk berleha-leha, sehingga kami pun memutuskan sarapan di lingkungan Bandara. Makanana di Jayapura relatif murah, tak ubahnya dengan harga di kota besar lainnya di Indonesia. Makanan favorit di kota ini berupa ikan nila, sejenis ikan darat yang berlimpah di Danau Sentani.

.

Jaya Pura, Ibu Kota Propinsi Papua sangat panas dibanding kota lainnya di Papua, mungkin sekalipun dengan Jakarta. Maklum selain terletak di pinggir laut, juga Danau Sentani yang nyaris mengurung sebagian kota Jayapura, yang memantulkan efek panas sinar matahari. Jayapura yang mengandung arti kota kemenangan, didirikan  oleh seorang tentara Belanda, Kapten Infanteri F.J.P Sachses, 7 Maret 1910 silam, dengan  nama Hollandia. Kota ini kala itu sebagai ibu kota salah satu distrik di Pulau Papua. Ketika tahun 1962 Jayapura sempat disebut Kota Baru, bahkan di tahun 1964 pernah diusulkan dengan nama Kota Sukarnopura.

Menuju Wanena

Sejak dari Jakarta, kita sudah diberi bekal tentang Papua, di antaranya serba tak jelas. Semua rencana bergantung cuaca yang sering berubah-ubah. Ternata benar juga, ketik usai boarding pass, yang dalam hitungan kita, tinggal naik pesawat, tiba- tiba penerbangan ditunda dengan alasan cuaca di Wamena tidak mendukung untuk pendaratan. Kabut, katanya, masih tebal dan suit untuk didarati. Apa boleh buat, kami pun memilih rebahan di bangku pajang ruang tunggu. Semilir AC sempat melelapkan istirahat saya yang semalaman berada dalam pesawat. Satu jam berlalu, akhirnya rombongan dipanggil untuk naik pesawat.

Bandara Wamena (Asep Burhanudin)
Bandara Wamena (Asep Burhanudin)
Mirip naik bis saat arus mudik lebaran, penumpang berebutmencari tempat duduk. Untungya sebagian besar barang kami sudah loadding lebih awal, menjadikan kami tak kesulitan berebut di antara mereka untuk mendapatkan tempat duduk. Pesawat yang kami tumpangi dioperasikan Trigana,  jenis propeller kapasitas 30 penumpang. Hanya seorang pramugari yang mengatur calon penumpang. Wajah cantik dengan balut seragam batik hijau saat itu terlihat  lusuh . Mungkin kecapaian tak ada yang membantu dia dalam pesawat yang terasa sangat panas ini. Saya mendapat posisi di pinggir paling depan, menjadikan leluasa mengabadikan hutan Papua yang baru kali ini saya lihat langsung.
Berdagang: Beberapa warga Wamena tengah menjajakan hasil taninya di depan Bandara Wamena (Asep Burhanudin)
Berdagang: Beberapa warga Wamena tengah menjajakan hasil taninya di depan Bandara Wamena (Asep Burhanudin)
Tak sedetik pun pandangan saya alihkan ketka pesawat mulai mengangkasa. Hamparan Danau Sentani nan jernih dari atas terlihat sangat kontras dengan gundukan rumah atap seng milik para nelayan berjejer rapat megikuti lekukan pantai danau. Selepas kemudian, hamparan hutan lebat yang terbelah kelokan Sungai Membramo, sungai terbesar di puau ini, sangat menantang untuk terus mengabadikan dari dalam pesawat. Saya hanya terganggu ketika pramugari yang lusuh tadi menyapa dan menyodorkan minuman teh dalam kotak untuk melepas dahaga.

Sekitar 30 menitan berada di udara, saya melihat dua bukit cukup tinggi, seolah menghadang pesawat. Selang beberapa saat kemudian pesawat terasa miring ke kiri. Tebing yang semula di depan berubah posisi  menjadi di sebelah kanan. Belum sadar apa yang dilihat, ternyata di kiri pun terdapat pemandangan yang sama, yakni tebing dengan pepohonan lebat. Untuk melihat ujungnya, terpaksa saya harus menongakkan kepala ke atas.  Rupanya pesawat yang kami tumpangi tengah mengiktuti alur tebing ini. Sempat miris, terlebih getaran dan lonjakan pesawat mulai terasa.

Rupanya penumpang di sebelah kami memahami perasaan was-was saya. Pria yang dari pakaian yang dikenakannya seragam tentara  berbisik, celah yang kita lalui merupakan pintu masuk Wamena, pertanda  sebentar lagi  mendarat. Benar, bisikan tentara yang mengaku Sersan Hartono  asal Solo yang sudah dua tahun berdinas di Wamena ini, terasa pesawat yang kami naiki menukik dan bless mendarat untuk kemudian berhenti di ujung landasan.

Dalam perbaikan: Beberapa ruas jalan menuju Tolikara saat itu masih dalam perbaikan (Asep burhanudin)
Dalam perbaikan: Beberapa ruas jalan menuju Tolikara saat itu masih dalam perbaikan (Asep burhanudin)
Udara pengap di pesawat berubah total menjadi udara dingin yang menyegarkan, ketika pintu pesawat terbuka. Terlebih udara semakin terasa segar manakala saya dan rombongan perlahan keluar dari pintu menapak landasan. Cukup berlama-lama saya berada di landasan, bahkan beberapa rekan mencoba mengabadikan dengan kamera tentengan masing masing. Sedikit narcis memang, namun itu dimaklum, terutama bagi mereka yang baru kali pertama menginjak tanah Papua, seperti saya ini. Sempat dibuat bingung ketika saya melihat bangunan Bandara. Atap seng berlantai tanah tanpa sekat bilik hanya pagar dari anyaman bambu yang memisahkan kedatangan dan keberangkatan. Amat sederhana sekali. Hanya bangunan wc saja yang terlihat masih bertembok. Menurut petugas Bandara, memang sudah beberapa bulan bangunan seperti ini dibuat setelah gedung utama Bandara habis terbakar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN