Mohon tunggu...
Brian Mahararta
Brian Mahararta Mohon Tunggu... Indonesia Controlling Community

penikmat kopi, pengagum wifi

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kejernihan Bernegara Melalui Kontemplasi SBY

10 September 2019   12:59 Diperbarui: 10 September 2019   17:31 0 1 0 Mohon Tunggu...
Kejernihan Bernegara Melalui Kontemplasi SBY
Gambar: Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) | sumber : Demokrat_TV (twitter)

Ada yang menarik dari perayaan hari ulang tahun Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab dipanggil Pak SBY yang genap berusia 70 tahun. SBY kembali tampil ke hadapan publik memberikan pandangan politiknya untuk berbagi pengalaman sekaligus mengingatkan lintas generasi dalam menjaga Indonesia bermartabat dan demokratis di masa mendatang melalui pidatonya yang disebut Kontemplasi.

Kontemplasi SBY

Jika ditinjau dari penamaan judul pidatonya, Kontemplasi menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) merupakan sebuah renungan dan sebagainya dengan kebulatan pikiran atau perhatian penuh. Dengan kata lain, SBY bermaksud menyampaikan curahan, pandangan, dan perenungan sebagai bentuk perhatiannya mengenai kondisi kebangsaan saat ini dan upaya yang perlu diperhatikan oleh generasi mendatang.

Dalam hal ini, SBY mengajak masyarakat untuk berhati-hati dalam berucap dan berbuat agar terhindar dari perpecahan antar bangsa. Untuk itu, ia mengingatkan agar perenungan yang dilakukan memerlukan kejernihan masyarakat dalam berpikir dan bertindak. Kurang lebih, perhatian SBY terhadap situasi dan kondisi bangsa terkini perlu menjadi landasan seluruh pemangku kebijakan untuk mengedepankan kemajuan Indonesia tentunya dengan semangat, tekad bulat dan jiwa persatuan.

Pidato Kontemplasi SBY, masih seperti biasanya, dengan pembawaan yang tenang SBY juga menyelipkan kondisi bangsa terkini dengan keadaan keluarga termasuk rasa dukanya yang tak terhingga atas kepergian dua sosok wanita yang berharga dalam hidupnya selama ini, Ibu dan Istrinya.

Namun, terlepas dari sisi "Familyman" nya itu, SBY seolah ingin menunjukkan bahwa keluarga adalah pondasi yang harus tetap terjaga harmonis. Masalah keluarga berarti juga masalah bangsa Indonesia. Harmonisnya keluarga juga berarti harmonisnya bangsa, begitu pula dengan sebaliknya. Citra seorang SBY yang sangat mempedulikan keluarganya dituangkannya dalam bentuk kepeduliannya terhadap bangsa dan negara.

Dalam kesempatan itu, SBY menyampaikan pengalaman-pengalamannya sebagai abdi negara agar apa yang sudah pernah dilakukan bisa menjadi pembelajaran bagi pemerintahan selanjutnya dan tentu generasi berikut yang mulai mengalami trend baru di era yang sudah bergeser akibat dampak dari globalisasi. Sehingga, besar harapan apa yang dia sampaikan dalam Kontemplasi itu bisa menjadi amunisi tambahan pemerintah mendatang.

Selanjutnya, SBY juga menyampaikan apa saja yang menjadi pokok pikirannya bagi bangsa saat ini. Mengingat kemajemukan bangsa harus tetap diperkuat sebagai modal besar untuk menjadi bangsa yang besar, bersatu dan bukan terpecah atau menimbulkan konflik. Adapun yang perlu dijadikan perenungan sebagai dasar tujuan berbangsa dan bernegara yang lebih baik itu, antara lain: Kasih Sayang (love), bukan kebencian (hatred), rasa persaudaraan (brotherhood), bukan membangun permusuhan (hostility).

Terbesit mengenai pandangan politiknya, SBY menunjukkan prinsip kenegaraannya sebagai seorang patriotik, dan bernegara secara demokratis. Kemajukan menjadi titik perhatian seorang SBY dalam mengelola bangsa. Sehingga, perlunya sebuah perlakuan yang harus terus menerus ditularkan oleh masyarakat kita dengan menyebar kasih sayang daripada kebencian. Kasih sayang akan menyatukan setiap anak bangsa untuk saling menguatkan rasa persaudaraan. Berbhinneka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan, masyarakat yang merdeka, bersatu, adil dan makmur.

Bukan menebar kebencian yang hanya menghasilkan permusuhan dan konflik antar saudara sebangsa dan setanah air. Konflik yang tak terhindarkan itulah yang justru membuat kegaduhan negara kita, namun menguntungkan negara lain dalam segala kompetisi apapun. Sehingga, rentan negara Indonesia terancam permasalahan perpecahan bangsa yang tentu akan merugikan masa depan generasi bangsa. Untuk itu, ia mengajak agar rasa persaudaraan lebih diutamakan dalam membangun komitmen berbangsa dan bernegara.

Demokrasi Generasi Berikutnya

Pandangan politiknya mengenai demokratisasi saat ini, SBY mengingatkan kembali sistem demokrasi multipartai yang digunakan oleh Indonesia. Maka, kemajemukan bangsa bisa terwakilkan melalui partai politik tersebut namun sebaiknya untuk bisa menjaga tensi politik agar tetap guyub, inklusif dan semakin teduh demi demokrasi yang sehat untuk bangsa dan negara.

Ia mengingatkan juga mengenai prinsip "One Person One Vote" dalam iklim demokrasi bukan satu-satunya keputusan yang harus diambil, namun juga ada semangat lain yang bisa digunakan untuk kebaikan bersama. Menurutnya, pengambilan keputusan juga dapat dicapai sebaik-baiknya berdasarkan azas permufakatan sesuai dengan visi dan misi bersama.

Bagaimanapun juga, watak masyarakat Pancasila yang menjunjung tinggi kedaulatan ditangan rakyat melalui mekanisme bermusyawarah sampai tercapainya permufakatan bersama. Memprioritaskan rasa perasaudaraan lebih tinggi dari permusuhan. Itu semua yang perlu direnungi oleh setiap generasi kita.

Dibalik kedukaan dalam sudut pandangan dan perasaan SBY, ada sebuah pesan lain yang lebih bijak dan optimistis untuk pemerintahan kedua Jokowi. SBY mennginginkan agar pemerintahan ke depan tidak sampai melakukan prinsip politik "Winner Take All", pemenang berhak seluruhnya. Hal ini bukanlah etika politik kultur bangsa kita, masyarakat Pancasilais.

Maka, perlunya semangat persaudaraan didasari kebijaksnaan seorang negarawan dalam merumuskan dan mengeluarkan kebijakan politik dan ekonomi yang mengedepankan kemajemukan bangsa. Sehingga, pemerintahan kedua Jokowi bisa bekerja untuk masa depan Indonesia yang berpihak keseluruhan masyarakat bukan demi kepentingan golongan, terutam elit partai politik.

Poin yang dapat diambil dari kontemplasi SBY ini kurang lebih perlunya kesadaran masyarakat kita untuk duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dalam menentukan nasib bangsa ke depan. Semua itu dapat terwujud dengan kejernihan bernegara.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x